Friday, October 9, 2015

SADARI PERASAANKU

              “Lita kamu ingin kemana? Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?”.
            “Terserah aku tidak tahu, aku kan tidak tahu apa-apa disini. Seperti yang kamu tahu aku datang kesini hanya setahun sekali itupun paling lama satu minggu”.
            “Kamu mau yang dekat apa yang jauh?”.
         “Yang dekat aja ini udah malam”. Jawabku. Dion melajukan motornya menyusuri jalan raya yang gelap dan sepi menembus angin malam kota Pacitan yang sangat dingin. Setelah setengah jam Dion menghentikan motornya di jalan raya pinggir pantai.
            “Kamu pernah kesini sebelumnya?”. Tanya Dion yang duduk di atas motornya.
            “Pernah tapi waktu siang hari”.
            “Lihatlah menurutmu itu apa yang di depan kamu?”. Dion menunjuk laut yang terlihat sangat luas dengan lampu bertebaran membuat laut terlihat seperti sebuah kota kecil.
            “Laut tapi kenapa begitu banyak lampu bertebaran di tengahnya?”. Tanyaku sambil mengagumi lampu yang di hiasai dengan ombak bergulung-gulung.
            “Itu lampu nelayan yang sedang mencari ikan bukankah itu terlihat sangat indah?”.
            “Menurutku juga begitu”. Kita memandang laut dalam keheningan yang nyaman di sinari cahaya rembulan yang sangat terang. Bintang-bintang menghiasi langit dengan indahnya.
            “Kamu kedinginan?”, Tanya Dion melihat aku mengigil di balik kaos lengan panjangku.
            “Aku tidak menyangka akan sedingin ini”.
            “Jangan samakan disini dengan di Jakarta. Disini udaranya sangat dingin saat malam tiba. Kemanapun kau pergi harus mengenakan baju tebal. Ayo kita pulang daripada kau jatuh sakit ”. Dion melepaskan jaket jeansnya dan memberikanya padaku.
                “Tidak kamu saja yang pakai. Kau kana da didepan anginya sangat kuat aku tidak apa-apa”. Aku menyakinkan Dion dan dia memakai kembali jaketnya.
            “Peluk aku kalau kau tidak ingin beku kedinginan”. Dia menarik tanganku dan melingkarkanya mengelilingi perutnya.
            “Tidak aku tidak apa-apa”. Akun menarik kembali tanganku.
            “Kalau kau tidak menurut  kita tidak pulang aku bertanggung jawab mengantarkanmu pulang dengan keadaan yang sama seperti sebelum berangkat”.
            “baiklah ayo kita jalan”. Akhirnya aku menyerah memeluknya erat. Dion adalah tetanggaku sekaligus kakak kelasku waktu SMP jadi kita sudah saling mengenal sangat lama.
            “Hei lagi apa?”. Dion mengirim sms.
            “Kamu sudah unya pacar belum di jakarta?”.
            “Belum memangnya kenapa?”. Jawabku dengan perasaan yang entah karena apa membuatku sangat senang dia menanyakan hal itu. “Apa dia menyukaiku”. Pikirku sambil tersenyum senang.
            “Kamu mau gak aku kenalkan sama temen aku?”. Balasnya. Hatiku jadi hancur berkeping-keping seperti tersambar petir di siang blolong.
            “Oh….”. jawabku kecewa. Hanya kata-kata itu yang muncul di kepalaku.
            “Nanti malam kita jalan ya aku ajak kamu ke pasar malam. Kamu belum pernah kan?”.
            “Sudah pernah di Jakarta”.
            “Di Jakarta dan di sini itu berbeda kamu siap-siap ya setengah jam lagi aku jemput ke rumahmu sekalian pamit sama orang tuamu”.
            “Oke”. Balasku seperti yang dia katakana setengah jam kemudian dia sudah muncul di rumahku dengan pakaian yang cukup hangat. Setelah berpamitan dengan orang tuaku kita berangkat ke pasar malam yanh jaraknya sangat jauh dari rumah. Kali ini aku memakai pakaian yang sangat hangat lengkap dengan syal dan sepatu cat tinggi.
            “Kamu tunggu di sini sebentar ya aku akan segera kembali”. Setelah sampai Dion mengajakku ke sebuah kios yang menjual makanan dan berbagai minuman hangat.
            “Oke”. Aku mengangguk sambil tersenyum. Sambil menunggu Dion kembali aku memesan coklat hangat.
            “Bersama pacar dek…?”. Tanya penjaga kios tersebut ramah.
            “Bukan dia abang saya”. Jawabku tidak kalah ramah. Tradisi di Pacitan kita harus saling sapa meskipun kita tidak saling mengenal satu sama lain. Tak lama kemudian Dion sudah kembali dengan seorang temanya.
            “Lita ini temen aku yang tadi aku bicarakan namanya rizky. Rizky ini teman ku yang dari Jakarta dia liburan di sini untuk beberapa hari”. Dion memperkenalkan kami berdua. Kami berjabat tangan dan saling sapa.
