Monday, June 6, 2016

LOVE IS HURT

Part 3
            “Aku udah di depan kantormu. Kapan kau keluar?”. Aldhi mengirim line.
            “Aku keluar sekarang”. Aku buru-buru memasukan barang-barangku ke dalam tas dan berlari keluar menghampiri Aldhi yang tengah duduk di atas motornya.
            “Kau mau kemana?”. Tanya Aldhi tersenyum hangat begitu aku sudah sampai di dekatnya. Aldhi adalah salah satu temanku yang belum lama ini aku kenal. Ia pria yang baik dan menyenangkan.
            “Aku kelaparan, bisakah kita cari makan?”. Aku mengernyit memegangi perutku yang terasa melilit.
            “Baiklah, kamu mau makan apa?”.
            “Apa saja yang penting makan”. Aku segera duduk di belakang Aldhi dan dia segera menghidupkan mesin motornya. Ia segera menarik gas setelah memastikan aku sudah duduk dan berpegangan dengan aman di belakangnya.
            Kita berhennti di kedai makan yang menjual berbagai makanan serba bakar. Aldhi memarkir motornya sementara aku mencari tempat duduk.
            “Kenapa belum pesan? Katanya kau lapar?”. Tanya Aldhi melihatku asik dengan handphone di tangaku.
            “Aku nunggu kamu baru pesan”. Aku menyunggingkan senyum menyambutnya. Seorang pelayan datang menanyakan apa pesanan kami berdua.
            “Apa kau selalu bersikap seperti pada semua orang?”. Tanya Aldhi setelah pelayan tersebut meninggalkan meja kami untuk mengambil pesanan yang sudah dicatatnya diatas kertas kecil.
            “Bersikap bagaimana?”.
“Selalu tersenyum kepada siapapun dan bersikap baik tanpa memandang siapa mereka”.
“Memangnya itu salah? Bukankah kita harus bersikap baik dan ramah kepada siapapun tanpa terkecuali?”. Tanyaku tidak mengerti dengan perkataan Aldhi.
“Memang benar tapi bisa membuat orang lain salah paham, termasuk aku”.
“Salah paham? Aku tidak mengerti maksudmu?”. Pelayan tersebut kembali ke meja kamu dengan beberapa makanan ditanganya. Ia meletakakn satu persatu pesanan kamu hingga memenihi meja bulat kecil yang ada di depan kami.
“Karena sikapmu membuatku jatuh cinta padamu?”. Lanjut Aldhi.
“What?!”. Teriaku kencang. Cukup kencang hingga membuat pengunjung lain menoleh pada kami.
“Aku tahu kamu hanya menganggapku sebatas teman”. Aldhi terlihat tidak bersemangat.
“Boleh aku makan dulu, setelah makan kita lanjutkan pembicaraan ini”. Aku hanya meminta jeda untuk mengolah pikiranku. Aku tidak pernah berfikir Aldhi akan berkata seperti itu. Yang aku tahu  dia adalah teman yang sejak awal dia sudah tahu kalau dia hanya bisa menjadi temanku tidak lebih.
“Apakah aku masih punya harapan?”. Tanya Aldhi, sepertinya ia sudah tidak bisa membendungnya lagi.
“Maaf itu permintaan yang sulit”. Kataku menyesal.
“Aku mengerti. Kita masih bisa menjadi teman”. Kesedihan terlihat di wajah Aldhi.
“Sungguh aku tidak ingin menyakiti siapapun. Bisakah kau tetap menjadi temanku dengan keadaan seperti ini? aku itdak ingin menyakitimu. Kau adalah pria yang baik”.
“Asalkan aku bisa bersamamu aku akan baik-baik saja. Kau tidak usah pedulikan perasaanku. Biar aku yang mengurusnya. Yang perlu kau lakukan hanyalah tetap menjadi temanku”.
Hatiku merasa tidak enak mendengar perkataan Aldhi. Aku sangat tahu bagaimana perasaanya. Kalau  aku terus bersamanya dan menahanya disisiku itu hanya akan menyakitinya. Aku tidak bisa melakukan itu. Selesai makan Aldhi langsung mengantarku pulang. Aku juga tidak ingin membuatnya dalam posisi yang lebih sulit.
