Saturday, September 26, 2015

AKU MEMBUTUHKANMU DISAMPINGKU

                                AKU MEMBUTUHKANMU DI SAMPINGKU

          “Dia bos kita?”. Tanya lia pada Michael yang duduk di depanya.
         “Bukan dia manajer pemasaran”.
         “Aku sering melihatnya di sini aku kira dia bos kita”.
         “Staf dari manajemen pemasaran dan manajemen promosi memang jadi satu ruangan supaya memudahkan kita semua untuk berkomunikasi. Kamu tahu sendiri kan kita juga harus banyak rapat dan berbagi strategi dengan staf pemasaran”.
        “Pantas saja aku sering melihatnya masuk sini”. Lia manggut-manggut tanda mengerti.
        “Kau menyukainya?”. Bisik Michael pelan.
        “Apa ada wanita yang tidak menyukainya dia tampan dan muda selain itu bisa di bilang dia sudah memiliki karir yang bagus”.
        “Hati-hati di ruangan ini semua mengincarnya”.
      “Kau yang mengerjakna laporan ini?”. Orang yang di bicarakan mereka menghampiri meja lia.
       “Iya pak”. Jawab Lia tanpa ragu.
     “Kau bilang ini laporan? Aku tidak tahu bagaimana kau bisa di terima kerja disini. Perbaiki lagi dan serahkan padakan padaku. Aku tunggu sampai jam setengah enam. Gara-gara kamu aku tidak bisa pulang tepat waktu sekarang”. Setelah berkata begitu manajer tersebut pergi ke ruanganya. Semua mata memandang lina yang masih berdiri menahan malu.
    “Sabar ya dia memang biasa seperti itu apalagi pada karyawan baru”. Michael menyemangati.
      “Tapi aku kan masih banyak yang belum mengerti harusnya di kasih tahu baik-baik bukan seperti itu caranya. Aku tidak mengerti apa yang di lihat para wanita disini dari dirinya”. Gerutu Lia tidak terima.
      “justru itu yang daya tariknya. Dia terlihat cool seolah sulit untuk di raih”. Michael tersenyum seperti layaknya seseorang yang tengah jatuh cinta.
          “bagiku dia tidak layak untuk di jadikan pria idaman”.
         “lina malam ini kita mau karaoke bareng besok kan kita libur mau gabung?”. Tanya Tia yang duduk di sebelah lia.
          “Boleh aku juga lagi butuh refreshing”.
        “Cepat selesaikan laporanya supaya kita bisa cepat berangkat. Kita tunggu kamu di sevel depan kantor ya”. Setelah berkata begitu Tia dan lainya meninggalkan ruangan karena jam memang sudah menunjukan pukul lima.
       “Baiklah aku akan menyelesaikanya secepat yang aku bisa”. Kata Lia yakin. Lia kembali menyusun laporanya dengan cermat supaya tidak terjadi keslahan lagi. Meskipun dia sudah bekerja keras tidak mudah menyelesaikan laporan yang sesuai dengan kemauan manajer dengan waktu yang terbatas. Sudah lebih dari setengah jam dia memelototi computer namun laporanya belum juga selesai karena memang banyak yang harus di revisi. “Tia aku belum selesai ini masih banyak yang harus aku selesaikan kalian duluan saja nanti aku akan menyusul”. Lia menelepon Tia.
            “Oke nanti kalau sudah selesai segera hubungi aku ya sekarang kita akan langsung menuju Sency”.
            “Siip akan aku usahakan supaya cepat selesai”. Lia menutup teleponya dan kembali memfokuskan mata dan juga pikiranya pada monitor computer yang ada di depanya.
            “Kamu masih di sini?”. Manajer Dion berjalan pulang.
            “Iya Pak saya masih mengerjakan laporan yang tadi bapak kembalikan”.
         “Kamu masih punya waktu besok pagi aku memerukanya jam sepuluh yang lain sudah pada pulang kau juga cepat pulanglah”.
       “Baik pak sebentar lagi selesai”. Lia menjawabnya dengan ramah meskipun sebenarnya hatinya berteriak memakinya. “Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau membutuhkanya besok kenapa kau bilang harus menyerahkanya hari ini  juga”. Protes Lia kesal setelah manajer Dion sudah berada di luar ruangan.
                                                @#%@#$%@#$%
            “Lia apa oendapatmu tentang gay?”. Tanya Michael mereka sedang makan siang di kafe dekat kantor.
            “Gay? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”.
            “Tidak apa-apa jawab saja aku hanya ingin dengar pendapatmu tentang mereka”.
           “Ehm menurutku tidak ada yang salah dengan mereka. Itu hak mereka untuk memilih siapa yang mereka cintai karena menurutku ketika cinta dating pada seseorang orang tersebut tidak akan dapat menolaknya  bagaimanapun caranya. Aku juga berpikir seorang gay jauh lebih baik di banding seorang playboy”.
            “Jadi kau tidak membenci ataupun menyalahkan mereka?”.
            “Tidak, kenapa aku harus membencinya kta hidup di jaman demokrasi”.
            “Kau adalah orang pertama yang berpendapat seperti itu. Seandainya semua orang bisa berpikir sepertimu”.
            “Semua orang akan menjadi gay”.  Jawab Lia  enteng.