            “Sudah berapa lama kau tinggal di Jakarta?”. Tanya Rizky.
            “Kurang lebih Sembilan tahun”. Jawabku ramah sambil menyesap coklat panasku yang sudah berubah jadi hangat.
            “Lama sekali apa kau tidak bosan disana kan panas dan macet lebih enak di sini dingin”.
            “Memang tapi di sini cepat bosan selain itu mau kerja apa aku disni?”.
            “Iya juga sih, kalau sudah terbiasa hidup di kota tidak akan betah tinggal di sini yang sepi dan jauh dari tempat hiburan. Kapan kamu balik ke Jakarta?”.
            “Minggu depan?”.
            “Sudah kelliling kota Pacitan sampai rata?”.
            “Belum, aku tidak berani pergi sendiri selain itu aku tidak begitu mengenal kota ini”.
            “Memangnya Dion tidak mengajakmu?”. Rizky Menoleh Dion yang duduk di sebelahnya yang sedang menikmati roti bakar sembari ngobrol dengan penjualnya. Aku hanya mengangkat pundakku sebagai jawaban. “Mau aku temani?”. Tanya Rizky padaku.
            “Kalau tidak merepotkanmu dengan senang hati aku menerima tawaranmu”. Aku tersenyum senang.
            “Dion boleh aku ajak Lita jalan-jalan?”. Rizky minta izin Pada Dion.
            “Tapi awas kalau kau macam-macam padanya. Dia jadi tanggung jawabku sekarang”. Jawab Dion membuat hatiku berdebar senang mendengar jawabanya yang sedikit mengancam. “Lita sudah seperti adikku sendiri kalau sampai kau macam-macam kau akan tanggung akibatnya”. Lanjut Dion membuatku merasa di hempaskan ke bumi setelah melayang tinggi.
            “Dia menganggapmu sebagai adiknya kau senang?”. Tanya Rizky yang kembali fokus padaku.
            “Aku memang sangat ingin memiliki seorang kakak laki-laki”. Aku memaksakan untuk tersenyum untuk menyembunyikan perasaan kecewaku.
            “Sudah malam ayo kita pulang nanti orang tuamu mencarimu”. Dion berdiri dari tempat duduknya.
            “Baru jam delapan nanti aja jam Sembilan”. Rizky sedikit memohon pada Dion.
            “Aku bertanggung jawab atas dirinya kalau terlambat mengantarnya pulang bisa di marahi orang tuanya”.
            “Dion benar aku harus pulang sampai ketemu lagi”.
            “Ya sudah nanti aku telpon ya kalau aku sudah ada waktu kita jalan-jalan ke kota”. Rizky memasang senyum manisnya.
            “Baiklah”. Aku membalas lambaian tanganya. Dion menggandeng tanganku menembus kerumunan orang-orang yang sedang belanja. Dia tidak melepaskan tanganku sampai tiba di tempat parkir.
            “Bagaimana kau suka denganya?”. Dion menyerahkan helm padaku.
            “Dia orangnya asik selain itu juga ramah”.
            “Bagus dia temanku yang aku bilang akan mengenalkanya padamu. Kalau kau menyuakinya itu bagus”. Kata dion terdengar sedikit aneh. Terdengar sedikit kesal bagiku.
            “Kenapa kau mengajaku buru-buru pulang aku kan belum kemana-mana kau juga tidak mengajaku mengelilingi pasar malam”. Protesku.
            “Jangan khawatir kau akan segera bertemu lagi denganya”. Dion sudah siap di atas motornya. “Pegangan yang erat kalau tidak ingin jatuh”. Lanjut Dion setelah aku duduk di belakangnya. Dion menjalankan motornya sedikit ngebut tidak seperti biasanya yang sangat berhati-hati. Dia juga hanya diam focus kedepan tanpa berkata apapun sampai kita tiba di rumah.
            “Maafkan atas sikapku”. Kata Dion menuduk seperti sedang memikirkn sesuatu. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini”.
            “Tidak apa-apa sekali-kali kau juga boleh bersikap seperti ini. Kau tidak harus selalu bertindak sebagai kakak yang sempurna bagiku. Bagaimanapun juga kita tidak ada ikatan darah jadi jangan terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna”.
            “Aku mengerti aku hanya ingin bisa menjadi orang yang bisa kau andalkan karena aku menyayangimu seperti adiku sendiri”.
            “Sampai kapan kau akan menganggapku adik?”. Tiba-tiba aku merasa kesal mendengar dia selalu berkata bahwa aku adalah adik baginya. “Aku tidak ingin menjadi adikmu”. Teriaku padanya lalu meninggalkanya yang masih berdiri mematung karena terkejut. Ada perasaan menyesal dalam diriku telah bersikap seperti itu padanya tapi disisi lain aku juga merasa lega.
