PART 1
“Kenapa
mencintaimu begitu menyakitkan? Mungkinkah karena aku terlalu mencintaimu
sementara kau mempermainkanku? Setiap hari, setiap waktu, setiap jam, menit,
detik aku selalu merindukanmu. Apa kau tahu rasanya merindukan seseorang yang
tidak bisa kau lihat?. Aku membutuhkanmu disaat-saat tersulitku. Tapi kamu
dimana. Kenapa malah orang lain yang selalu ada di sisiku dan menyemangatiku?
Aku hanya menginginkanmu bukan orang lain. Ingin sekali aku melepasmu tapi aku
terlalu takut melakukanya”. Cairan panas mulai mengalir deras membasahi
wajahku.
“Kenapa
kau tidak pernah mempercayaiku. Apa yang harus aku lakukan supaya kau merasa
yakin kalau aku benar-benar mencintaimu”. Bukanya merasa bersalah Altan justru
tersulut emosinya.
Hubungan
kami memang masih seumur jagung. Hampir hanya ada pertengkaran setiap kali kita bicara. Entah karena tanggal lahir
kita yang sama atau karena sifat kita yang sama-sama egois.
“Lalu
dimana saat aku sangat membutuhkanmu di sampingku? Kenapa kau selalu tiba-tiba
menghilang dan tiba-tiba datang tanpa aku minta. Kamu pikir aku terminal
tempatmu singgah saat kau menunggu bus datang?. Aku juga punya perasaan. Aku
ingin kau menganggapku orang yang penting bagimu. Bukan orang yang akan kau
datangi pada saat kau menginginkanya”.
“Lalu apa yang kau ingin aku melakukan apa? Aku tidak
bisa memahamimu. Kalau kau menginginkanku seharusnya memberitahuku. Bagaimana
aku bisa tahu kalau kau tidak bicara apapun padaku”.
“Untuk sementara waktu sebaiknya kita tidak bicara dulu. Kalau
aku sudah merasa lebih baik aku akan menghubungimu”. Aku mematikan teleponku
dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku merasa Altan mulai menjauh dariku. Aku
merindukan dirinya yang dulu tapi tidak ingin membebaninya dengan memintanya
tetap bersamaku kalau memang dia ingin pergi.
“Halo Jaz kau di mana sekarang?”. Jaz meneleponku di saat
yang tepat. Dia seperti superman ang selalu datang di saat-saat yang tepat
tanpa aku memintanya. Suaraku bergetar saat berbicara denganya karena masih
menangis.
“Hei baby ada denganmu kau menangis?”. Suara Jez
terdengar khawatir.
“Ya, tapi aku baik-baik saja aku hanya ingin menangis
hanya itu saja”.
“Aku akan menghubungimu melalui video call”.
“Tidak, jangan! Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa
ingin menangis itu saja”.
“Kau ingin aku memelukmu?”. Suara Jaz terdengar tulus. Dia
selalu tahu bagaimana menenangkanku di saat aku sedang sedih. “Bertengkar lagi
dengan pacarmu?”.
“Dia bukan pacarku Jaz, tapi cinta bertepuk sebelah
tangan”. Aku menggigit bibirku saat berkata seperti itu. Ada perasaan seperti
tersengat listrik di dalam dadaku. Bukanya aku berbohong mengenai hubunganku,
tetapi aku memang merasa hanya akulah yang mencintai Altan. Aku tidak tidak
bisa melihat ketulusanya akhir-akhir ini. Aku hanya merasa dia sedang
mempermainkanku.
“Aku harap kau bisa mendapatkan orang yang mencintaimu
melebihi cintaku padamu”.
“Kamu mencintaiku?”. Aku terkejut dengan perkataan Jaz
yang tidak tepat pada waktunya.
“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Tapi saat kau
membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu baby. Aku tidak akan meninggalkanmu
sendirian”.
“Terima kasih Jaz, kau memang yang terbaik”. Aku merasa
sedikit lebih tenang meskipun perasaan sakit itu masih terus mendiami hatiku
yang paling dalam.