        “Waktu kita tinggal sepuluh menit lagi cepatlah kalau tidak mau kena omel bos” Michael mengingatkan. Mereka segera melahap makanan yang ada di depanya dengan cepat dan kembali ke kantor.
          “Kalian pacaran? Aku lihat kalian selalu pergi berdua akhir-akhir ini”. selidik salah satu rekan kerja lia begitu mereka sampai di kantor.
            “Tidak kami hanya berteman jawan lia dan Michael bersamaan.
      “Padahal kalau kau pacaran denganya saingan untuk mendekati manajer Dion berkurang satu”. Sahut yang lainya.
            “Lupakan saja keberadaanku aku tidak tertarik denganya”.
            “Benarkah? Kalau begitu pria seperti apa  yang kau suka?”.
            “Pria yang memiliki hati lembut dan romantic seperti Michael”. Lia menunjuk Michael yang tengah asyik merenung di depan komputernya.
            “Kalau begitu kenapa kau tidak pacaran saja denganya?”.
            “Dia tidak tertarik denganku. Benarkan Michael?”.
         “Satu jam lagi kita kan rapat bersama divisi marketing kalian siapkan berkas-berkasnya dan juga laporan kalian”. Kata Dion
            “Baik pak jawab seluruh staff bersamaan.
            “Kira –kira apakah manajer mendengar pembicaraan kita?”. Tanya Lia pada Michael pelan.
            “Aku tidak tahu kalaupun dia dengar apa untungnya bagi dia”.
            “Kau benar”. Jawab Lia, mereka sibuk menyiapkan berkas-berkas yang di perlukan dan juga mengecek ulang laporan yang sudah di persiapkan. Mereka ingin memberikan laporan terbaik di depan manajer Dion. Tidak hanya laporan yang di periksa namun juga dandanan mereka. Ada yang sedang mematut dirinya di depan cermin adapula yang sedang mempertebal bibirnya dengan lipstick warna merah menyala.
            “Lia kamu mau pulang?”. Sebuah mobil berhenti di depannya.
            “Iya pak”.
            “Dimana kamu tinggal?”.
            “Di daerah Ciputat”.
            “Kita searah naiklah”. Perintah manajer Dion.
            “Tidak pak terima kasih saya menunggu bis saja”. Tolak Lia halus.
          “Kau tidak mau karena menyimpan dendam padaku sudah aku suruh-suruh meskipun aku bukan atasanmu?”.
            “Tidak pak bukan begitu”. Jawab Lia cepat.
            “Kalau begitu naiklah”. Perintahnya sekali lagi. “dengan berat hati dia masuk mobil manajer Dion karena tidak ingin mendapat kesan buruk darinya.
            “Bagaimana kesanya kamu bekerja bersama kami?”.
            “Menyenangkan meskipun terkadang melelahkan”. Jawab Lia jujur.
            “Kau jujur sekali”. Manajer Dion tersenyum. Berbeda dengan manajer di kantor yang lia lihat selama ini. Manajer Dion yang Lia tahu adalah orang yang tidak pernah tersenyum dan terkesan menekan. Begitu dia muncul atmosfir di ruangan berubah jadi kaku dan dingin.
          “Bapak bisa tersenyum?”. Kata-kata meluncur dari mulut Lia begitu saja membuatnya mengutuk dirinya sendiri supaya mulutnya tidak bisa bicara lagi.
            “Kamu pikir aku ini bukan manusia?”.

         “Bukan begitu pak maaf karena bapak selalu terlihat serius dan tegang di kantor”. Jawab Lia takut-takut. Manajer Dion tersenyum lagi mendengar pengakuan Lia.
“Kau ini terlalu jujur, berani apa polos?”.
            “Maksud bapak?”. Tanya Lia tidak mengerti.
        “Tidak apa-apa”. Jawab manajer Dion sambil fokus menatap jalan raya yang ada didepanya.
           
            “Lia nanti temenin aku cari kado buat adiku ya!”. Pinta Michael ketika keluar ruangan selesai meeting dengan team Promosi dan team Pemasaran.
            “asal kau antarkan aku pulang”. Jawab Lia ringan.
            “Lia aku ada perlu denganmu jadi sepulang kantor nanti aku minta kau tetap disini”. Pinta Manajer Dion tidak terduga membuat Lia khawatir kesalahan apa yang sudah di buatnya.
            “baik pak”. Jawab Lia sedikit gemetar.
            “Kenapa dia memintamu untuk tinggal? Kau membuat kesalahan?”. Tanya Michael khawatir”.
            “aku juga tidak tahu. Mungkin dia punya pekerjaan untuk ku”. Jawab Lia mencoba untuk positive thinking. Dia tidak menyadari kalau ada beberapa pasang mata sedang menatapnya tajam dari jauh.
          “Lia ayo ikut aku”. Manajer Dion menghampiri Lia yang tengah menatap komputernya sendirin. Karyawan lain sudah pulang karena jam sudah meunjukan pukul setengah enam.
            “Baik pak”. Lia berdiri dengan cepat mengikuti langkah Manajer dion.
            “kita mau kemana pak?”. Tanya Lia tidak kuat lagi menahan rasa penasaranya.
