“Lita
kamu ingin kemana? Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?”.
“Terserah aku tidak tahu, aku kan
tidak tahu apa-apa disini. Seperti yang kamu tahu aku datang kesini hanya
setahun sekali itupun paling lama satu minggu”.
“Kamu mau yang dekat apa yang jauh?”.
“Yang dekat aja ini udah malam”.
Jawabku. Dion melajukan motornya menyusuri jalan raya yang gelap dan sepi
menembus angin malam kota Pacitan yang sangat dingin. Setelah setengah jam Dion
menghentikan motornya di jalan raya pinggir pantai.
“Kamu pernah kesini sebelumnya?”.
Tanya Dion yang duduk di atas motornya.
“Pernah tapi waktu siang hari”.
“Lihatlah menurutmu itu apa yang di
depan kamu?”. Dion menunjuk laut yang terlihat sangat luas dengan lampu
bertebaran membuat laut terlihat seperti sebuah kota kecil.
“Laut tapi kenapa begitu banyak
lampu bertebaran di tengahnya?”. Tanyaku sambil mengagumi lampu yang di hiasai
dengan ombak bergulung-gulung.
“Itu lampu nelayan yang sedang
mencari ikan bukankah itu terlihat sangat indah?”.
“Menurutku juga begitu”. Kita
memandang laut dalam keheningan yang nyaman di sinari cahaya rembulan yang
sangat terang. Bintang-bintang menghiasi langit dengan indahnya.
“Kamu kedinginan?”, Tanya Dion
melihat aku mengigil di balik kaos lengan panjangku.
“Aku tidak menyangka akan sedingin
ini”.
“Jangan samakan disini dengan di
Jakarta. Disini udaranya sangat dingin saat malam tiba. Kemanapun kau pergi
harus mengenakan baju tebal. Ayo kita pulang daripada kau jatuh sakit ”. Dion
melepaskan jaket jeansnya dan memberikanya padaku.
“Tidak
kamu saja yang pakai. Kau kana da didepan anginya sangat kuat aku tidak
apa-apa”. Aku menyakinkan Dion dan dia memakai kembali jaketnya.
“Peluk aku kalau kau tidak ingin
beku kedinginan”. Dia menarik tanganku dan melingkarkanya mengelilingi
perutnya.
“Tidak aku tidak apa-apa”. Akun
menarik kembali tanganku.
“Kalau kau tidak menurut kita tidak pulang aku bertanggung jawab
mengantarkanmu pulang dengan keadaan yang sama seperti sebelum berangkat”.
“baiklah ayo kita jalan”. Akhirnya
aku menyerah memeluknya erat. Dion adalah tetanggaku sekaligus kakak kelasku
waktu SMP jadi kita sudah saling mengenal sangat lama.
“Hei lagi apa?”. Dion mengirim sms.
“Kamu sudah unya pacar belum di
jakarta?”.
“Belum memangnya kenapa?”. Jawabku
dengan perasaan yang entah karena apa membuatku sangat senang dia menanyakan
hal itu. “Apa dia menyukaiku”. Pikirku sambil tersenyum senang.
“Kamu mau gak aku kenalkan sama
temen aku?”. Balasnya. Hatiku jadi hancur berkeping-keping seperti tersambar
petir di siang blolong.
“Oh….”. jawabku kecewa. Hanya
kata-kata itu yang muncul di kepalaku.
“Nanti malam kita jalan ya aku ajak
kamu ke pasar malam. Kamu belum pernah kan?”.
“Sudah pernah di Jakarta”.
“Di Jakarta dan di sini itu berbeda
kamu siap-siap ya setengah jam lagi aku jemput ke rumahmu sekalian pamit sama
orang tuamu”.
“Oke”. Balasku seperti yang dia
katakana setengah jam kemudian dia sudah muncul di rumahku dengan pakaian yang
cukup hangat. Setelah berpamitan dengan orang tuaku kita berangkat ke pasar
malam yanh jaraknya sangat jauh dari rumah. Kali ini aku memakai pakaian yang
sangat hangat lengkap dengan syal dan sepatu cat tinggi.
