Monday, March 21, 2016

LOVE IS HURT

PART 1


“Kenapa mencintaimu begitu menyakitkan? Mungkinkah karena aku terlalu mencintaimu sementara kau mempermainkanku? Setiap hari, setiap waktu, setiap jam, menit, detik aku selalu merindukanmu. Apa kau tahu rasanya merindukan seseorang yang tidak bisa kau lihat?. Aku membutuhkanmu disaat-saat tersulitku. Tapi kamu dimana. Kenapa malah orang lain yang selalu ada di sisiku dan menyemangatiku? Aku hanya menginginkanmu bukan orang lain. Ingin sekali aku melepasmu tapi aku terlalu takut melakukanya”. Cairan panas mulai mengalir deras membasahi wajahku.
“Kenapa kau tidak pernah mempercayaiku. Apa yang harus aku lakukan supaya kau merasa yakin kalau aku benar-benar mencintaimu”. Bukanya merasa bersalah Altan justru tersulut emosinya.
Hubungan kami memang masih seumur jagung. Hampir hanya ada pertengkaran setiap  kali kita bicara. Entah karena tanggal lahir kita yang sama atau karena sifat kita yang sama-sama egois.
“Lalu dimana saat aku sangat membutuhkanmu di sampingku? Kenapa kau selalu tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba datang tanpa aku minta. Kamu pikir aku terminal tempatmu singgah saat kau menunggu bus datang?. Aku juga punya perasaan. Aku ingin kau menganggapku orang yang penting bagimu. Bukan orang yang akan kau datangi pada saat kau menginginkanya”.
            “Lalu apa yang kau ingin aku melakukan apa? Aku tidak bisa memahamimu. Kalau kau menginginkanku seharusnya memberitahuku. Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak bicara apapun padaku”.
            “Untuk sementara waktu sebaiknya kita tidak bicara dulu. Kalau aku sudah merasa lebih baik aku akan menghubungimu”. Aku mematikan teleponku dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku merasa Altan mulai menjauh dariku. Aku merindukan dirinya yang dulu tapi tidak ingin membebaninya dengan memintanya tetap bersamaku kalau memang dia ingin pergi.
            “Halo Jaz kau di mana sekarang?”. Jaz meneleponku di saat yang tepat. Dia seperti superman ang selalu datang di saat-saat yang tepat tanpa aku memintanya. Suaraku bergetar saat berbicara denganya karena masih menangis.
            “Hei baby ada denganmu kau menangis?”. Suara Jez terdengar khawatir.
            “Ya, tapi aku baik-baik saja aku hanya ingin menangis hanya itu saja”.
            “Aku akan menghubungimu melalui video call”.
            “Tidak, jangan! Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa ingin menangis itu saja”.
            “Kau ingin aku memelukmu?”. Suara Jaz terdengar tulus. Dia selalu tahu bagaimana menenangkanku di saat aku sedang sedih. “Bertengkar lagi dengan pacarmu?”.
            “Dia bukan pacarku Jaz, tapi cinta bertepuk sebelah tangan”. Aku menggigit bibirku saat berkata seperti itu. Ada perasaan seperti tersengat listrik di dalam dadaku. Bukanya aku berbohong mengenai hubunganku, tetapi aku memang merasa hanya akulah yang mencintai Altan. Aku tidak tidak bisa melihat ketulusanya akhir-akhir ini. Aku hanya merasa dia sedang mempermainkanku.
            “Aku harap kau bisa mendapatkan orang yang mencintaimu melebihi cintaku padamu”.
            “Kamu mencintaiku?”. Aku terkejut dengan perkataan Jaz yang tidak tepat pada waktunya.
            “Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Tapi saat kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu baby. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian”.
            “Terima kasih Jaz, kau memang yang terbaik”. Aku merasa sedikit lebih tenang meskipun perasaan sakit itu masih terus mendiami hatiku yang paling dalam.
            “Baby besok apa rencanamu?”.
            “Aku akan nonton film dengan temanku”.
            “Pacarmu?”.
            “Bukan, dia hanya aku anggap sebagai temanku. Dia juga tiga tahun lebih muda dariku. Aku tidak ada niat pacaran dengan anak kecil”.
            “Baby aku juga dua tahun lebih muda darimu? Aku sedih mendengarmu berkata seperti itu. Apa kau menganggapku anak kecil seperti dirinya?”. Jaz merajuk membuatnya terlihat seperti anak kecil meskipun dia tidak ingin di anggap seperti anak kecil.
            “Tenang Jaz aku tidak menganggapmu seperti anak kecil. kau berbeda. Meskipun kau lebih muda dariku sikapmu lebih dewasa daripada aku. Wajahmu juga terlihat lebih tua dariku”.
            “Baby kau kejam. Tapi itu karena aku terlalu sibuk bekerja. Aku akan mengajakmu belanja, jalan-jalan dan makan malam romantis kalau kau ada di isni”.
            “Terima kasih Jaz tapi aku belum ada rencana untuk ke Singapore saat ini”. Jaz adalah pemilik beberapa spa dan salon di negaranya. Karena itu dia selalu terlihat lelah dan tua dari usianya.
            “Aku berharap bisa di sana dan memlukmu baby, tapi aku tidak bisa. Sebagai gantinya aku akan menyanyi untukmu”. Tanpa menunggu persetujuanku Jaz lagsung nyanyi lagu twinkle-twinkle little star andalanya.
            “Baby apa kau merasa lebih baik sekarang?”. Jaz menyunggingkan senyumnya lebar-lebar seperti anak kecil yang merasa puas setelah menyelesaikan pekerjaanya dengan mudah.
            “Sedikit. Kenapa kau tidak main gitar? Aku akan merasa lebih baik kalau kau juga main gitar untuk ku”.
            “Sorry aku tidak bisa main gitar, aku hanya bisa main piano”. Jaz merasa menyesal.
            “Its oke, saat aku pergi kesana kau harus mengajaku makan malam romantis di rstoran sambil memainkan piano”.
            “Aku akan lakukan apapun untukmu”. Jaz tersenyum puas.
            “Tapi jangan menyanyi lagu Indonesia, kau terdengar sangat buruk kalau nyanyi lagu Indonesia”.
            “Baby kau kejam”. Jaz kembali bersikap seperti anak kecil.
            “Tapi itu benar, aku tidak ingin orang lain mendengarnya, kalau kau bernyanyi di depanku tidak masalah. Aku bisa menerimanya, tapi aku tidak yakin dengan orang lain. Kemampuan bahasa Indonesiamu juga tidak terlalu bagus. Kau lebih banyak menggunakan bahasa Melayu daripada bahasa Indonesia”.
            “Aku sudah tahu kalau kau kejam tapi kenapa aku tetap menyukaimu? Seharusnya aku membencimu”. Jaz selalu blak-blakan apa adanya kalau bicara. Mingkin karena itulah kita merasa cocok satu sama lain.
            “Karena aku cute”. Aku nyegir jelek seperti anak tk kepedean yang tidak tahu apa itu rasa malu. “Jaz aku harus tidur sekarang. Ini suah lewat tengah malam”.
            “Oke baby, jangan lupa mimpikan aku. Good night”.
            “Good night Jaz, have a nice dream”.
            “You too baby”. Jaz mematikan teleponya.

            Waktu sudah hampir pagi tapi aku belum juga berhasil memejamkan mataku. Pikiranku di penuhi oleh bayangan Altan. Semakin erat aku memejamkan mata semakin jelas bayangan itu nampak dalam pikranku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain meneteskan air mata sampai aku merasa lelah dan ketiduran dengan sendirinya.