            “kita sudah sampai”. Manajer Dion menghentikan  mobilnya tepat di depan sebuah CafĂ© bergaya klasik. Dia mengajak Lia masuk dan duduk di sebuah meja dekat jendela yang mengarah ke jalan raya. Seorang weitres menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu di hadapan mereka. “kita makan dulu setelah itu ada yang mau aku bicarakan denganmu”. Manajer Dion menatap Lia serius membuatnya semakin gugup.
            “baiklah”. Lia mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah acara makan malam selesai Manajer Dion membuka suara. “Lia ada yang amu aku tanyakan padamu”. Katanya serius.
            “silahkan pak”.
            “Apa yang kau pikirkan tentang aku?”.
            “Maksud bapak?”. Tanya Lia bingung.
            “Kau menilai diriku seperti apa?”.
            “Bapak orangnya baik dan  juga pekerja keras selain itu bapak juga keren karena semua karyawan wanita di kantor kita menyukai bapak. Mereka berlomba untuk mendapatkan perhatian bapak”. Jawab Lia jujur.
            “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukaiku?”.
            “Aku rasa tidak ada wanita yang tidak menyukai bapak”.
          “Kalau begitu maukah kau menjadi pacarku”. Tanya manajer Dion membuat Lia bagai mendapat madu dan juga racun dalam waktu bersamaan. Dia tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu. “Bagaimana?”. Manajer Dion masih menunggu reaksi Lia yang dari tadi mematung menyatu dengan kursi yang di dudukinya.
            “Saya belum siap untuk menjawabnya sekarang”.
            “Kau tidak perlu menjawabnya kita coba dulu aja kalau kau merasa tidak nyaman denganku aku tidak akan memaksamu”.
            “Apa yang bapak suka dariku?”.
            “Kau pekerja keras dan juga ulet. Kau berbeda dengan karyawan lain yang selama ini aku lihat. Kau apa adanya. Aku sering memperhatikanmu tapi kau tidak menyadarinya. Kau selalu sibuk dengan karyawan yang bernama Michael itu”.
            “Seperti yang bapak tahu begitu banyak perempuan di kantor yang menyukai bapak. Aku tidak tahu kalau sampai mereka aku pacaran dengan bapak”.
            “Tidak usah khawatir aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu”. Jawaban manajer Dion cukup membuat hati Lia tenang. “Dan satu lagi jangan memanggilku pak kita sekarang kita sepasang kekasih kau cukup memanggil namaku saja”.
            “Dan aku juga tidak akan bersikap formal lagi padamu”. Lia tersenyum canggung memikirkan mereka sekarang lebih dari sekedar manajer dan staf.
           
            “Nanti tunggu aku ya kita mampir ke suatu tempat dulu”. Pesan Dion saat melewati meja Lia. Lia menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
            “Kalian pacaran?”. Tanya Sifa rekan Kerja Lia yang duduk di di sebelah kananya.
            “Apa hubungan kalian sebenarnya kenapa kalian sekarang sering bersama?”. Yang lain ikut menimpali dengan tatapan tidak senang. Lia hanya menanggapinya dengan diam karena tidak tahu harus menjawab apa supaya mereka puas dengan jawaban yang di berikanya.
            “Lia ikut aku”. Michael menarik Lia ke Pentry.
            “Terima kasih telah menyelamatkanku”. Lia bernafas lega.
           “Apa sebenarnya hubungan kalian?”. Michael menatap Lia serius tidak seperti dirinya yang biasanya.
            “kami pacaran”. Jawab Lia polos.
“what…?! Kamu serius? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?”. Michael merasa di hianati.
            “Maaf kami baru beberapa hari memutuskan untuk pacaran?”.
            “Kau yakin tidak menyesalinya? Aku sudah bekerja cukup lama di sini jadi aku sedikit lebih tahu dia daripada kamu. Menurutku kau jangan terlalu menyukainya”.
            “Kenapa begitu?”. Tanya Lia mengerutkan keningnya.
            “Karena kau orang terbaik yang aku kenal selama ini aku hanya tidak ingin kau sakit hati”.
            “Aku tidak akan pernah merasa sakit hati jangan khawatir”.
            “Aku harap juga begitu”. Mereka keluar pantry bersama untuk kembali ke tempat duduk masing-masing.
           
            “Lia maaf hari ini kita tidak bisa pulang bareng aku harus lembur”. Dion mengirim pesan pada Lia.
            “Lagi-lagi kau melanggar janjimu siapa sebenarya yang kau cintai? Aku apa pekerjaanmu?”. Gumam Lia pelan.
            “Michael mau jalan denganku?”. Tanya Lia antusias setelah membaca pesan dari Dion.
            “Ayo sudah lama kita tidak jalan bersama”.
            “Apa kau merasa tidak terlalu serakah?”. Tanya rekan kerja Lia sinis. “Kau sudah bosan dengan manajer Dion dan sekarang kau bermain dengan pria lain?”. Lanjutnya.
            “Kita sahabat”. Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Lia”.
       “Jangan pikirkan kata-kata mereka. Mereka hanya iri padamu kau juga tahu kan mereka sudah lama mengincar manajer Dion”. Hibur Michael. Mereka berjalan menuju parkiran dimana motor Michael di parkir.
            “Aku tidak memikirkanya aku hanya merasa tertekan setiap hari di jauhi dan di sindir”. Kata Lia sedih.