“Baby besok apa rencanamu?”.
“Aku akan nonton film dengan temanku”.
“Pacarmu?”.
“Bukan, dia hanya aku anggap sebagai temanku. Dia juga tiga
tahun lebih muda dariku. Aku tidak ada niat pacaran dengan anak kecil”.
“Baby aku juga dua tahun lebih muda darimu? Aku sedih
mendengarmu berkata seperti itu. Apa kau menganggapku anak kecil seperti dirinya?”.
Jaz merajuk membuatnya terlihat seperti anak kecil meskipun dia tidak ingin di
anggap seperti anak kecil.
“Tenang Jaz aku tidak menganggapmu seperti anak kecil. kau
berbeda. Meskipun kau lebih muda dariku sikapmu lebih dewasa daripada aku. Wajahmu
juga terlihat lebih tua dariku”.
“Baby kau kejam. Tapi itu karena aku terlalu sibuk
bekerja. Aku akan mengajakmu belanja, jalan-jalan dan makan malam romantis
kalau kau ada di isni”.
“Terima kasih Jaz tapi aku belum ada rencana untuk ke
Singapore saat ini”. Jaz adalah pemilik beberapa spa dan salon di negaranya. Karena
itu dia selalu terlihat lelah dan tua dari usianya.
“Aku berharap bisa di sana dan memlukmu baby, tapi aku
tidak bisa. Sebagai gantinya aku akan menyanyi untukmu”. Tanpa menunggu
persetujuanku Jaz lagsung nyanyi lagu twinkle-twinkle little star andalanya.
“Baby apa kau merasa lebih baik sekarang?”. Jaz
menyunggingkan senyumnya lebar-lebar seperti anak kecil yang merasa puas
setelah menyelesaikan pekerjaanya dengan mudah.
“Sedikit. Kenapa kau tidak main gitar? Aku akan merasa
lebih baik kalau kau juga main gitar untuk ku”.
“Sorry aku tidak bisa main gitar, aku hanya bisa main
piano”. Jaz merasa menyesal.
“Its oke, saat aku pergi kesana kau harus mengajaku makan
malam romantis di rstoran sambil memainkan piano”.
“Aku akan lakukan apapun untukmu”. Jaz tersenyum puas.
“Tapi jangan menyanyi lagu Indonesia, kau terdengar
sangat buruk kalau nyanyi lagu Indonesia”.
“Baby kau kejam”. Jaz kembali bersikap seperti anak
kecil.
“Tapi itu benar, aku tidak ingin orang lain mendengarnya,
kalau kau bernyanyi di depanku tidak masalah. Aku bisa menerimanya, tapi aku
tidak yakin dengan orang lain. Kemampuan bahasa Indonesiamu juga tidak terlalu
bagus. Kau lebih banyak menggunakan bahasa Melayu daripada bahasa Indonesia”.
“Aku sudah tahu kalau kau kejam tapi kenapa aku tetap
menyukaimu? Seharusnya aku membencimu”. Jaz selalu blak-blakan apa adanya kalau
bicara. Mingkin karena itulah kita merasa cocok satu sama lain.
“Karena aku cute”. Aku nyegir jelek seperti anak tk
kepedean yang tidak tahu apa itu rasa malu. “Jaz aku harus tidur sekarang. Ini suah
lewat tengah malam”.
“Oke baby, jangan lupa mimpikan aku. Good night”.
“Good night Jaz, have a nice dream”.
“You too baby”. Jaz mematikan teleponya.
Waktu sudah hampir pagi tapi aku belum juga berhasil
memejamkan mataku. Pikiranku di penuhi oleh bayangan Altan. Semakin erat aku
memejamkan mata semakin jelas bayangan itu nampak dalam pikranku. Aku tidak
tahu apa yang harus aku lakukan selain meneteskan air mata sampai aku merasa lelah
dan ketiduran dengan sendirinya.