“Kamu tunggu di sini sebentar ya aku
akan segera kembali”. Setelah sampai Dion mengajakku ke sebuah kios yang
menjual makanan dan berbagai minuman hangat.
“Oke”. Aku mengangguk sambil
tersenyum. Sambil menunggu Dion kembali aku memesan coklat hangat.
“Bersama pacar dek…?”. Tanya penjaga
kios tersebut ramah.
“Bukan dia abang saya”. Jawabku
tidak kalah ramah. Tradisi di Pacitan kita harus saling sapa meskipun kita
tidak saling mengenal satu sama lain. Tak lama kemudian Dion sudah kembali
dengan seorang temanya.
“Lita ini temen aku yang tadi aku
bicarakan namanya rizky. Rizky ini teman ku yang dari Jakarta dia liburan di
sini untuk beberapa hari”. Dion memperkenalkan kami berdua. Kami berjabat
tangan dan saling sapa.
“Sudah berapa lama kau tinggal di
Jakarta?”. Tanya Rizky.
“Kurang lebih Sembilan tahun”. Jawabku
ramah sambil menyesap coklat panasku yang sudah berubah jadi hangat.
“Lama sekali apa kau tidak bosan
disana kan panas dan macet lebih enak di sini dingin”.
“Memang tapi di sini cepat bosan
selain itu mau kerja apa aku disni?”.
“Iya juga sih, kalau sudah terbiasa
hidup di kota tidak akan betah tinggal di sini yang sepi dan jauh dari tempat
hiburan. Kapan kamu balik ke Jakarta?”.
“Minggu depan?”.
“Sudah kelliling kota Pacitan sampai
rata?”.
“Belum, aku tidak berani pergi
sendiri selain itu aku tidak begitu mengenal kota ini”.
“Memangnya Dion tidak mengajakmu?”.
Rizky Menoleh Dion yang duduk di sebelahnya yang sedang menikmati roti bakar
sembari ngobrol dengan penjualnya. Aku hanya mengangkat pundakku sebagai
jawaban. “Mau aku temani?”. Tanya Rizky padaku.
“Kalau tidak merepotkanmu dengan
senang hati aku menerima tawaranmu”. Aku tersenyum senang.
“Dion boleh aku ajak Lita
jalan-jalan?”. Rizky minta izin Pada Dion.
“Tapi awas kalau kau macam-macam
padanya. Dia jadi tanggung jawabku sekarang”. Jawab Dion membuat hatiku
berdebar senang mendengar jawabanya yang sedikit mengancam. “Lita sudah seperti
adikku sendiri kalau sampai kau macam-macam kau akan tanggung akibatnya”.
Lanjut Dion membuatku merasa di hempaskan ke bumi setelah melayang tinggi.
“Dia menganggapmu sebagai adiknya
kau senang?”. Tanya Rizky yang kembali fokus padaku.
“Aku memang sangat ingin memiliki
seorang kakak laki-laki”. Aku memaksakan untuk tersenyum untuk menyembunyikan
perasaan kecewaku.
“Sudah malam ayo kita pulang nanti orang
tuamu mencarimu”. Dion berdiri dari tempat duduknya.
“Baru jam delapan nanti aja jam
Sembilan”. Rizky sedikit memohon pada Dion.
“Aku bertanggung jawab atas dirinya
kalau terlambat mengantarnya pulang bisa di marahi orang tuanya”.
“Dion benar aku harus pulang sampai
ketemu lagi”.
“Ya sudah nanti aku telpon ya kalau
aku sudah ada waktu kita jalan-jalan ke kota”. Rizky memasang senyum manisnya.
“Baiklah”. Aku membalas lambaian
tanganya. Dion menggandeng tanganku menembus kerumunan orang-orang yang sedang
belanja. Dia tidak melepaskan tanganku sampai tiba di tempat parkir.