            “Mari kita bersenang-senang aku akan memacu andrenalimu bersiaplah”. Michael tersenyum licik. Dia segera menjalankan motornya dengan Lia duduk di belakangnya. “Pegangan yang erat kalau kau tidak ingin jatuh”. Michael memacu motornya semakin cepat Menebus jalan raya.
            “kau memang satu-satunya orang yang paling mengerti perasaanku. Kenapa bukan kau saja yang jadi pacarku”. Lia menerawang menembus udara yang tidak kasat mata. Michael menghentikan motornya di taman BSD yang tidak terlalu ramai.
            “bukankah manajer Dion adalah pacar idaman setiap wanita?”.
            “Awalnya aku juga merasa beruntung bisa memilikinya tapi tidak semua yang terlihat indah selalu indah”. Lagi-lagi Lia menerawang dengan sorot mata sedih. Setelah malam semakin larut Michael mengantar Lia ke rumah mengingat besok mereka masih harus di sibukan dengan pekerjaan yang menantinya.
           
            “Lia kamu aku panggil ke sini karena ada yang mau aku tanyakan padamu”. Manajer Lia memanggilnay ke ruanganya. “Aku minta kau menjawabnya dengan jujur. Apa benar kau pacaran dengan manajer Dion?”,
            “Benar Pak”. Jawab Lia.
            “Kau tahu kan peraturanya kalau dalam satu perusahaan tidak boleh ada hubungan asmara?”.
            “Iya Pak saya tahu”. Lia tidak berani mengangkat kepalanya.
            “kalau begitu langsung  saja. Kau pilih di pindah ke cabang lain atau mengakhiri hubunganmu denganya? Kalau aku memecatmu aku tidak rela karena kau karyawan yang pekerja keras dan juga ulet”,
            “Boleh saya minta waktu untuk memikirkanya pak?”.
            “Baiklah kalau kau sudah menemukan jawabanya segera hubungi aku sekarang kau boleh keluar”.
            “Terima kasih pak”. Lia berjalan dengan langkah gontai menuju mejanya.
“Apa akhirnya dia di pecat? Itu akibatnya kalau karyawan baru sudah berani macam-macam biar tahu rasa dia”. Terdengar para rekan kerjanya membicarakanya atau lebih tepatnya mengutuknya membuat kepala Lia terasa mau meledak. Dia merasa waktu berjalan sangat lambat. Yang ada di pikiranya hanyalah bisa segera keluar dari kantor secepatnya.
“Michael beri tahu aku apa yang harus aku lakukan?”. Lia tertunduk lesu berdiri di depan rumahnya. Michael mengantarnya pulang.
“Kau sudah bicara dengan Dion?”.
“Akhir-akhir ini dia sangat sibuk bahkan kita jarang bertemu. Setiap aku telpon katanya ada kerjaan. Aku sangat membutuhkanya tapi dia sedang asyik dengan dunianya sendiri”. Lia mulai menangis sesenggukan.
“Karena itulah dari awal aku memintamu untuk tidak terlalu mencintainya”. Michael memeluk Lia lembut.
“Tapi sekarang sudah terlambat aku terlanjur mencintainya aku tidak ingin dia terpengaruh dengan semua ini. Aku sangat ingin dia ada untukku sekarang tapi aku tidak ingin dia tahu apa yang terjadi denganku di kantor”.
“kau memang bodoh”. Michael mengusap kepala Lia lembut berharap bisa sedikit menengkan hatinya.
“Lia apa yang kalian lakukan?”. Dion keluar dari mobilnya dengan raut muka yang sulit untuk di baca.
“Dion!”. Lia sedikit menjauh dari Michael.
“Apa yang kalian lakukan di belakangku? Lia kau menghianatiku?!”. Dion menatap Lia tajam.
“Ini tidak seperti yang kau kira aku akan menjelaskanya padamu”. Lia berjalan menghamipiri Dion dan meraih tanganya. Dion mengibaskanya keras.
“Kau tidak perlu menjelaskan apapun karena semua sudah sangat jelas bagiku. Jangan pernah lagi bicara denganku”. Kata Dion marah. Dia pergi meninggalkan Lia yang masih menatapnya dengan perasaan sedih. Hatinya terasa seakan berlubang. Dia tidak kuat lagi menahan semuanya dan mengangis sejadi-jadinya di pelukan Michael sahabat setianya.
“Keluarkan semuanya jangan di tahan lagi aku di sini”. Kata Michael pelan. Hatinya terasa hancur melihat Lia menangis seperti ini. Setelah Lia sudah mulai tenang Michael melepaskan pelukanya. “Jangan khawatir aku akan menberi pelajaran laki-laki tidak tahu diri itu. Dia sudah membuatmu seperti ini aku tidak akan melepasknya”. Kata Michael garang lalu meinggalkan Lia memacu motornya dengan cepat.
“Michael apa yang akan kau lakukan jangan bodoh”. Teriak Lia  keras namun yang di ajak bicara sudah menghilang bersama udara malam. “Michael bisa kau kembali sekarang aku lebih membutuhkanmu di sini sekarang kalau kau masih sahabatku kembalilah”. Lia menelepon Michael.
“Lia aku akan segera kembali kau jangan khawatir”. Michael menutup teleponya. Tidak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintunya.
“Michael?”. Lia menarik daun pintu memastikan bahwa Michael benar-benar mendengarkanya.