            “Kau menyukainya kan?”. Tanya Rizky padaku tiba-tiba. Kami duduk di pinggir pantai menikmati deburan ombak ganas Pantai klayar. Dia mengajaku mengelilingi kota Pacitan seperti yang sudah ia janjikan.
            “Apa?”. Tanyaku minta penjelasan dengan maksud perkataanya.
            “Dion kau menyukainya kan?”. Ulangnya.
            “Tidak kami sudah seperti saudara sendiri kau juga tahu dia menganggapku sebagai adiknya”.
            “Hanya dengan melihatnya saja aku sudah tahu kalian saling menyukai. Aku sudah lama mengenal Dion. Aku tidak pernah melihatnya bersikap seperti waktu itu. Dia cenderung cuek kalau sama perempuan tapi tidak denganmu. Dian sangat perhatian dan menyanyangimu”. Dion menerawang memandang ombak ang terus mengamuk di depanya.
            “Itu karena kami sudah mengenal sangat lama dan tentu saja seorang kakak harus bersikap seperti itu”.
            “Kenapa kau tidak terus terang saja mengenai perasaanmu padanya?”.
            “Perasaan? Aku tidak mengerti apa yang kau katakana”. Aku menatap risky serius berharap dia menjelaskan apa yang dia maksud.
            “Apa kau mau menjadi pacarku?”. Tanyanya tiba-tiba. Dia juga menatapku serius.
            “Maaf”. Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Aku mengalihkan pandanganku darinya.
    .
            “Aku benar-benar minta maaf”. Kataku tulus.
            “Sudah aku bilang jangan di pikirkan”. Rizky mengacak-acak rambutku sambil tersenyum. “Ayo aku ajak kau ke tempatk yang tidak akan pernah kau kau lihat di Jakarta”. Rizky menariku berdiri dan menuntunku ke tempat parkir. Kita segera meninggalkan pantai yang menurutku masih saying untuk di tinggalkanya .
            “Bagaimana menurutmu? Kau menyukainya?”. Rizky menyunggingkan senyum kepuasanya.
            “Perfect”. Kataku mengagumi pemandangan di sekelilingku yang begitu menakjubkan.
            “Ini Goa Gong pasti kau sudah pernah mendengarnya”.
            “Pernah tapi ini pertama kalinya aku datang kesini”.
            “Disini masih banyak lagi Goa yang lebih indah dari ini kau mau melihatnya?”.
            “Sangat, tapi aku rasa kalau hari ini tidak bisa sekarng saja sudah sore dan aku masih belum ingin pergi dari sini”.
            “Baiklah lain kali aku akan mengajakmu lagi kalau kau mau tinggal meneleponku saja”.
            “Pasti”. Jawabku. Kami berjalan menjelajahi dalam Goa menikmati keindahan batu-batu bentukan alam dan juga Kristal yang begitu mempesona.
            “Lita aku di depan rumahmu”. Dion mengirimiku sms tanpa membalasnya aku langsung keluar menemuinya.
            “Ada apa?”. Tanyaku malas.
            “Aku dengar katanya hari ini kau jalan ke kota Bersama Rizky”.
            “Iya. Rizky yang memberitahumu?”. Ada perasaan kesal pada Rizky menyelubungi hatiku. Aku sudah memintanya untuk merahasiankanya dari Dion.
            “Tidak penting siapa yng membertitahuku. Kau bersenang-senang?”.
            “Tentu saja, Rizky mengajaku mengunjungi banyak tempat”.
            “Aku tidak suka kau pergi bersamanya”. Kata Dion sambil menunduk memandangi kakinya.
            “Apa maksudmu? Kau yang mengenalkanya padaku dan sekarang kau bilang tidak suka melihatku bersamanya. Kenapa kau bersikap seperti ini padaku. Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu kenapa kau mempermainkan perasaanku?”. Teriakku kesal.
            “Maafkan kan aku”. Dion meraih tanganku dan menggenggamnya.
            “Pulanglah aku ingin sendiri aku juga sangat lelah”. Aku berdiri hendak masuk rumah.
            “Aku menyukaimu maafkan aku karena baru menyadari perasaanku. Aku tidak ingin melihatmu bersama pria lain itu”.
            “Kau selalu bilang aku adikmu bagaimana aku bisa percaya kata-katamu”.
            “Aku kira perasaanku selama ini hanya perasaan sayang seorang kakak pada adiknya sampai kau pergi denganya. Berpisah denganmu beberapa hari ini membuatku sadar kalau kau tidak hanya sekedar adik bagiku. Lita maafkan aku mulai sekarang aku tidak bisa menjadi kakakmu lagi karena aku mencintaimu dan menyayangiku sebagai seorang wanita”. Kata Dion sepenuh hati membuat hatiku luluh seketika.
            “Kau yakin dengan apa yang kau katakan itu benar bukan hanya karena emosi sesaat”.
            “Sangat yakin karena itu akan aku lakukan apapun supaya kau mempercayaiku dan juga menganggapku seorang pria bukan seorang kakak”.
