Friday, October 9, 2015

SADARI PERASAANKU

              “Lita kamu ingin kemana? Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?”.
            “Terserah aku tidak tahu, aku kan tidak tahu apa-apa disini. Seperti yang kamu tahu aku datang kesini hanya setahun sekali itupun paling lama satu minggu”.
            “Kamu mau yang dekat apa yang jauh?”.
         “Yang dekat aja ini udah malam”. Jawabku. Dion melajukan motornya menyusuri jalan raya yang gelap dan sepi menembus angin malam kota Pacitan yang sangat dingin. Setelah setengah jam Dion menghentikan motornya di jalan raya pinggir pantai.
            “Kamu pernah kesini sebelumnya?”. Tanya Dion yang duduk di atas motornya.
            “Pernah tapi waktu siang hari”.
            “Lihatlah menurutmu itu apa yang di depan kamu?”. Dion menunjuk laut yang terlihat sangat luas dengan lampu bertebaran membuat laut terlihat seperti sebuah kota kecil.
            “Laut tapi kenapa begitu banyak lampu bertebaran di tengahnya?”. Tanyaku sambil mengagumi lampu yang di hiasai dengan ombak bergulung-gulung.
            “Itu lampu nelayan yang sedang mencari ikan bukankah itu terlihat sangat indah?”.
            “Menurutku juga begitu”. Kita memandang laut dalam keheningan yang nyaman di sinari cahaya rembulan yang sangat terang. Bintang-bintang menghiasi langit dengan indahnya.
            “Kamu kedinginan?”, Tanya Dion melihat aku mengigil di balik kaos lengan panjangku.
            “Aku tidak menyangka akan sedingin ini”.
            “Jangan samakan disini dengan di Jakarta. Disini udaranya sangat dingin saat malam tiba. Kemanapun kau pergi harus mengenakan baju tebal. Ayo kita pulang daripada kau jatuh sakit ”. Dion melepaskan jaket jeansnya dan memberikanya padaku.
                “Tidak kamu saja yang pakai. Kau kana da didepan anginya sangat kuat aku tidak apa-apa”. Aku menyakinkan Dion dan dia memakai kembali jaketnya.
            “Peluk aku kalau kau tidak ingin beku kedinginan”. Dia menarik tanganku dan melingkarkanya mengelilingi perutnya.
            “Tidak aku tidak apa-apa”. Akun menarik kembali tanganku.
            “Kalau kau tidak menurut  kita tidak pulang aku bertanggung jawab mengantarkanmu pulang dengan keadaan yang sama seperti sebelum berangkat”.
            “baiklah ayo kita jalan”. Akhirnya aku menyerah memeluknya erat. Dion adalah tetanggaku sekaligus kakak kelasku waktu SMP jadi kita sudah saling mengenal sangat lama.
            “Hei lagi apa?”. Dion mengirim sms.
            “Kamu sudah unya pacar belum di jakarta?”.
            “Belum memangnya kenapa?”. Jawabku dengan perasaan yang entah karena apa membuatku sangat senang dia menanyakan hal itu. “Apa dia menyukaiku”. Pikirku sambil tersenyum senang.
            “Kamu mau gak aku kenalkan sama temen aku?”. Balasnya. Hatiku jadi hancur berkeping-keping seperti tersambar petir di siang blolong.
            “Oh….”. jawabku kecewa. Hanya kata-kata itu yang muncul di kepalaku.
            “Nanti malam kita jalan ya aku ajak kamu ke pasar malam. Kamu belum pernah kan?”.
            “Sudah pernah di Jakarta”.
            “Di Jakarta dan di sini itu berbeda kamu siap-siap ya setengah jam lagi aku jemput ke rumahmu sekalian pamit sama orang tuamu”.