“Sayang sekali aku bukan dia”.
“Dion apa yang kau lakukan disini?”. Lia tidak menyangka dion yang berdiri di depan pintunya bukan Michael. Bukankah kau bilang  untuk tidak berbicara denganmu lagi?”.
“Aku minta maaf aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padamu”. Dion terdengar sangat sedih. Dia tidak berani menatap mata Lia.
“tTidak apa-apa kau tidak perlu minta maaf padaku. Kalau sudah tidak ada yang kau bicarakan pulanglah aku ingin sendiri”. Lia menutup pintunya kembali. Melihat Dion berdiri di depanya entah kenapa membuatnya hatinya semakin sakit.
“Lia tunggu”. Dion menahan daun pintu dan menrik Lia kembali keluar. “Michael sudah menceritakan semuanya. Aku minta maaf karena tidak ada di sampingmu disaat kau sangat membutuhkan aku. Aku tahu aku bodoh dan tidak peka”.
“sudah aku bilang kau tidak perlu minta maaf seperti yang kau  katakan kita tidak perlu bicara lagi. sekarang pulanglah”. Lia memaksakan untuk tersenyum dan berbalik hendak masuk rumah.
“Apa yang harus aku lakukan?”. Dion memeluk Lia dari belakang dengan erat. “Katakan padaku apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkanku”. Dion membenankan wajahnya di pundak Lia.
“Dion kau menangis?”. Lia merasa pundaknya mulai basah.
“Kau tidak salah tidak ada yang perlu aku maafkan”. Lia memutar tubuhnya menghadap Dion. Lia mengangkat wajah Dion dan memeluknya erat. Mereka berpelukan cukup lama.
“Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikanmu daripada pekerjaanku”. Dion melepaskan pelukanya.
“Kau yakin bisa melakukanya?”.
“Aku akan melakukanya dan tidak akan membiarkan pria itu lebih sering berada di dekatmu di bandingkan aku”. Dion memasang muka cemberut. “Meskipun dia seorang gay tapi bisa saja dia merubah seleranya dan mencurimu dariku”. Lanjutnya.
“Bagaimana kau tahu Michael seorang gay?”. Tanya Lia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Sudah aku bilang dia sudah menceritakan semuanya padaku tanpa tertinggal sedikitpun”.
“Sebaiknya kau benar-benar melakukanya”. Lia memancarkan senyum cerianya kembali. Dia merasa sedikit bebanya sudah terangkat meskipun besok masih harus menghadapi bos dan rekan-rekan kerjanya.
“Malam ini aku akan membuatmu jadi wanita paling bahagia di seluruh dunia. Lupakan semua yang terjadi juga mengenai masalah kantor aku akan mengurus semuanya”. Dion mengecup kening Lia kemudian membawanya maniki mobilnya untuk membuat Lia menjadi wanita yang benar-benar paling bahagia malam ini.
           
           

Wednesday, September 23, 2015

ITU HANYALAH SEBUAH ALASAN UNTUK BERTEMU DENGANMU

Pagi yang cerah adalah awal yang baik untuk memulai hari ini. angel  berangkat pagi-pagi seperti biasa menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Baru keluar pagar dia terpana melihat apa yang ada di depan matanya.
“Oh ostaga kau lucu sekali”. Kata Angel gemas. “Boleh aku memegangnya?”. Tanyanya pada pemilik anjing mungil nan lucu tersebut.
“Boleh”. Jawabnya sambil tersenyum ramah. Angel membelai bulunya yang lembut dan panjang.
“Kau sangat manis. Perkenalkan namaku angel”. Angel menjabat salah satu kaki depanya layaknya berkenalan dengan manusia. “namanya siapa mas?”. Tanya Angel pada pemiliknya.
“Namanya vodka. Sepertinya kau sangat menyukai anjing”.
“Kau benar dulu aku memiliki dua, seseorang membelikanya untukku tapi aku tidak punya waktu untuk mengurusnya jadi aku kembalikan. Kadang-kadang aku sangat merindukan mereka. Aku harap mereka bahagia di tempat barunya”. Angel hampir menitikan air mata. “Aku harus pergi sekarang selamat tinggal Vodka. Kata Angel dan buru-buru pergi karena tidak ingin menjatuhkan air matanya didepan orang asing.
“Pagi Angel tumben sekali kau telat, biasanya kau orang pertama yang datang di sini”. Sapa Diana.
“Iya aku terkena macet”. Angel membuat alasan.
“Cepatlah ganti baju nanti kau akan kena omel kalau terlambat”.
“Iya aku akan segera menyusulmu”. Angel berlari menuju lokernya dengan cepat. Hari berjalan seperti biasa. Bertemu dengan pasien dan membantu merawat mereka. Saat bersama mereka adalah saat-saat yang menyenangkan bagi Angel. Tidak terasa waktu sudah sore menanandakan bahwa angel harus berpisah dengan mereka.
“Ini masih sore dan besok kita libur. Bagaimana kalau kita nonton dulu”. Ajak Diana.
“Aku ingin cepat berada di kamarku aku sangat lelah”. Jawab Angel malas.
“Kamu tidak asik. Cepatlah cari pacar biar hidupmu tidak membosankan”.
“Aku lebih suka kalau kau yang jadi pacarku. Bukankah kau juga jomblo”. Goda Angel.