            “Kau sudah terlambat”.
            “Benarkah? Kalian sudah jadian apa kau bahagia bersamanya? Apapun keputusanmu aku akan mendukungmu sekalipun kau bersamanya karena kebahagiaanmu adalah yang utama bagiku”. Dion Terdengar kecewa.
            “Kau terlambat untuk meyakinkanku karena sudah lama aku menganggapmu sebagai seorang pria bukan seorang kakak”. Kataku malu-malu.

            “Benarkah?”. Tanya Dion tersenyum Lebar. “Terima kasih Lita aku pasti tidak akan pernah mengecewakanmu”. Dion memeluku erat. 

Saturday, September 26, 2015

AKU MEMBUTUHKANMU DISAMPINGKU

                                AKU MEMBUTUHKANMU DI SAMPINGKU

          “Dia bos kita?”. Tanya lia pada Michael yang duduk di depanya.
         “Bukan dia manajer pemasaran”.
         “Aku sering melihatnya di sini aku kira dia bos kita”.
         “Staf dari manajemen pemasaran dan manajemen promosi memang jadi satu ruangan supaya memudahkan kita semua untuk berkomunikasi. Kamu tahu sendiri kan kita juga harus banyak rapat dan berbagi strategi dengan staf pemasaran”.
        “Pantas saja aku sering melihatnya masuk sini”. Lia manggut-manggut tanda mengerti.
        “Kau menyukainya?”. Bisik Michael pelan.
        “Apa ada wanita yang tidak menyukainya dia tampan dan muda selain itu bisa di bilang dia sudah memiliki karir yang bagus”.
        “Hati-hati di ruangan ini semua mengincarnya”.
      “Kau yang mengerjakna laporan ini?”. Orang yang di bicarakan mereka menghampiri meja lia.
       “Iya pak”. Jawab Lia tanpa ragu.
     “Kau bilang ini laporan? Aku tidak tahu bagaimana kau bisa di terima kerja disini. Perbaiki lagi dan serahkan padakan padaku. Aku tunggu sampai jam setengah enam. Gara-gara kamu aku tidak bisa pulang tepat waktu sekarang”. Setelah berkata begitu manajer tersebut pergi ke ruanganya. Semua mata memandang lina yang masih berdiri menahan malu.
    “Sabar ya dia memang biasa seperti itu apalagi pada karyawan baru”. Michael menyemangati.
      “Tapi aku kan masih banyak yang belum mengerti harusnya di kasih tahu baik-baik bukan seperti itu caranya. Aku tidak mengerti apa yang di lihat para wanita disini dari dirinya”. Gerutu Lia tidak terima.
      “justru itu yang daya tariknya. Dia terlihat cool seolah sulit untuk di raih”. Michael tersenyum seperti layaknya seseorang yang tengah jatuh cinta.
          “bagiku dia tidak layak untuk di jadikan pria idaman”.
         “lina malam ini kita mau karaoke bareng besok kan kita libur mau gabung?”. Tanya Tia yang duduk di sebelah lia.
          “Boleh aku juga lagi butuh refreshing”.
        “Cepat selesaikan laporanya supaya kita bisa cepat berangkat. Kita tunggu kamu di sevel depan kantor ya”. Setelah berkata begitu Tia dan lainya meninggalkan ruangan karena jam memang sudah menunjukan pukul lima.
       “Baiklah aku akan menyelesaikanya secepat yang aku bisa”. Kata Lia yakin. Lia kembali menyusun laporanya dengan cermat supaya tidak terjadi keslahan lagi. Meskipun dia sudah bekerja keras tidak mudah menyelesaikan laporan yang sesuai dengan kemauan manajer dengan waktu yang terbatas. Sudah lebih dari setengah jam dia memelototi computer namun laporanya belum juga selesai karena memang banyak yang harus di revisi. “Tia aku belum selesai ini masih banyak yang harus aku selesaikan kalian duluan saja nanti aku akan menyusul”. Lia menelepon Tia.
            “Oke nanti kalau sudah selesai segera hubungi aku ya sekarang kita akan langsung menuju Sency”.
            “Siip akan aku usahakan supaya cepat selesai”. Lia menutup teleponya dan kembali memfokuskan mata dan juga pikiranya pada monitor computer yang ada di depanya.
            “Kamu masih di sini?”. Manajer Dion berjalan pulang.
            “Iya Pak saya masih mengerjakan laporan yang tadi bapak kembalikan”.
         “Kamu masih punya waktu besok pagi aku memerukanya jam sepuluh yang lain sudah pada pulang kau juga cepat pulanglah”.
       “Baik pak sebentar lagi selesai”. Lia menjawabnya dengan ramah meskipun sebenarnya hatinya berteriak memakinya. “Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau membutuhkanya besok kenapa kau bilang harus menyerahkanya hari ini  juga”. Protes Lia kesal setelah manajer Dion sudah berada di luar ruangan.