“Bagaimana kau suka denganya?”. Dion
menyerahkan helm padaku.
“Dia orangnya asik selain itu juga
ramah”.
“Bagus dia temanku yang aku bilang
akan mengenalkanya padamu. Kalau kau menyuakinya itu bagus”. Kata dion
terdengar sedikit aneh. Terdengar sedikit kesal bagiku.
“Kenapa kau mengajaku buru-buru
pulang aku kan belum kemana-mana kau juga tidak mengajaku mengelilingi pasar
malam”. Protesku.
“Jangan khawatir kau akan segera
bertemu lagi denganya”. Dion sudah siap di atas motornya. “Pegangan yang erat
kalau tidak ingin jatuh”. Lanjut Dion setelah aku duduk di belakangnya. Dion
menjalankan motornya sedikit ngebut tidak seperti biasanya yang sangat
berhati-hati. Dia juga hanya diam focus kedepan tanpa berkata apapun sampai
kita tiba di rumah.
“Maafkan atas sikapku”. Kata Dion
menuduk seperti sedang memikirkn sesuatu. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi
seperti ini”.
“Tidak apa-apa sekali-kali kau juga
boleh bersikap seperti ini. Kau tidak harus selalu bertindak sebagai kakak yang
sempurna bagiku. Bagaimanapun juga kita tidak ada ikatan darah jadi jangan
terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna”.
“Aku mengerti aku hanya ingin bisa
menjadi orang yang bisa kau andalkan karena aku menyayangimu seperti adiku
sendiri”.
“Sampai kapan kau akan menganggapku
adik?”. Tiba-tiba aku merasa kesal mendengar dia selalu berkata bahwa aku
adalah adik baginya. “Aku tidak ingin menjadi adikmu”. Teriaku padanya lalu
meninggalkanya yang masih berdiri mematung karena terkejut. Ada perasaan
menyesal dalam diriku telah bersikap seperti itu padanya tapi disisi lain aku
juga merasa lega.
“Kau menyukainya kan?”. Tanya Rizky
padaku tiba-tiba. Kami duduk di pinggir pantai menikmati deburan ombak ganas
Pantai klayar. Dia mengajaku mengelilingi kota Pacitan seperti yang sudah ia
janjikan.
“Apa?”. Tanyaku minta penjelasan
dengan maksud perkataanya.
“Dion kau menyukainya kan?”.
Ulangnya.
“Tidak kami sudah seperti saudara
sendiri kau juga tahu dia menganggapku sebagai adiknya”.
“Hanya dengan melihatnya saja aku
sudah tahu kalian saling menyukai. Aku sudah lama mengenal Dion. Aku tidak
pernah melihatnya bersikap seperti waktu itu. Dia cenderung cuek kalau sama
perempuan tapi tidak denganmu. Dian sangat perhatian dan menyanyangimu”. Dion
menerawang memandang ombak ang terus mengamuk di depanya.
“Itu karena kami sudah mengenal
sangat lama dan tentu saja seorang kakak harus bersikap seperti itu”.
“Kenapa kau tidak terus terang saja
mengenai perasaanmu padanya?”.
“Perasaan? Aku tidak mengerti apa
yang kau katakana”. Aku menatap risky serius berharap dia menjelaskan apa yang
dia maksud.
“Apa kau mau menjadi pacarku?”.
Tanyanya tiba-tiba. Dia juga menatapku serius.
“Maaf”. Hanya kata-kata itu yang mampu
keluar dari mulutku. Aku mengalihkan pandanganku darinya.
.
“Aku benar-benar minta maaf”. Kataku
tulus.
“Sudah aku bilang jangan di
pikirkan”. Rizky mengacak-acak rambutku sambil tersenyum. “Ayo aku ajak kau ke
tempatk yang tidak akan pernah kau kau lihat di Jakarta”. Rizky menariku
berdiri dan menuntunku ke tempat parkir. Kita segera meninggalkan pantai yang
menurutku masih saying untuk di tinggalkanya .