            “Oke”. Balasku seperti yang dia katakana setengah jam kemudian dia sudah muncul di rumahku dengan pakaian yang cukup hangat. Setelah berpamitan dengan orang tuaku kita berangkat ke pasar malam yanh jaraknya sangat jauh dari rumah. Kali ini aku memakai pakaian yang sangat hangat lengkap dengan syal dan sepatu cat tinggi.
            “Kamu tunggu di sini sebentar ya aku akan segera kembali”. Setelah sampai Dion mengajakku ke sebuah kios yang menjual makanan dan berbagai minuman hangat.
            “Oke”. Aku mengangguk sambil tersenyum. Sambil menunggu Dion kembali aku memesan coklat hangat.
            “Bersama pacar dek…?”. Tanya penjaga kios tersebut ramah.
            “Bukan dia abang saya”. Jawabku tidak kalah ramah. Tradisi di Pacitan kita harus saling sapa meskipun kita tidak saling mengenal satu sama lain. Tak lama kemudian Dion sudah kembali dengan seorang temanya.
            “Lita ini temen aku yang tadi aku bicarakan namanya rizky. Rizky ini teman ku yang dari Jakarta dia liburan di sini untuk beberapa hari”. Dion memperkenalkan kami berdua. Kami berjabat tangan dan saling sapa.
            “Sudah berapa lama kau tinggal di Jakarta?”. Tanya Rizky.
            “Kurang lebih Sembilan tahun”. Jawabku ramah sambil menyesap coklat panasku yang sudah berubah jadi hangat.
            “Lama sekali apa kau tidak bosan disana kan panas dan macet lebih enak di sini dingin”.
            “Memang tapi di sini cepat bosan selain itu mau kerja apa aku disni?”.
            “Iya juga sih, kalau sudah terbiasa hidup di kota tidak akan betah tinggal di sini yang sepi dan jauh dari tempat hiburan. Kapan kamu balik ke Jakarta?”.
            “Minggu depan?”.
            “Sudah kelliling kota Pacitan sampai rata?”.
            “Belum, aku tidak berani pergi sendiri selain itu aku tidak begitu mengenal kota ini”.
            “Memangnya Dion tidak mengajakmu?”. Rizky Menoleh Dion yang duduk di sebelahnya yang sedang menikmati roti bakar sembari ngobrol dengan penjualnya. Aku hanya mengangkat pundakku sebagai jawaban. “Mau aku temani?”. Tanya Rizky padaku.
            “Kalau tidak merepotkanmu dengan senang hati aku menerima tawaranmu”. Aku tersenyum senang.
            “Dion boleh aku ajak Lita jalan-jalan?”. Rizky minta izin Pada Dion.
            “Tapi awas kalau kau macam-macam padanya. Dia jadi tanggung jawabku sekarang”. Jawab Dion membuat hatiku berdebar senang mendengar jawabanya yang sedikit mengancam. “Lita sudah seperti adikku sendiri kalau sampai kau macam-macam kau akan tanggung akibatnya”. Lanjut Dion membuatku merasa di hempaskan ke bumi setelah melayang tinggi.
            “Dia menganggapmu sebagai adiknya kau senang?”. Tanya Rizky yang kembali fokus padaku.
            “Aku memang sangat ingin memiliki seorang kakak laki-laki”. Aku memaksakan untuk tersenyum untuk menyembunyikan perasaan kecewaku.
            “Sudah malam ayo kita pulang nanti orang tuamu mencarimu”. Dion berdiri dari tempat duduknya.
            “Baru jam delapan nanti aja jam Sembilan”. Rizky sedikit memohon pada Dion.
            “Aku bertanggung jawab atas dirinya kalau terlambat mengantarnya pulang bisa di marahi orang tuanya”.
            “Dion benar aku harus pulang sampai ketemu lagi”.
            “Ya sudah nanti aku telpon ya kalau aku sudah ada waktu kita jalan-jalan ke kota”. Rizky memasang senyum manisnya.