                                                @#%@#$%@#$%
            “Lia apa oendapatmu tentang gay?”. Tanya Michael mereka sedang makan siang di kafe dekat kantor.
            “Gay? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”.
            “Tidak apa-apa jawab saja aku hanya ingin dengar pendapatmu tentang mereka”.
           “Ehm menurutku tidak ada yang salah dengan mereka. Itu hak mereka untuk memilih siapa yang mereka cintai karena menurutku ketika cinta dating pada seseorang orang tersebut tidak akan dapat menolaknya  bagaimanapun caranya. Aku juga berpikir seorang gay jauh lebih baik di banding seorang playboy”.
            “Jadi kau tidak membenci ataupun menyalahkan mereka?”.
            “Tidak, kenapa aku harus membencinya kta hidup di jaman demokrasi”.
            “Kau adalah orang pertama yang berpendapat seperti itu. Seandainya semua orang bisa berpikir sepertimu”.
            “Semua orang akan menjadi gay”.  Jawab Lia  enteng.
        “Waktu kita tinggal sepuluh menit lagi cepatlah kalau tidak mau kena omel bos” Michael mengingatkan. Mereka segera melahap makanan yang ada di depanya dengan cepat dan kembali ke kantor.
          “Kalian pacaran? Aku lihat kalian selalu pergi berdua akhir-akhir ini”. selidik salah satu rekan kerja lia begitu mereka sampai di kantor.
            “Tidak kami hanya berteman jawan lia dan Michael bersamaan.
      “Padahal kalau kau pacaran denganya saingan untuk mendekati manajer Dion berkurang satu”. Sahut yang lainya.
            “Lupakan saja keberadaanku aku tidak tertarik denganya”.
            “Benarkah? Kalau begitu pria seperti apa  yang kau suka?”.
            “Pria yang memiliki hati lembut dan romantic seperti Michael”. Lia menunjuk Michael yang tengah asyik merenung di depan komputernya.
            “Kalau begitu kenapa kau tidak pacaran saja denganya?”.
            “Dia tidak tertarik denganku. Benarkan Michael?”.
         “Satu jam lagi kita kan rapat bersama divisi marketing kalian siapkan berkas-berkasnya dan juga laporan kalian”. Kata Dion
            “Baik pak jawab seluruh staff bersamaan.
            “Kira –kira apakah manajer mendengar pembicaraan kita?”. Tanya Lia pada Michael pelan.
            “Aku tidak tahu kalaupun dia dengar apa untungnya bagi dia”.
            “Kau benar”. Jawab Lia, mereka sibuk menyiapkan berkas-berkas yang di perlukan dan juga mengecek ulang laporan yang sudah di persiapkan. Mereka ingin memberikan laporan terbaik di depan manajer Dion. Tidak hanya laporan yang di periksa namun juga dandanan mereka. Ada yang sedang mematut dirinya di depan cermin adapula yang sedang mempertebal bibirnya dengan lipstick warna merah menyala.
            “Lia kamu mau pulang?”. Sebuah mobil berhenti di depannya.
            “Iya pak”.
            “Dimana kamu tinggal?”.
            “Di daerah Ciputat”.
            “Kita searah naiklah”. Perintah manajer Dion.
            “Tidak pak terima kasih saya menunggu bis saja”. Tolak Lia halus.
          “Kau tidak mau karena menyimpan dendam padaku sudah aku suruh-suruh meskipun aku bukan atasanmu?”.
            “Tidak pak bukan begitu”. Jawab Lia cepat.
            “Kalau begitu naiklah”. Perintahnya sekali lagi. “dengan berat hati dia masuk mobil manajer Dion karena tidak ingin mendapat kesan buruk darinya.
            “Bagaimana kesanya kamu bekerja bersama kami?”.
            “Menyenangkan meskipun terkadang melelahkan”. Jawab Lia jujur.
            “Kau jujur sekali”. Manajer Dion tersenyum. Berbeda dengan manajer di kantor yang lia lihat selama ini. Manajer Dion yang Lia tahu adalah orang yang tidak pernah tersenyum dan terkesan menekan. Begitu dia muncul atmosfir di ruangan berubah jadi kaku dan dingin.
          “Bapak bisa tersenyum?”. Kata-kata meluncur dari mulut Lia begitu saja membuatnya mengutuk dirinya sendiri supaya mulutnya tidak bisa bicara lagi.
            “Kamu pikir aku ini bukan manusia?”.

         “Bukan begitu pak maaf karena bapak selalu terlihat serius dan tegang di kantor”. Jawab Lia takut-takut. Manajer Dion tersenyum lagi mendengar pengakuan Lia.
“Kau ini terlalu jujur, berani apa polos?”.
            “Maksud bapak?”. Tanya Lia tidak mengerti.
        “Tidak apa-apa”. Jawab manajer Dion sambil fokus menatap jalan raya yang ada didepanya.
           
            “Lia nanti temenin aku cari kado buat adiku ya!”. Pinta Michael ketika keluar ruangan selesai meeting dengan team Promosi dan team Pemasaran.
