Part 3
“Aku udah di depan kantormu. Kapan kau keluar?”. Aldhi
mengirim line.
“Aku keluar sekarang”. Aku buru-buru memasukan barang-barangku
ke dalam tas dan berlari keluar menghampiri Aldhi yang tengah duduk di atas
motornya.
“Kau mau kemana?”. Tanya Aldhi tersenyum hangat begitu
aku sudah sampai di dekatnya. Aldhi adalah salah satu temanku yang belum lama
ini aku kenal. Ia pria yang baik dan menyenangkan.
“Aku kelaparan, bisakah kita cari makan?”. Aku mengernyit
memegangi perutku yang terasa melilit.
“Baiklah, kamu mau makan apa?”.
“Apa saja yang penting makan”. Aku segera duduk di
belakang Aldhi dan dia segera menghidupkan mesin motornya. Ia segera menarik
gas setelah memastikan aku sudah duduk dan berpegangan dengan aman di belakangnya.
Kita berhennti di kedai makan yang menjual berbagai
makanan serba bakar. Aldhi memarkir motornya sementara aku mencari tempat
duduk.
“Kenapa belum pesan? Katanya kau lapar?”. Tanya Aldhi
melihatku asik dengan handphone di tangaku.
“Aku nunggu kamu baru pesan”. Aku menyunggingkan senyum
menyambutnya. Seorang pelayan datang menanyakan apa pesanan kami berdua.
“Apa kau selalu bersikap seperti pada semua orang?”. Tanya
Aldhi setelah pelayan tersebut meninggalkan meja kami untuk mengambil pesanan
yang sudah dicatatnya diatas kertas kecil.
“Bersikap bagaimana?”.
“Selalu
tersenyum kepada siapapun dan bersikap baik tanpa memandang siapa mereka”.
“Memangnya
itu salah? Bukankah kita harus bersikap baik dan ramah kepada siapapun tanpa
terkecuali?”. Tanyaku tidak mengerti dengan perkataan Aldhi.
“Memang
benar tapi bisa membuat orang lain salah paham, termasuk aku”.
“Salah
paham? Aku tidak mengerti maksudmu?”. Pelayan tersebut kembali ke meja kamu
dengan beberapa makanan ditanganya. Ia meletakakn satu persatu pesanan kamu
hingga memenihi meja bulat kecil yang ada di depan kami.
“Karena
sikapmu membuatku jatuh cinta padamu?”. Lanjut Aldhi.
“What?!”.
Teriaku kencang. Cukup kencang hingga membuat pengunjung lain menoleh pada
kami.
“Aku
tahu kamu hanya menganggapku sebatas teman”. Aldhi terlihat tidak bersemangat.
“Boleh
aku makan dulu, setelah makan kita lanjutkan pembicaraan ini”. Aku hanya
meminta jeda untuk mengolah pikiranku. Aku tidak pernah berfikir Aldhi akan
berkata seperti itu. Yang aku tahu dia
adalah teman yang sejak awal dia sudah tahu kalau dia hanya bisa menjadi
temanku tidak lebih.
“Apakah
aku masih punya harapan?”. Tanya Aldhi, sepertinya ia sudah tidak bisa
membendungnya lagi.
“Maaf
itu permintaan yang sulit”. Kataku menyesal.
“Aku
mengerti. Kita masih bisa menjadi teman”. Kesedihan terlihat di wajah Aldhi.
“Sungguh
aku tidak ingin menyakiti siapapun. Bisakah kau tetap menjadi temanku dengan
keadaan seperti ini? aku itdak ingin menyakitimu. Kau adalah pria yang baik”.
“Asalkan
aku bisa bersamamu aku akan baik-baik saja. Kau tidak usah pedulikan
perasaanku. Biar aku yang mengurusnya. Yang perlu kau lakukan hanyalah tetap
menjadi temanku”.
Hatiku
merasa tidak enak mendengar perkataan Aldhi. Aku sangat tahu bagaimana
perasaanya. Kalau aku terus bersamanya
dan menahanya disisiku itu hanya akan menyakitinya. Aku tidak bisa melakukan
itu. Selesai makan Aldhi langsung mengantarku pulang. Aku juga tidak ingin
membuatnya dalam posisi yang lebih sulit.