            “Baiklah”. Aku membalas lambaian tanganya. Dion menggandeng tanganku menembus kerumunan orang-orang yang sedang belanja. Dia tidak melepaskan tanganku sampai tiba di tempat parkir.
            “Bagaimana kau suka denganya?”. Dion menyerahkan helm padaku.
            “Dia orangnya asik selain itu juga ramah”.
            “Bagus dia temanku yang aku bilang akan mengenalkanya padamu. Kalau kau menyuakinya itu bagus”. Kata dion terdengar sedikit aneh. Terdengar sedikit kesal bagiku.
            “Kenapa kau mengajaku buru-buru pulang aku kan belum kemana-mana kau juga tidak mengajaku mengelilingi pasar malam”. Protesku.
            “Jangan khawatir kau akan segera bertemu lagi denganya”. Dion sudah siap di atas motornya. “Pegangan yang erat kalau tidak ingin jatuh”. Lanjut Dion setelah aku duduk di belakangnya. Dion menjalankan motornya sedikit ngebut tidak seperti biasanya yang sangat berhati-hati. Dia juga hanya diam focus kedepan tanpa berkata apapun sampai kita tiba di rumah.
            “Maafkan atas sikapku”. Kata Dion menuduk seperti sedang memikirkn sesuatu. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini”.
            “Tidak apa-apa sekali-kali kau juga boleh bersikap seperti ini. Kau tidak harus selalu bertindak sebagai kakak yang sempurna bagiku. Bagaimanapun juga kita tidak ada ikatan darah jadi jangan terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna”.
            “Aku mengerti aku hanya ingin bisa menjadi orang yang bisa kau andalkan karena aku menyayangimu seperti adiku sendiri”.
            “Sampai kapan kau akan menganggapku adik?”. Tiba-tiba aku merasa kesal mendengar dia selalu berkata bahwa aku adalah adik baginya. “Aku tidak ingin menjadi adikmu”. Teriaku padanya lalu meninggalkanya yang masih berdiri mematung karena terkejut. Ada perasaan menyesal dalam diriku telah bersikap seperti itu padanya tapi disisi lain aku juga merasa lega.
            “Kau menyukainya kan?”. Tanya Rizky padaku tiba-tiba. Kami duduk di pinggir pantai menikmati deburan ombak ganas Pantai klayar. Dia mengajaku mengelilingi kota Pacitan seperti yang sudah ia janjikan.
            “Apa?”. Tanyaku minta penjelasan dengan maksud perkataanya.
            “Dion kau menyukainya kan?”. Ulangnya.
            “Tidak kami sudah seperti saudara sendiri kau juga tahu dia menganggapku sebagai adiknya”.
            “Hanya dengan melihatnya saja aku sudah tahu kalian saling menyukai. Aku sudah lama mengenal Dion. Aku tidak pernah melihatnya bersikap seperti waktu itu. Dia cenderung cuek kalau sama perempuan tapi tidak denganmu. Dian sangat perhatian dan menyanyangimu”. Dion menerawang memandang ombak ang terus mengamuk di depanya.
            “Itu karena kami sudah mengenal sangat lama dan tentu saja seorang kakak harus bersikap seperti itu”.
            “Kenapa kau tidak terus terang saja mengenai perasaanmu padanya?”.
            “Perasaan? Aku tidak mengerti apa yang kau katakana”. Aku menatap risky serius berharap dia menjelaskan apa yang dia maksud.
            “Apa kau mau menjadi pacarku?”. Tanyanya tiba-tiba. Dia juga menatapku serius.
            “Maaf”. Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Aku mengalihkan pandanganku darinya.
    .
            “Aku benar-benar minta maaf”. Kataku tulus.
            “Sudah aku bilang jangan di pikirkan”. Rizky mengacak-acak rambutku sambil tersenyum. “Ayo aku ajak kau ke tempatk yang tidak akan pernah kau kau lihat di Jakarta”. Rizky menariku berdiri dan menuntunku ke tempat parkir. Kita segera meninggalkan pantai yang menurutku masih saying untuk di tinggalkanya .