            “asal kau antarkan aku pulang”. Jawab Lia ringan.
            “Lia aku ada perlu denganmu jadi sepulang kantor nanti aku minta kau tetap disini”. Pinta Manajer Dion tidak terduga membuat Lia khawatir kesalahan apa yang sudah di buatnya.
            “baik pak”. Jawab Lia sedikit gemetar.
            “Kenapa dia memintamu untuk tinggal? Kau membuat kesalahan?”. Tanya Michael khawatir”.
            “aku juga tidak tahu. Mungkin dia punya pekerjaan untuk ku”. Jawab Lia mencoba untuk positive thinking. Dia tidak menyadari kalau ada beberapa pasang mata sedang menatapnya tajam dari jauh.
          “Lia ayo ikut aku”. Manajer Dion menghampiri Lia yang tengah menatap komputernya sendirin. Karyawan lain sudah pulang karena jam sudah meunjukan pukul setengah enam.
            “Baik pak”. Lia berdiri dengan cepat mengikuti langkah Manajer dion.
            “kita mau kemana pak?”. Tanya Lia tidak kuat lagi menahan rasa penasaranya.
            “kita sudah sampai”. Manajer Dion menghentikan  mobilnya tepat di depan sebuah CafĂ© bergaya klasik. Dia mengajak Lia masuk dan duduk di sebuah meja dekat jendela yang mengarah ke jalan raya. Seorang weitres menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu di hadapan mereka. “kita makan dulu setelah itu ada yang mau aku bicarakan denganmu”. Manajer Dion menatap Lia serius membuatnya semakin gugup.
            “baiklah”. Lia mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah acara makan malam selesai Manajer Dion membuka suara. “Lia ada yang amu aku tanyakan padamu”. Katanya serius.
            “silahkan pak”.
            “Apa yang kau pikirkan tentang aku?”.
            “Maksud bapak?”. Tanya Lia bingung.
            “Kau menilai diriku seperti apa?”.
            “Bapak orangnya baik dan  juga pekerja keras selain itu bapak juga keren karena semua karyawan wanita di kantor kita menyukai bapak. Mereka berlomba untuk mendapatkan perhatian bapak”. Jawab Lia jujur.
            “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukaiku?”.
            “Aku rasa tidak ada wanita yang tidak menyukai bapak”.
          “Kalau begitu maukah kau menjadi pacarku”. Tanya manajer Dion membuat Lia bagai mendapat madu dan juga racun dalam waktu bersamaan. Dia tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu. “Bagaimana?”. Manajer Dion masih menunggu reaksi Lia yang dari tadi mematung menyatu dengan kursi yang di dudukinya.
            “Saya belum siap untuk menjawabnya sekarang”.
            “Kau tidak perlu menjawabnya kita coba dulu aja kalau kau merasa tidak nyaman denganku aku tidak akan memaksamu”.
            “Apa yang bapak suka dariku?”.
            “Kau pekerja keras dan juga ulet. Kau berbeda dengan karyawan lain yang selama ini aku lihat. Kau apa adanya. Aku sering memperhatikanmu tapi kau tidak menyadarinya. Kau selalu sibuk dengan karyawan yang bernama Michael itu”.
            “Seperti yang bapak tahu begitu banyak perempuan di kantor yang menyukai bapak. Aku tidak tahu kalau sampai mereka aku pacaran dengan bapak”.
            “Tidak usah khawatir aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu”. Jawaban manajer Dion cukup membuat hati Lia tenang. “Dan satu lagi jangan memanggilku pak kita sekarang kita sepasang kekasih kau cukup memanggil namaku saja”.
            “Dan aku juga tidak akan bersikap formal lagi padamu”. Lia tersenyum canggung memikirkan mereka sekarang lebih dari sekedar manajer dan staf.
           
            “Nanti tunggu aku ya kita mampir ke suatu tempat dulu”. Pesan Dion saat melewati meja Lia. Lia menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
            “Kalian pacaran?”. Tanya Sifa rekan Kerja Lia yang duduk di di sebelah kananya.
            “Apa hubungan kalian sebenarnya kenapa kalian sekarang sering bersama?”. Yang lain ikut menimpali dengan tatapan tidak senang. Lia hanya menanggapinya dengan diam karena tidak tahu harus menjawab apa supaya mereka puas dengan jawaban yang di berikanya.
            “Lia ikut aku”. Michael menarik Lia ke Pentry.
            “Terima kasih telah menyelamatkanku”. Lia bernafas lega.
           “Apa sebenarnya hubungan kalian?”. Michael menatap Lia serius tidak seperti dirinya yang biasanya.
            “kami pacaran”. Jawab Lia polos.
“what…?! Kamu serius? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?”. Michael merasa di hianati.
            “Maaf kami baru beberapa hari memutuskan untuk pacaran?”.