“Aldhi sorry aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin kita jangan bertemu dulu, aku minta maaf”. Kataku setelah sampai di depan rumah.
“Aku tidak akan meminta apapun darimu”.
“Karena itu aku tidak ingin mnehanmu. Itu hanya akan menyakitimu”.
“Baiklah aku mengerti. Aku hanya berharap kita masih bisa berteman”. Aldhi terlihat murung.
“Kita masih tetap berteman, kita hanya tidak bertemu untuk sementara waktu”.
“Baiklah aku akan menunggu kabar darimu”.
“Bye Aldhi”. Aldhi menyalakan mesin motornya dan aku masuk rumah dan merebahkan tubuhku diatas kasur. Aku merogoh handphone dari dalam tas membalas pesan Jaz yang tadi belum sempat aku jawab.
“Sorry Jaz tadi aku masih makan”. Balasku.
“It’s oke baby bagaimana hari ini?”.
“Aku kehilangan satu temanku lagi karena cinta”. Tulisku. Jaz langsung meneleponku sepertinya tidak sabar dengan ceritaku hari ini.
“What happened baby?”. Tanya Jaz tidak sabar.
“Aldhi bilang suka padaku”.
“Terus?”.
“Tentu saja aku bilang kita tidak usah bertemu dulu. Aku tidak ingin perasaanya semakin dalam. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu sementara kamu tahu sendiri aku tidak bisa move on dari Altan. Aku tahu perasaan Aldhi saat ini, karena itu aku tidak ingin membuatnya berada pada posisi yang sulit”.
“Baby aku tidak mengetri denganmu. Kenapa tidak kau tinggalkan saja Altan yang tidak tahu diri itu? Dia tidak layak mendapatkanmu”.
“Umur panjang, Altan meneleponku. Aku akan menghubungimu nanti”. Aku segera menjawab panggilan Altan. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.
“Hai Baby how are you?”.
“I am great”. Jawabku dengan nada yang aku buat seceria mungkin.
“Meskipun tanpa aku?”. Altan terlihat tidak senang.
“Memangnya apa yang yang harus aku lakukan Altan? Bukan aku yang tiba-tiba menghilang seenaknya dan muncul sesukanya”.
“Baby I am busy”.
“Tapi tidak cukup sibuk untuk bermain dengan wanita lain”. Jawabku kesal. Aku sudah tidak bisa lagi berpura-pura kalau aku baik-baik saja. “Aku tidak bodoh Altan. Aku tahu apa yang kamu lakukan. Kamu tidak perlu tahu darimana aku tahu semua itu”.
“Baby trust me. Kalau aku punya waktu aku pasti akan menghubungimu”.
“Tidak lagi Altan. Aku sudah tidak sanggup menjadi mainanmu lagi. Aku akan melepaskanmu. Kau bebas mau melakukan apapun yang kamu suka”.
“Baby kenapa kau tidak percaya padaku?”.
“Karena kamu memang tidak bisa dipercaya. Aku tidak ingin kehilangan teman-temanku lagi. Aku tahu dari awal kamu memang tidak pernah menyukaiku. Aku memang cukup bodoh untuk kau permainkan. Tapi sekarang tidak lagi Altan. Aku akan mencintaimu orang yang tulus denganku, bukan orang yang hanya bermain-main denganku. Aku tahu aku akan menyesalinya nanti tapi aku harus menghapusmu dari ingatanku. Aku akan menghapus semua hal yang berhubungan denganmu Altan. Good bye Altan”.
Tanpa menunggu lagi aku langsung memutus panggilan. Aku juga menghapus Skype, Facebook, Hangout dan semua Contact yang berhubungan dengan Altan. Hanya ada dua pilihan yang aku miliki saat ini. tetap membiarkan bayang-bayang Altan menghantuiku atau menghapus semua bayang-banyang tersebut. Air mata menggenang dimataku. Aku tahu aku akan menyesalinya tapi aku juga tidak ingin terus merasa sakit. Aku hanya berharap ini adalh keputusan yang tepat, bukan karena emosi sesaat. Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semua dan membuka hati unutk orang yang benar-benar peduli padaku.