“Kau sakit? Maaf ya aku tidak suka makan jeruk”.
“Baiklah nikmati hidupmu yang juga membosankan itu sendiri aku akan pulang. Sampai besok”. Agel melambaikan tangan dan masuk taxi yang berhenti di depanya.
                                    @#$%@#$%@#$%
“Selamat pagi, mau berangkat kerja?”. Angel membalikan badan untuk melihat siapa yang menyapanya.
 “Hallo selamat pagi Vodka”. Sapa Angel ceria begitu melihat anjing mungil itu mengabaikan pemiliknya
“Setiap hari kau mengajak Vodka jalan-jalan di sekitar sini?”.
“Iya benar”
“Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu ya?”.
“Itu karena aku baru pindah di sini. Baru satu minggu yang lalu”.
“Pantas saja aku tidak pernah melihatmu”..
“Itu rumahku”. Pria tersebut menunjuk salah satu rumah yang sangat besar dan indah. Selama ini Angel tidak menyadari kalau telah berdiri sebuah rumah besar di dekat rumahnya. “Kapanpun kau ingin melihat Vodka kau bisa datang kesini”. Lanjut pria tersebut.
“Baiklah tapi jangan protes kalau suatu saat Vodka lebih menyukaiku daripada menyukaimu karena aku  akan sering mengunjunginya”.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi”.
“Sebaiknya begitu”. Angel tersenyum. “Aku harus pergi sekarang sampai jumpa lagi Vodka”. Angel mengusap bulu Vodka gemas kemudian pergi untuk bekerja sampai sore seperti biasa.
“Aku tidak mau tahu pokoknya malam ini kita harus jalan kemarin kamu sudah menolaknya masak sekarang kau juga tidak mau”. Rengek Diana.
“Kalau kau mau mentraktirku di restoran biasa aku akan jalan”.
Jawab Diana mantap. Mereka menuju PIM  dengan mobil Diana.
“Kenapa kau suka sekali ke tempat ini apa kau tidak bosan selalu ke tempat yang sama?”. Tanya Diana.
“Karena disini banyak makanan yang enak-enak selain itu aku rasa ini tempat yang nyaman untuk jalan”.
“Yang kau pikirkan hanya makanan melulu beruntung kau bukan tipe orang yang mudah gendut”.
“Kalau kau merasa bosan datang ke sini kau bisa mengajak orang lain ke tempat lain”.
“Dimanapun tempatnya temanya si angel”.
“Ngeles saja kayak bajaj”. Mereka tertawa bersama. Selesai makan mereka berjalan-jalan untuk sekedar cuci mata.
“Hallo selamat malam, kita bertemu lagi”. Seorang pria menghampiri Angel yang tengah asik mengagumi sebuah gaun yang di pajang di etalase salah satu toko.
“Malam apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Angel tersenyum ramah.
“Hanya jalan-jalan saja. Kau sendirian?”.
“Tidak aku bersama temanku”. Angel menunjuk Diana yang sedang berjalan ke arahnya. Kenalkan ini temanku Diana dan Diana ini tetangga baruku namaya”. Angel terdiam dia baru menyadari kalau selama ini dia tidak pernah menanyakan nama pria tersebut.
“Radit”. Sambung Radit cepat sambil mengulurkan tanganya pada Diana untuk di jabat.
“Oh my God aku adalah fans beratmu aku Diana”. Diana menjabat tangan radit antusias.
“Fans?”. Tanya Angel bingung.
“Kau tidak tahu siapa dia”. Tanya Diana tidak percaya.
“Tidak”. Angel menggelengkan kepalanya polos sambil melirik radit.
“Aku akan memberitahumu”.
“Tidak perlu”. Potong Radit cepat. “lagipula aku bukan orang hebat kok. Habis ini kalian mau kemana?”.
“Kita mau pulang”. Jawab Angel cepat. Dia ingin segera menjauh dari Radit karena malu tidak tahu siapa Radit sebenarnya. “Silahkan lanjutkan jalan-jalanya kami pergi dulu”. Angela tersenyum ramah dan menyeret Diana menjauh dengan paksa.
“Tunggu!”. Panggil Radit. “Aku juga mau pulang kau mau bareng denganku? Lagipula kita tetangga”.
“Tidak usah terima kasih Diana sudah janji mau mengantarkanku pulang”.
“Kapan aku bilang begitu”. Sela Diana tidak bisa di ajak kerjasama. Angela mencubit lenganya pelan namun Diana tidak juga mengerti.  “Radit bilang kalian tetangga kenapa kau tidak bareng saja denganya maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang rumah kita berlawanan. Radit aku titip temanku ya kalau dia menyulitkanmu turunkan saja di jalan”. Diana mengucapkan salam peprpisahan pada merekq kemudian melenggang pergi meninggalkan Angela bersama Radit.
“Tega sekali kau awas saja aku pasti akan membalasmu”. Batin Angela mengutuk Diana.
“Sebaiknya kita juga pulang sekarang”. Ajak Radit. Angela hanya tersenyum kecut berjalan di sebelah Radit.
“Maaf aku tidak tahu kalau kau seorang bintang film”. Angela membuka suara setelah berada di dalam mobil Radit.
“Tidak perlu kau pikirkan lagipula aku juga bukan bintang film besar”.