“Bagaimana menurutmu? Kau
menyukainya?”. Rizky menyunggingkan senyum kepuasanya.
“Perfect”. Kataku mengagumi
pemandangan di sekelilingku yang begitu menakjubkan.
“Ini Goa Gong pasti kau sudah pernah
mendengarnya”.
“Pernah tapi ini pertama kalinya aku
datang kesini”.
“Disini masih banyak lagi Goa yang
lebih indah dari ini kau mau melihatnya?”.
“Sangat, tapi aku rasa kalau hari
ini tidak bisa sekarng saja sudah sore dan aku masih belum ingin pergi dari
sini”.
“Baiklah lain kali aku akan
mengajakmu lagi kalau kau mau tinggal meneleponku saja”.
“Pasti”. Jawabku. Kami berjalan menjelajahi
dalam Goa menikmati keindahan batu-batu bentukan alam dan juga Kristal yang
begitu mempesona.
“Lita aku di depan rumahmu”. Dion
mengirimiku sms tanpa membalasnya aku langsung keluar menemuinya.
“Ada apa?”. Tanyaku malas.
“Aku dengar katanya hari ini kau
jalan ke kota Bersama Rizky”.
“Iya. Rizky yang memberitahumu?”.
Ada perasaan kesal pada Rizky menyelubungi hatiku. Aku sudah memintanya untuk
merahasiankanya dari Dion.
“Tidak penting siapa yng
membertitahuku. Kau bersenang-senang?”.
“Tentu saja, Rizky mengajaku
mengunjungi banyak tempat”.
“Aku tidak suka kau pergi
bersamanya”. Kata Dion sambil menunduk memandangi kakinya.
“Apa maksudmu? Kau yang
mengenalkanya padaku dan sekarang kau bilang tidak suka melihatku bersamanya.
Kenapa kau bersikap seperti ini padaku. Memangnya apa yang sudah aku lakukan
padamu kenapa kau mempermainkan perasaanku?”. Teriakku kesal.
“Maafkan kan aku”. Dion meraih
tanganku dan menggenggamnya.
“Pulanglah aku ingin sendiri aku
juga sangat lelah”. Aku berdiri hendak masuk rumah.
“Aku menyukaimu maafkan aku karena
baru menyadari perasaanku. Aku tidak ingin melihatmu bersama pria lain itu”.
“Kau selalu bilang aku adikmu
bagaimana aku bisa percaya kata-katamu”.
“Aku kira perasaanku selama ini
hanya perasaan sayang seorang kakak pada adiknya sampai kau pergi denganya.
Berpisah denganmu beberapa hari ini membuatku sadar kalau kau tidak hanya
sekedar adik bagiku. Lita maafkan aku mulai sekarang aku tidak bisa menjadi
kakakmu lagi karena aku mencintaimu dan menyayangiku sebagai seorang wanita”.
Kata Dion sepenuh hati membuat hatiku luluh seketika.
“Kau yakin dengan apa yang kau
katakan itu benar bukan hanya karena emosi sesaat”.
“Sangat yakin karena itu akan aku
lakukan apapun supaya kau mempercayaiku dan juga menganggapku seorang pria
bukan seorang kakak”.
“Kau sudah terlambat”.
“Benarkah? Kalian sudah jadian apa
kau bahagia bersamanya? Apapun keputusanmu aku akan mendukungmu sekalipun kau
bersamanya karena kebahagiaanmu adalah yang utama bagiku”. Dion Terdengar
kecewa.
“Kau terlambat untuk meyakinkanku
karena sudah lama aku menganggapmu sebagai seorang pria bukan seorang kakak”.
Kataku malu-malu.
“Benarkah?”. Tanya Dion tersenyum
Lebar. “Terima kasih Lita aku pasti tidak akan pernah mengecewakanmu”. Dion
memeluku erat.