“Aldhi
sorry aku tidak ingin menyakitimu. Aku ingin kita jangan bertemu dulu, aku
minta maaf”. Kataku setelah sampai di depan rumah.
“Aku
tidak akan meminta apapun darimu”.
“Karena
itu aku tidak ingin mnehanmu. Itu hanya akan menyakitimu”.
“Baiklah
aku mengerti. Aku hanya berharap kita masih bisa berteman”. Aldhi terlihat
murung.
“Kita
masih tetap berteman, kita hanya tidak bertemu untuk sementara waktu”.
“Baiklah
aku akan menunggu kabar darimu”.
“Bye
Aldhi”. Aldhi menyalakan mesin motornya dan aku masuk rumah dan merebahkan
tubuhku diatas kasur. Aku merogoh handphone dari dalam tas membalas pesan Jaz
yang tadi belum sempat aku jawab.
“Sorry
Jaz tadi aku masih makan”. Balasku.
“It’s
oke baby bagaimana hari ini?”.
“Aku
kehilangan satu temanku lagi karena cinta”. Tulisku. Jaz langsung meneleponku
sepertinya tidak sabar dengan ceritaku hari ini.
“What
happened baby?”. Tanya Jaz tidak sabar.
“Aldhi
bilang suka padaku”.
“Terus?”.
“Tentu
saja aku bilang kita tidak usah bertemu dulu. Aku tidak ingin perasaanya
semakin dalam. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu sementara kamu tahu
sendiri aku tidak bisa move on dari Altan. Aku tahu perasaan Aldhi saat ini, karena
itu aku tidak ingin membuatnya berada pada posisi yang sulit”.
“Baby
aku tidak mengetri denganmu. Kenapa tidak kau tinggalkan saja Altan yang tidak
tahu diri itu? Dia tidak layak mendapatkanmu”.
“Umur
panjang, Altan meneleponku. Aku akan menghubungimu nanti”. Aku segera menjawab
panggilan Altan. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.
“Hai
Baby how are you?”.
“I
am great”. Jawabku dengan nada yang aku buat seceria mungkin.
“Meskipun
tanpa aku?”. Altan terlihat tidak senang.
“Memangnya
apa yang yang harus aku lakukan Altan? Bukan aku yang tiba-tiba menghilang
seenaknya dan muncul sesukanya”.
“Baby
I am busy”.
“Tapi
tidak cukup sibuk untuk bermain dengan wanita lain”. Jawabku kesal. Aku sudah
tidak bisa lagi berpura-pura kalau aku baik-baik saja. “Aku tidak bodoh Altan. Aku
tahu apa yang kamu lakukan. Kamu tidak perlu tahu darimana aku tahu semua itu”.
“Baby
trust me. Kalau aku punya waktu aku pasti akan menghubungimu”.
“Tidak
lagi Altan. Aku sudah tidak sanggup menjadi mainanmu lagi. Aku akan melepaskanmu.
Kau bebas mau melakukan apapun yang kamu suka”.
“Baby
kenapa kau tidak percaya padaku?”.
“Karena
kamu memang tidak bisa dipercaya. Aku tidak ingin kehilangan teman-temanku
lagi. Aku tahu dari awal kamu memang tidak pernah menyukaiku. Aku memang cukup
bodoh untuk kau permainkan. Tapi sekarang tidak lagi Altan. Aku akan
mencintaimu orang yang tulus denganku, bukan orang yang hanya bermain-main
denganku. Aku tahu aku akan menyesalinya nanti tapi aku harus menghapusmu dari
ingatanku. Aku akan menghapus semua hal yang berhubungan denganmu Altan. Good
bye Altan”.
Tanpa
menunggu lagi aku langsung memutus panggilan. Aku juga menghapus Skype,
Facebook, Hangout dan semua Contact yang berhubungan dengan Altan. Hanya ada
dua pilihan yang aku miliki saat ini. tetap membiarkan bayang-bayang Altan
menghantuiku atau menghapus semua bayang-banyang tersebut. Air mata menggenang
dimataku. Aku tahu aku akan menyesalinya tapi aku juga tidak ingin terus merasa
sakit. Aku hanya berharap ini adalh keputusan yang tepat, bukan karena emosi
sesaat. Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semua dan membuka hati unutk
orang yang benar-benar peduli padaku.
No comments:
Post a Comment