“Tapi tetap saja aku sama sekali tidak mengenalmu aku bahkan tidak tahu siapa namamu”.
“Itu karena aku tidak memperkenalkan diriku lebih awal jangan dipikirkan sekarang kau sudah tahu siapa namaku dan kita bisa jadi teman”.
“Karena aku tahu siapa kamu dan namamu membuatku jadi canggung”.
“Ha…ha…ha…” Radit tiba-tiba tertawa meihat wajah Angela. “Sudah aku duga kau orang yang menyenangkan  kalau kau canggung lupakan aku yang kau tahu sekarang dan anggap aku hanya sebagai pemilik Vodka anjing lucu yang kau sukai”.
“Baiklah akan aku lakukan”. Angela mengangkat kepalanya tegak. Mereka ngobrol banyak hal hingga sampai di depan rumah Angela.
“Terima kasih tumpanganya”. Angela melepas sabuk pengamanya dan turun. “selamat malam”.
“Sama-sama Angela selamat malam”. Radit melambaikan tanganya lalu pergi meninggalkan Angela yang masih berdiri di depan pagar menunggu Radit menghilang dari pandangaya. Radit meliriknya melalui kaca spion dan tersenyum tipis.
“Hallo Vodka apa kabar?”. Angela menyapa Vodka yang di ikat di pagar depan rumah Radit. Sudah lama kita tidak bertemu kau tahu aku sangat merindukanmu”. Angela mengacak-acak bulu Vodka gemas seperti biasanya.
“Kapan kau akan merindukan pemiliknya?”. Radit muncul dengan segelas kopi di tanganya.
“Pagi Radit”. Sapa Angela canggung. Tidak seperti biasanya dia merasa sangat senang melihat Radit berdiri di depanya.
“Kau kemana saja beberapa hari tidak melihatmu Vodka sangat gelisah sepertinya dia merindukanmu aku juga merindukanmu”. Radit tersenyum tipis memandang Angela yang masih menunduk di dekat Vodka. Dia sengaja menghindari tatapan mata Radit.
“Tolong jangan berkata seperti itu kalau tidak aku tidak bisa menahan perasaanku lagi”. batin Angela. “Aku tugas siang”. Jawab angela setelah berhasil mengendalikan pikiranya.
“pantas saja aku tidak pernah melihatmu aku lewat depan rumahmu tiap pagi berharap bisa bertemu denganmu”.
“Aku mohon jangan di teruskan lagi”. pikir Angela. “Aku harus pergi sekarang sampai jumpa”. Pamit Angela gugup lalu mempercepat langkahnya menjauhi Radit. “Kenapa perasaanku jadi aneh? Ada apa denganku?”. Angela mengacak-acak rambutnya frustasi. Beberapa hari kemudian Angela sering berhenti di depan rumah Radit setiap mau berangkat kerja untuk menyapa Vodka meskipun itu hanya untuk alasan dirinya supaya bisa bertemu Radit.
“Raditnya sedang pergi bi…?”. Tanya Angela pada bibi yang sedang menyiram bunga.
“Mas Raditnya ada tapi sekarang lagi ada tamu”.
“Siapa bi?”.
“Saya tidak tahu tapi sepertinya pacarnya soalnya akhir-akhir ini dia sering ke sini”.
“Oh….! Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Angela. Entah kenapa dada Angela terasa sangat sakit mendengar Radit memiliki seorang kekasih.
“Ya sudah bi saya pergi dulu ya terima kasih bi selamat tinggal”. Angela tersenyum pada bibi. Setelah berpamitan pada Vodka Angela buru-buru pergi meninggalkan rumah Radit dengan perasaan yang tidak karuan.
“Ya ampun Angela kamu kenapa kok wajah kamu terlihat kusut?”. Tanya Diana begitu Angela tiba di rumah sakit.
“Tidak apa-apa”. Jawabnya malas.
“Tidak mungkin tidak biasanya kau seperti ini apa terjadi sesuatu?”. Desak Diana.
“Ternyata Radit sudah punya pacar”. Jawab Angela sedih.
“Ha..ha..ha….jadi kau sedang patah hati sekarang? Sama Radit? Kau jatuh cinta padanya?”.
“Teruslah tertawa sampai kau merasa puas”. Angela kesal. “Apa kau temanku?”.
“Oke, oke aku minta maaf aku hanya tidak menyangka kau akhirnya akan jatuh cinta.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan?”.
“Lupakan saja Radit yang sudah punya pacar malam ini kita bersenang-senang”. Ajak Diana semangat.
“Kau harus membayar semua yang aku makan karena sudah mentertawakanku”. Pinta Angela. Selesai kerja mereka langsung menuju Citos dan bersenang-senang. Mereka sengaja memilih Citos dupaya tidak bertemu dengan Radit.
“Bagaimana kau mau dapat pacar kalau makanmu sebanyak ini”. Diana geleng-geleng kepala melihat Angela makan.
“Aku tidak peduli jangan protes kalau ingin melihatku senang”.
“Selamat malam kita bertemu lagi”. orang yang paling di hindari Angela sudah berdiri tepat di depanya. Hampir membuatnya tersedak.
“Malam”. Jawab Angela dengan mulut yang masih penuh.
“Kenapa kau tidak pernah mampir lagi sekarang? Vodka mencarimu”.