            “Kau yakin tidak menyesalinya? Aku sudah bekerja cukup lama di sini jadi aku sedikit lebih tahu dia daripada kamu. Menurutku kau jangan terlalu menyukainya”.
            “Kenapa begitu?”. Tanya Lia mengerutkan keningnya.
            “Karena kau orang terbaik yang aku kenal selama ini aku hanya tidak ingin kau sakit hati”.
            “Aku tidak akan pernah merasa sakit hati jangan khawatir”.
            “Aku harap juga begitu”. Mereka keluar pantry bersama untuk kembali ke tempat duduk masing-masing.
           
            “Lia maaf hari ini kita tidak bisa pulang bareng aku harus lembur”. Dion mengirim pesan pada Lia.
            “Lagi-lagi kau melanggar janjimu siapa sebenarya yang kau cintai? Aku apa pekerjaanmu?”. Gumam Lia pelan.
            “Michael mau jalan denganku?”. Tanya Lia antusias setelah membaca pesan dari Dion.
            “Ayo sudah lama kita tidak jalan bersama”.
            “Apa kau merasa tidak terlalu serakah?”. Tanya rekan kerja Lia sinis. “Kau sudah bosan dengan manajer Dion dan sekarang kau bermain dengan pria lain?”. Lanjutnya.
            “Kita sahabat”. Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Lia”.
       “Jangan pikirkan kata-kata mereka. Mereka hanya iri padamu kau juga tahu kan mereka sudah lama mengincar manajer Dion”. Hibur Michael. Mereka berjalan menuju parkiran dimana motor Michael di parkir.
            “Aku tidak memikirkanya aku hanya merasa tertekan setiap hari di jauhi dan di sindir”. Kata Lia sedih.
            “Mari kita bersenang-senang aku akan memacu andrenalimu bersiaplah”. Michael tersenyum licik. Dia segera menjalankan motornya dengan Lia duduk di belakangnya. “Pegangan yang erat kalau kau tidak ingin jatuh”. Michael memacu motornya semakin cepat Menebus jalan raya.
            “kau memang satu-satunya orang yang paling mengerti perasaanku. Kenapa bukan kau saja yang jadi pacarku”. Lia menerawang menembus udara yang tidak kasat mata. Michael menghentikan motornya di taman BSD yang tidak terlalu ramai.
            “bukankah manajer Dion adalah pacar idaman setiap wanita?”.
            “Awalnya aku juga merasa beruntung bisa memilikinya tapi tidak semua yang terlihat indah selalu indah”. Lagi-lagi Lia menerawang dengan sorot mata sedih. Setelah malam semakin larut Michael mengantar Lia ke rumah mengingat besok mereka masih harus di sibukan dengan pekerjaan yang menantinya.
           
            “Lia kamu aku panggil ke sini karena ada yang mau aku tanyakan padamu”. Manajer Lia memanggilnay ke ruanganya. “Aku minta kau menjawabnya dengan jujur. Apa benar kau pacaran dengan manajer Dion?”,
            “Benar Pak”. Jawab Lia.
            “Kau tahu kan peraturanya kalau dalam satu perusahaan tidak boleh ada hubungan asmara?”.
            “Iya Pak saya tahu”. Lia tidak berani mengangkat kepalanya.
            “kalau begitu langsung  saja. Kau pilih di pindah ke cabang lain atau mengakhiri hubunganmu denganya? Kalau aku memecatmu aku tidak rela karena kau karyawan yang pekerja keras dan juga ulet”,
            “Boleh saya minta waktu untuk memikirkanya pak?”.
            “Baiklah kalau kau sudah menemukan jawabanya segera hubungi aku sekarang kau boleh keluar”.
            “Terima kasih pak”. Lia berjalan dengan langkah gontai menuju mejanya.
“Apa akhirnya dia di pecat? Itu akibatnya kalau karyawan baru sudah berani macam-macam biar tahu rasa dia”. Terdengar para rekan kerjanya membicarakanya atau lebih tepatnya mengutuknya membuat kepala Lia terasa mau meledak. Dia merasa waktu berjalan sangat lambat. Yang ada di pikiranya hanyalah bisa segera keluar dari kantor secepatnya.
“Michael beri tahu aku apa yang harus aku lakukan?”. Lia tertunduk lesu berdiri di depan rumahnya. Michael mengantarnya pulang.
“Kau sudah bicara dengan Dion?”.
“Akhir-akhir ini dia sangat sibuk bahkan kita jarang bertemu. Setiap aku telpon katanya ada kerjaan. Aku sangat membutuhkanya tapi dia sedang asyik dengan dunianya sendiri”. Lia mulai menangis sesenggukan.
“Karena itulah dari awal aku memintamu untuk tidak terlalu mencintainya”. Michael memeluk Lia lembut.
“Tapi sekarang sudah terlambat aku terlanjur mencintainya aku tidak ingin dia terpengaruh dengan semua ini. Aku sangat ingin dia ada untukku sekarang tapi aku tidak ingin dia tahu apa yang terjadi denganku di kantor”.