            

Tuesday, April 5, 2016

LOVE IS HURT


Part 2

           “Terima kasih ya sudah mau aku ajak nonton, aku seneng banget bisa jalan sama kamu hari ini”. Kata Adam sambil menggenggam tangan kiri ku erat namun lembut.
            “Oke, tidak masalah”. Aku mempercepat langkahku. Aku sedang berjalan bersama Adam namun pikiranku tetap tidak bisa di alihkan dari Altan. Bukanya aku menghianati Altan ataupun mempermainkan Adam tetapi sikap Altanlah yang membuatku menjadi seperti ini. Aku tidak ingin terus tenggelam oleh kesedihan karena sikapnya, karena itulah saat ada pria yang mengajakku nonton aku langsung mengiyakanya tanpa berfikir lagi.
            “Film apa yang ingin kau tonton?”. Tanya Adam seraya memperhatikan layar yang terpasang di belakang kasir pembelian tiket.
            “Allegiant”. Jawabku singkat mengikuti arah pandangan Adam. Dia memesan dua tiket Aligiant dan membayarnya. Sebelum berangkat aku sudah mencari informasi mengenai jadwalnya sehingga kita bisa langsung masuk.
            “Kamu tidak dingin?”. Adam menoleh padaku yang duduk dalam diam.
            “Tidak”. Jawabku singkat. “Alta maafkan aku tapi kamulah yang membuatku jadi seperti ini”. Pikiran itu terus memenuhi isi kepalaku mengabaikan keberadaan Adam yang duduk di sebelahku. Bahkan film yang sudah mulaipun tidak bisa mengalihkan pikiranku. Sampai fil selesai di putar aku tidak bisa fokus.
            “Kamu mau makan apa?”. Tanya Adam setelah kita keluar dari bioskop.
            “Sorry aku tidak ingin makan, kita langsung pulang saja tapi kalau kamu mau makan tidak apa-apa aku kana pulang duluan”. Moodku benar-benar sudah berubah seratus delapan puluh derajat tanpa alasan yang jelas. Yang aku inginkan adalah pulang dan masuk kamar.
            “Kamu yakin tidak amkana dulu? Kita makan sebentar yasetelah itu kita langsung pulang”. Adam masih berusaha membujukku dengan sabar.
            “Kamu makan saja aku akan pulang duluan”. Aku berjalan menjauh dari”.
            “Aku akan mengantarmu pulang”. Adam meraih tanganku supaya aku memelankan langkahku. Dia langsung mengantarku pulang.
            “Kamu kenapa? Sedang ada masalah?”. Tanya Adam di tengah perjalanan melihatku yang terus bungkam. Mungkin dia mulai penasaran.
            “Tidak, aku hanya lagi bad mood aja”. Jawabku agak ketus. Sebenarya aku tidak bermaksud bersikap seperti itu padanya. Tetapi aku juga tidak bisa mengontrol diriku. Adam memilih diam endengar sikapku yang menandakan sedang tidak ingin di ganggu. Sisa perjalanan kita lewatkan dengan kebisuan sampai tiba di depan pagar rumahku.
            “Makasih ya udah mau aku ajak jalan”. Kata Adam sekali lagi. “Lain kali mau kan kan kalau aku ajak jalan lagi? Besok boleh gak aku main ke sini?”.
            “Sorry Dam besok aku sudah ada rencana sama keluarga, biasa family time. Lain kali kalau aku ada awaktu kita masih bisa jalan kok”.
            “Oke, makasih ya sekali lagi”. Adam melemparkan senyum tulusnya sebelum pergi. Aku masuk rumah dengan wajah yang masih tampak seperti kain yang belum di setrika.
            Sampai di kamar aku kembali membuka laptopku dengan harapan Altan mengirimiku pesan lewat skype dan bilang i miss you padaku. Tapi yang dapatkan justru pesan dari Jazz yang menanyakan keberadaanku.
            “Aku baru sampai di rumah Jaz”. Balasku pada Jaz. Tidak sampai setengah menit Jaz langsung memanggilku lewat video call.
            “Hello baby, how your day?”. Tanya Jaz ceria.
            “Not Good jaz”.