            “Bagaimana menurutmu? Kau menyukainya?”. Rizky menyunggingkan senyum kepuasanya.
            “Perfect”. Kataku mengagumi pemandangan di sekelilingku yang begitu menakjubkan.
            “Ini Goa Gong pasti kau sudah pernah mendengarnya”.
            “Pernah tapi ini pertama kalinya aku datang kesini”.
            “Disini masih banyak lagi Goa yang lebih indah dari ini kau mau melihatnya?”.
            “Sangat, tapi aku rasa kalau hari ini tidak bisa sekarng saja sudah sore dan aku masih belum ingin pergi dari sini”.
            “Baiklah lain kali aku akan mengajakmu lagi kalau kau mau tinggal meneleponku saja”.
            “Pasti”. Jawabku. Kami berjalan menjelajahi dalam Goa menikmati keindahan batu-batu bentukan alam dan juga Kristal yang begitu mempesona.
            “Lita aku di depan rumahmu”. Dion mengirimiku sms tanpa membalasnya aku langsung keluar menemuinya.
            “Ada apa?”. Tanyaku malas.
            “Aku dengar katanya hari ini kau jalan ke kota Bersama Rizky”.
            “Iya. Rizky yang memberitahumu?”. Ada perasaan kesal pada Rizky menyelubungi hatiku. Aku sudah memintanya untuk merahasiankanya dari Dion.
            “Tidak penting siapa yng membertitahuku. Kau bersenang-senang?”.
            “Tentu saja, Rizky mengajaku mengunjungi banyak tempat”.
            “Aku tidak suka kau pergi bersamanya”. Kata Dion sambil menunduk memandangi kakinya.
            “Apa maksudmu? Kau yang mengenalkanya padaku dan sekarang kau bilang tidak suka melihatku bersamanya. Kenapa kau bersikap seperti ini padaku. Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu kenapa kau mempermainkan perasaanku?”. Teriakku kesal.
            “Maafkan kan aku”. Dion meraih tanganku dan menggenggamnya.
            “Pulanglah aku ingin sendiri aku juga sangat lelah”. Aku berdiri hendak masuk rumah.
            “Aku menyukaimu maafkan aku karena baru menyadari perasaanku. Aku tidak ingin melihatmu bersama pria lain itu”.
            “Kau selalu bilang aku adikmu bagaimana aku bisa percaya kata-katamu”.
            “Aku kira perasaanku selama ini hanya perasaan sayang seorang kakak pada adiknya sampai kau pergi denganya. Berpisah denganmu beberapa hari ini membuatku sadar kalau kau tidak hanya sekedar adik bagiku. Lita maafkan aku mulai sekarang aku tidak bisa menjadi kakakmu lagi karena aku mencintaimu dan menyayangiku sebagai seorang wanita”. Kata Dion sepenuh hati membuat hatiku luluh seketika.
            “Kau yakin dengan apa yang kau katakan itu benar bukan hanya karena emosi sesaat”.
            “Sangat yakin karena itu akan aku lakukan apapun supaya kau mempercayaiku dan juga menganggapku seorang pria bukan seorang kakak”.
            “Kau sudah terlambat”.
            “Benarkah? Kalian sudah jadian apa kau bahagia bersamanya? Apapun keputusanmu aku akan mendukungmu sekalipun kau bersamanya karena kebahagiaanmu adalah yang utama bagiku”. Dion Terdengar kecewa.
            “Kau terlambat untuk meyakinkanku karena sudah lama aku menganggapmu sebagai seorang pria bukan seorang kakak”. Kataku malu-malu.

            “Benarkah?”. Tanya Dion tersenyum Lebar. “Terima kasih Lita aku pasti tidak akan pernah mengecewakanmu”. Dion memeluku erat.