“kau memang bodoh”. Michael mengusap kepala Lia lembut berharap bisa sedikit menengkan hatinya.
“Lia apa yang kalian lakukan?”. Dion keluar dari mobilnya dengan raut muka yang sulit untuk di baca.
“Dion!”. Lia sedikit menjauh dari Michael.
“Apa yang kalian lakukan di belakangku? Lia kau menghianatiku?!”. Dion menatap Lia tajam.
“Ini tidak seperti yang kau kira aku akan menjelaskanya padamu”. Lia berjalan menghamipiri Dion dan meraih tanganya. Dion mengibaskanya keras.
“Kau tidak perlu menjelaskan apapun karena semua sudah sangat jelas bagiku. Jangan pernah lagi bicara denganku”. Kata Dion marah. Dia pergi meninggalkan Lia yang masih menatapnya dengan perasaan sedih. Hatinya terasa seakan berlubang. Dia tidak kuat lagi menahan semuanya dan mengangis sejadi-jadinya di pelukan Michael sahabat setianya.
“Keluarkan semuanya jangan di tahan lagi aku di sini”. Kata Michael pelan. Hatinya terasa hancur melihat Lia menangis seperti ini. Setelah Lia sudah mulai tenang Michael melepaskan pelukanya. “Jangan khawatir aku akan menberi pelajaran laki-laki tidak tahu diri itu. Dia sudah membuatmu seperti ini aku tidak akan melepasknya”. Kata Michael garang lalu meinggalkan Lia memacu motornya dengan cepat.
“Michael apa yang akan kau lakukan jangan bodoh”. Teriak Lia  keras namun yang di ajak bicara sudah menghilang bersama udara malam. “Michael bisa kau kembali sekarang aku lebih membutuhkanmu di sini sekarang kalau kau masih sahabatku kembalilah”. Lia menelepon Michael.
“Lia aku akan segera kembali kau jangan khawatir”. Michael menutup teleponya. Tidak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintunya.
“Michael?”. Lia menarik daun pintu memastikan bahwa Michael benar-benar mendengarkanya.
“Sayang sekali aku bukan dia”.
“Dion apa yang kau lakukan disini?”. Lia tidak menyangka dion yang berdiri di depan pintunya bukan Michael. Bukankah kau bilang  untuk tidak berbicara denganmu lagi?”.
“Aku minta maaf aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padamu”. Dion terdengar sangat sedih. Dia tidak berani menatap mata Lia.
“tTidak apa-apa kau tidak perlu minta maaf padaku. Kalau sudah tidak ada yang kau bicarakan pulanglah aku ingin sendiri”. Lia menutup pintunya kembali. Melihat Dion berdiri di depanya entah kenapa membuatnya hatinya semakin sakit.
“Lia tunggu”. Dion menahan daun pintu dan menrik Lia kembali keluar. “Michael sudah menceritakan semuanya. Aku minta maaf karena tidak ada di sampingmu disaat kau sangat membutuhkan aku. Aku tahu aku bodoh dan tidak peka”.
“sudah aku bilang kau tidak perlu minta maaf seperti yang kau  katakan kita tidak perlu bicara lagi. sekarang pulanglah”. Lia memaksakan untuk tersenyum dan berbalik hendak masuk rumah.
“Apa yang harus aku lakukan?”. Dion memeluk Lia dari belakang dengan erat. “Katakan padaku apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkanku”. Dion membenankan wajahnya di pundak Lia.
“Dion kau menangis?”. Lia merasa pundaknya mulai basah.
“Kau tidak salah tidak ada yang perlu aku maafkan”. Lia memutar tubuhnya menghadap Dion. Lia mengangkat wajah Dion dan memeluknya erat. Mereka berpelukan cukup lama.
“Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikanmu daripada pekerjaanku”. Dion melepaskan pelukanya.
“Kau yakin bisa melakukanya?”.
“Aku akan melakukanya dan tidak akan membiarkan pria itu lebih sering berada di dekatmu di bandingkan aku”. Dion memasang muka cemberut. “Meskipun dia seorang gay tapi bisa saja dia merubah seleranya dan mencurimu dariku”. Lanjutnya.
“Bagaimana kau tahu Michael seorang gay?”. Tanya Lia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Sudah aku bilang dia sudah menceritakan semuanya padaku tanpa tertinggal sedikitpun”.
“Sebaiknya kau benar-benar melakukanya”. Lia memancarkan senyum cerianya kembali. Dia merasa sedikit bebanya sudah terangkat meskipun besok masih harus menghadapi bos dan rekan-rekan kerjanya.
“Malam ini aku akan membuatmu jadi wanita paling bahagia di seluruh dunia. Lupakan semua yang terjadi juga mengenai masalah kantor aku akan mengurus semuanya”. Dion mengecup kening Lia kemudian membawanya maniki mobilnya untuk membuat Lia menjadi wanita yang benar-benar paling bahagia malam ini.