            “Why? what happen baby?. By the way i miss your smile, smile for me please”. Lagi-lagi Jaz merengek seperti anak kecil minta di buatkan susu.
            “Aku sedang tidak ingin becanda Jaz. Dan memintaku untuk tersenyum di saat seperti ini adalah permintaan yang mustahil”.
            “Altan lagi? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Kenapa kau tidak meninggalkanya saja?”. Jaz berubah kesal.
            “Tidak semudah itu Jaz, aku sudah melakukan itu sebelumnya tapi aku hanya bisa bertahan dua minggu”.
            “Baby aku akan menjemputmu. Aku akan membuatmu melupakanya, akan aku ajak keliling Singapore juga belanja”.
            “Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku tidak bisa meninggalkanya, aku masih dalam masa percobaan”.
            “Altan?”. Tanya Jaz melihatku meraih Hanphone di sampingku dan membacanya dengan serius.
            “Bukan tapi Adam”. Kataku tanpa mengalihkan tatapanku dari handphone.
            “Siapa Adam? Apa yang dia katakan?”. Nampaknya rasa penasaran Jaz tidak bisa di bendung lagi.
            “Adam adalah pria yang aku katakan padamu kemarin. tiga tahun lebih muda dariku dan juga yang barusan nonton denganku. Dia bilang dia suka padaku”. Jawabku enteng namun detail.
            “Kenapa diabilang suka padamu?”.
            “Oh my God jaz. Haruskah kau tanyakan hal itu padaku? Mana aku tahu kenapa dia menyukaiku? Kenapa kau tidak tanyakan langsung saja padanya?”. Aku mulai kesal dengan sikap Jaz yang selalu ingin tahu.
            “Oke Baby jangan marah. I am sorry, oke”. Jaz mengatupkan kedua tanganya meminta maaf seperti anak kecil yang mau di hukum ibunya karena membuat kesalahan tak termaafkan.
            “Its oke”.
            “Bgaimana dengan Althan? Apa dia sudah memperlakukanmu dengan baik?”. Jaz mengalihkna pembicaraan melihat wajahku yang masih terlihat kesal.
            “Masih sama, dia masih cuek dan tidam mengirimiku pesan apapun. Memang sih aku yang memintanya untuk membiarkan aku sendiri dulu tapi setidaknya tidak bisakah dia bilang i miss you padaku?”. Aku semakin kesal tapi kali ini pada Jaz melainkan pada Althan.
            “Baby kalau kau memintanya tidak menghubungimu bagaimana dia menghubungimu?”.
            “Aku memang berkata seperti itu, tapi tidak bisakah dia peka sedikit saja. Saat aku berkata jangan bukan berarti hatiku menyuruhnya untuk menajauh, saat aku bilang baik-baik saja, hatiku sangat sakit”.
            “Baby katakan apa yang ingin kau katakan, beritahu dia apa yang kau inginkan. Bagaimana dia tahu kalau kau tidak memberitahunya apa yang kau rasakan. Laki-laki bukan peramal yang bisa membaca hati dan pikiran orang . dia adalah manusia biasa seperti pada umumnya”. Jaz tidak mengerti dengan sikapku.
            “Apa aku salah kalau menginginkan dia dan terlalu berharap padanya? Aku selalu bilang kalau mecintainya dan menginginkanya. Apa itu kurang?. Aku juga selalu bilang kalau aku selalu merindukanya setiap waktu. Apa itu tidak ckup untuk membuatnya peka meskipun cuma sedikit. Aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa Jaz. Kenapa kau sekaran juga mengatakan hal yang sama seperti dirinya?”. Aku merasa sudah putus asa. Tidak terasa air mataku jatuh di pipi.
            “Baby, I am sorry. Don’t cry oke. This is my fault”. Jaz terlihat panik. Ia memegang kepalanya dan menarik rambutnya frustasi.
            “Its oke, leave me alone now”. Kataku masih dengan air mata mengalir. Jaz minta maaf sekali lagi sebelum mengakhiri obrolan kami. Wajahnya nampak tidak rela untuk meninggalkanku yangmasih menangis.