“Aku sibuk dan sepertinya aku juga tidak akan pernah melihat Vodka lagi”. jawab Angela sedih.
“Boleh aku duduk di sini?”. Radit menunjuk kursi kosong yang ada di sebelah Angela.
“Silahkan”. Jawan Diana. Angela meneruskan makanya tanpa mempedulikan kehadiran Radit lagi.
“Diana filmnya sudah mulai sebaiknya kita segera kesana”. Angela menghentikan makanya dan berdiri.
“Film?”. Tanya Diana tidak mengerti.
“Iya film”. Angela memelototi Diana. “Radit maaf kami harus pergi”. Angela menyeret Diana meninggalkan Radit.
“Memangnya kita nonton film?”. Tanya Diana masih tidak mengerti.
“Kenapa aku punya temen lemot sepertimu?”. Angela menghela nafas panjang. “Itu hanya alasan supaya aku bisa pergi dari Radit secepatnya kenapa aku tidak paham juga?”.
“Sorry,sorry”. Diana tersenyum meminta maaf.
“Ayo kita pulang saja tujuanku ke sini kan supaya tidak bertemu denganya tapi malah ada dia”.
“Tapi aku ada janji sama pacarku di sini sebentar lagi dia datang tunggu sebentar ya”. Diana memohon”.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?”.
“Maaf kamu naik taxi ya biar aku yang bayar deh”.
“Kau ini tega sekali”.
“Makanya cepat cari pacar biar ada yang di andalkan”.
“Antarkan aku ke depan dan kau tidak boleh masuk sebelum aku naik taxi”. Rengek Angela.
“Iya baiklah”. Mereka berjalan keluar mencari taxi. Setelah Angela benar-benar sudah pergi Diana masuk kembali menunggu pacarnya datang.
                                    @#$%@#$%@#$%
“Selamat pagi kau masuk pagi hari ini?”. Sapa Radit sambil memegang tali najingnya seperti biasa.
“Pagi”. Jawab Angela ramah.
“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu akhir-akhir ini kau susah sekali di temui ”.
“Maaf aku sudah terlambat aku harus pergi sekarang”. Angelina membuat alasan supaya bisa segera menjauh dari Radit.
“Tunggu!”. Radit menahan lengan Angela. “kenapa akhir-akhir ini kau menghindariku? Apa aku berbuat salah padamu? Katakana padaku supaya aku mnegerti aku tidak ingin kau terus menghindariku”.
“Jangan salah paham kau tidak berbuat salah apapun dan aku juga tidak menghindarimu. Maaf aku benar-benar harus pergi”. Angela menatap tanganya yang masih di pegang Radit.
“Aku merasa sikapmu berubah padaku kau  jadi dingin dan kau juga tidak pernah mengunjungi Vodka lagi”. Teriak Radit frustasi Angela terhenti tidak mampu bergerak lagi. “Katakan padaku apa yang salah denganku?”. Lanjut Radit.
“Kau tidak salah apapun aku yang salah karena aku menyukaimu meskipun aku tahu kau sudah memiliki seorang kekasih karena itu aku mohon kita jangan bertemu lagi sampai aku bisa menghapus perasaanku padamu dan menerimamu sebagai temanku lagi. Biarkan aku sendiri setelah itu aku janji_”. Belum selesai Angela meneruskna kata-katanya Radit sudah menghampirinya dan memeluk Angela tanpa mempedulikan tatapan orang di sekitarnya.
“Kau tidak perlu melakukan itu”. Kata Radit pelan. “Kau tahu beberapa hari ini aku hampir gila karena kau selalu menghindariku bahkan saat ketemupun kau langsung kabur dariku”. Lanjut Radit dia memeluk Angela semakin erat.
“Lalu bagaimana dengan wanita itu? Aku tidak mau di bilang sebagai perusak hubungan orang lain”.
“Wanita siapa?”.
“Waktu itu aku melihat kalian berpelukan di rumahmu kata bibi dia pacarmu”.
“Jadi karena itu kau menghindariku dan selalu melarikan diri dariku? Harusnya kau tanyakan dulu padaku”. Radit melepaskan pelukanya. “Dia adalah sepupuku dan kebetulan kita di kontrak untuk main iklan bareng”. Lanjut Radit.
“Jadi selama ini aku patah hati tanpa alasan”.
“Aku senang kau salah paham jadi aku bisa tahu perasaanmu yang sebenarnya”.
“Oh astaga aku sudah terlambat”. Angela melihat jam tanganya.  “Kau sudah membuatku terlambat aku harus pergi sekarang”. Kata Angela panik.
“Tunggu disini”. Kata Radit kemudian berlari dengan cepat menuju rumahnya. Tidak lama kemudia dia sudah berada di tempat Angela berdiri.
“Naiklah aku akan mengantarmu”.
“Kau yakin kau bisa bawa motor?”. Tanya Angela tidak yakin.
“Percayalah padaku aku pasti tidak akan membuatmu terluka”. Radit menyakinkan Angela. Meskipun sedikit ragu Angela naik di belakang radit. Radit meraih kedua tangan angela dan melingkarkanya di perutnya. “jangan kau lepaskan”. Setelah berkata begitu radit memacu motornya dengan cepat menyusuri jalan raya menembus kemacetan kota Jakarta.