            

Monday, March 21, 2016

LOVE IS HURT

PART 1


“Kenapa mencintaimu begitu menyakitkan? Mungkinkah karena aku terlalu mencintaimu sementara kau mempermainkanku? Setiap hari, setiap waktu, setiap jam, menit, detik aku selalu merindukanmu. Apa kau tahu rasanya merindukan seseorang yang tidak bisa kau lihat?. Aku membutuhkanmu disaat-saat tersulitku. Tapi kamu dimana. Kenapa malah orang lain yang selalu ada di sisiku dan menyemangatiku? Aku hanya menginginkanmu bukan orang lain. Ingin sekali aku melepasmu tapi aku terlalu takut melakukanya”. Cairan panas mulai mengalir deras membasahi wajahku.
“Kenapa kau tidak pernah mempercayaiku. Apa yang harus aku lakukan supaya kau merasa yakin kalau aku benar-benar mencintaimu”. Bukanya merasa bersalah Altan justru tersulut emosinya.
Hubungan kami memang masih seumur jagung. Hampir hanya ada pertengkaran setiap  kali kita bicara. Entah karena tanggal lahir kita yang sama atau karena sifat kita yang sama-sama egois.
“Lalu dimana saat aku sangat membutuhkanmu di sampingku? Kenapa kau selalu tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba datang tanpa aku minta. Kamu pikir aku terminal tempatmu singgah saat kau menunggu bus datang?. Aku juga punya perasaan. Aku ingin kau menganggapku orang yang penting bagimu. Bukan orang yang akan kau datangi pada saat kau menginginkanya”.
            “Lalu apa yang kau ingin aku melakukan apa? Aku tidak bisa memahamimu. Kalau kau menginginkanku seharusnya memberitahuku. Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak bicara apapun padaku”.
            “Untuk sementara waktu sebaiknya kita tidak bicara dulu. Kalau aku sudah merasa lebih baik aku akan menghubungimu”. Aku mematikan teleponku dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku merasa Altan mulai menjauh dariku. Aku merindukan dirinya yang dulu tapi tidak ingin membebaninya dengan memintanya tetap bersamaku kalau memang dia ingin pergi.
            “Halo Jaz kau di mana sekarang?”. Jaz meneleponku di saat yang tepat. Dia seperti superman ang selalu datang di saat-saat yang tepat tanpa aku memintanya. Suaraku bergetar saat berbicara denganya karena masih menangis.
            “Hei baby ada denganmu kau menangis?”. Suara Jez terdengar khawatir.
            “Ya, tapi aku baik-baik saja aku hanya ingin menangis hanya itu saja”.
            “Aku akan menghubungimu melalui video call”.
            “Tidak, jangan! Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa ingin menangis itu saja”.
            “Kau ingin aku memelukmu?”. Suara Jaz terdengar tulus. Dia selalu tahu bagaimana menenangkanku di saat aku sedang sedih. “Bertengkar lagi dengan pacarmu?”.
            “Dia bukan pacarku Jaz, tapi cinta bertepuk sebelah tangan”. Aku menggigit bibirku saat berkata seperti itu. Ada perasaan seperti tersengat listrik di dalam dadaku. Bukanya aku berbohong mengenai hubunganku, tetapi aku memang merasa hanya akulah yang mencintai Altan. Aku tidak tidak bisa melihat ketulusanya akhir-akhir ini. Aku hanya merasa dia sedang mempermainkanku.
            “Aku harap kau bisa mendapatkan orang yang mencintaimu melebihi cintaku padamu”.
            “Kamu mencintaiku?”. Aku terkejut dengan perkataan Jaz yang tidak tepat pada waktunya.
            “Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Tapi saat kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu baby. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian”.
            “Terima kasih Jaz, kau memang yang terbaik”. Aku merasa sedikit lebih tenang meskipun perasaan sakit itu masih terus mendiami hatiku yang paling dalam.
            “Baby besok apa rencanamu?”.
            “Aku akan nonton film dengan temanku”.
            “Pacarmu?”.
            “Bukan, dia hanya aku anggap sebagai temanku. Dia juga tiga tahun lebih muda dariku. Aku tidak ada niat pacaran dengan anak kecil”.
            “Baby aku juga dua tahun lebih muda darimu? Aku sedih mendengarmu berkata seperti itu. Apa kau menganggapku anak kecil seperti dirinya?”. Jaz merajuk membuatnya terlihat seperti anak kecil meskipun dia tidak ingin di anggap seperti anak kecil.
            “Tenang Jaz aku tidak menganggapmu seperti anak kecil. kau berbeda. Meskipun kau lebih muda dariku sikapmu lebih dewasa daripada aku. Wajahmu juga terlihat lebih tua dariku”.
            “Baby kau kejam. Tapi itu karena aku terlalu sibuk bekerja. Aku akan mengajakmu belanja, jalan-jalan dan makan malam romantis kalau kau ada di isni”.
            “Terima kasih Jaz tapi aku belum ada rencana untuk ke Singapore saat ini”. Jaz adalah pemilik beberapa spa dan salon di negaranya. Karena itu dia selalu terlihat lelah dan tua dari usianya.
            “Aku berharap bisa di sana dan memlukmu baby, tapi aku tidak bisa. Sebagai gantinya aku akan menyanyi untukmu”. Tanpa menunggu persetujuanku Jaz lagsung nyanyi lagu twinkle-twinkle little star andalanya.
            “Baby apa kau merasa lebih baik sekarang?”. Jaz menyunggingkan senyumnya lebar-lebar seperti anak kecil yang merasa puas setelah menyelesaikan pekerjaanya dengan mudah.
            “Sedikit. Kenapa kau tidak main gitar? Aku akan merasa lebih baik kalau kau juga main gitar untuk ku”.
            “Sorry aku tidak bisa main gitar, aku hanya bisa main piano”. Jaz merasa menyesal.
            “Its oke, saat aku pergi kesana kau harus mengajaku makan malam romantis di rstoran sambil memainkan piano”.
            “Aku akan lakukan apapun untukmu”. Jaz tersenyum puas.
            “Tapi jangan menyanyi lagu Indonesia, kau terdengar sangat buruk kalau nyanyi lagu Indonesia”.
            “Baby kau kejam”. Jaz kembali bersikap seperti anak kecil.
            “Tapi itu benar, aku tidak ingin orang lain mendengarnya, kalau kau bernyanyi di depanku tidak masalah. Aku bisa menerimanya, tapi aku tidak yakin dengan orang lain. Kemampuan bahasa Indonesiamu juga tidak terlalu bagus. Kau lebih banyak menggunakan bahasa Melayu daripada bahasa Indonesia”.
            “Aku sudah tahu kalau kau kejam tapi kenapa aku tetap menyukaimu? Seharusnya aku membencimu”. Jaz selalu blak-blakan apa adanya kalau bicara. Mingkin karena itulah kita merasa cocok satu sama lain.
            “Karena aku cute”. Aku nyegir jelek seperti anak tk kepedean yang tidak tahu apa itu rasa malu. “Jaz aku harus tidur sekarang. Ini suah lewat tengah malam”.
            “Oke baby, jangan lupa mimpikan aku. Good night”.
            “Good night Jaz, have a nice dream”.
            “You too baby”. Jaz mematikan teleponya.

            Waktu sudah hampir pagi tapi aku belum juga berhasil memejamkan mataku. Pikiranku di penuhi oleh bayangan Altan. Semakin erat aku memejamkan mata semakin jelas bayangan itu nampak dalam pikranku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain meneteskan air mata sampai aku merasa lelah dan ketiduran dengan sendirinya.