Pagi yang cerah
adalah awal yang baik untuk memulai hari ini. angel berangkat pagi-pagi seperti biasa menuju rumah
sakit tempatnya bekerja. Baru keluar pagar dia terpana melihat apa yang ada di
depan matanya.
“Oh ostaga kau lucu
sekali”. Kata Angel gemas. “Boleh aku memegangnya?”. Tanyanya pada
pemilik anjing mungil nan lucu tersebut.
“Boleh”. Jawabnya
sambil tersenyum ramah. Angel membelai bulunya yang lembut dan panjang.
“Kau sangat manis.
Perkenalkan namaku angel”. Angel menjabat salah satu kaki depanya layaknya
berkenalan dengan manusia. “namanya siapa mas?”. Tanya Angel pada pemiliknya.
“Namanya vodka.
Sepertinya kau sangat menyukai anjing”.
“Kau benar dulu aku
memiliki dua, seseorang membelikanya untukku tapi aku tidak punya waktu untuk
mengurusnya jadi aku kembalikan. Kadang-kadang aku sangat merindukan mereka.
Aku harap mereka bahagia di tempat barunya”. Angel hampir menitikan air mata.
“Aku harus pergi sekarang selamat tinggal Vodka. Kata Angel dan buru-buru pergi
karena tidak ingin menjatuhkan air matanya didepan orang asing.
“Pagi Angel tumben
sekali kau telat, biasanya kau orang pertama yang datang di sini”. Sapa Diana.
“Iya aku terkena
macet”. Angel membuat alasan.
“Cepatlah ganti baju
nanti kau akan kena omel kalau terlambat”.
“Iya aku akan segera
menyusulmu”. Angel berlari menuju lokernya dengan cepat. Hari berjalan seperti
biasa. Bertemu dengan pasien dan membantu merawat mereka. Saat bersama mereka
adalah saat-saat yang menyenangkan bagi Angel. Tidak terasa waktu sudah sore
menanandakan bahwa angel harus berpisah dengan mereka.
“Ini masih sore dan
besok kita libur. Bagaimana kalau kita nonton dulu”. Ajak Diana.
“Aku ingin cepat
berada di kamarku aku sangat lelah”. Jawab Angel malas.
“Kamu tidak asik.
Cepatlah cari pacar biar hidupmu tidak membosankan”.
“Aku lebih suka kalau
kau yang jadi pacarku. Bukankah kau juga jomblo”. Goda Angel.
“Kau sakit? Maaf ya
aku tidak suka makan jeruk”.
“Baiklah nikmati
hidupmu yang juga membosankan itu sendiri aku akan pulang. Sampai besok”. Agel melambaikan tangan dan masuk taxi yang berhenti di depanya.
@#$%@#$%@#$%
“Selamat pagi, mau
berangkat kerja?”. Angel membalikan badan untuk melihat siapa yang menyapanya.
“Hallo selamat pagi Vodka”. Sapa Angel ceria
begitu melihat anjing mungil itu mengabaikan pemiliknya
“Setiap hari kau
mengajak Vodka jalan-jalan di sekitar sini?”.
“Iya benar”
“Tapi kenapa kita
tidak pernah bertemu ya?”.
“Itu karena aku baru
pindah di sini. Baru satu minggu yang lalu”.
“Pantas saja aku
tidak pernah melihatmu”..
“Itu rumahku”. Pria
tersebut menunjuk salah satu rumah yang sangat besar dan indah. Selama ini Angel tidak menyadari kalau telah berdiri sebuah rumah besar di dekat rumahnya.
“Kapanpun kau ingin melihat Vodka kau bisa datang kesini”. Lanjut pria tersebut.
“Baiklah tapi jangan
protes kalau suatu saat Vodka lebih menyukaiku daripada menyukaimu karena
aku akan sering mengunjunginya”.
“Aku tidak akan
membiarkan itu terjadi”.
“Sebaiknya begitu”.
Angel tersenyum. “Aku harus pergi sekarang sampai jumpa lagi Vodka”. Angel
mengusap bulu Vodka gemas kemudian pergi untuk bekerja sampai sore seperti
biasa.
“Aku tidak mau tahu
pokoknya malam ini kita harus jalan kemarin kamu sudah menolaknya masak
sekarang kau juga tidak mau”. Rengek Diana.
“Kalau kau mau
mentraktirku di restoran biasa aku akan jalan”.
Jawab Diana mantap.
Mereka menuju PIM dengan mobil Diana.
“Kenapa kau suka
sekali ke tempat ini apa kau tidak bosan selalu ke tempat yang sama?”. Tanya Diana.
“Karena disini banyak
makanan yang enak-enak selain itu aku rasa ini tempat yang nyaman untuk jalan”.
“Yang kau pikirkan
hanya makanan melulu beruntung kau bukan tipe orang yang mudah gendut”.
“Kalau kau merasa
bosan datang ke sini kau bisa mengajak orang lain ke tempat lain”.
“Dimanapun tempatnya
temanya si angel”.
“Ngeles saja kayak
bajaj”. Mereka tertawa bersama. Selesai makan mereka berjalan-jalan untuk
sekedar cuci mata.
“Hallo selamat malam,
kita bertemu lagi”. Seorang pria menghampiri Angel yang tengah asik mengagumi
sebuah gaun yang di pajang di etalase salah satu toko.
“Malam apa yang kau
lakukan disini?”. Tanya Angel tersenyum ramah.
“Hanya jalan-jalan
saja. Kau sendirian?”.
“Tidak aku bersama
temanku”. Angel menunjuk Diana yang sedang berjalan ke arahnya. Kenalkan ini
temanku Diana dan Diana ini tetangga baruku namaya”. Angel terdiam dia baru
menyadari kalau selama ini dia tidak pernah menanyakan nama pria tersebut.
“Radit”. Sambung Radit cepat sambil mengulurkan tanganya pada Diana untuk di jabat.
“Oh my God aku adalah
fans beratmu aku Diana”. Diana menjabat tangan radit antusias.
“Fans?”. Tanya Angel bingung.
“Kau tidak tahu siapa
dia”. Tanya Diana tidak percaya.
“Tidak”. Angel
menggelengkan kepalanya polos sambil melirik radit.
“Aku akan
memberitahumu”.
“Tidak perlu”. Potong Radit cepat. “lagipula aku bukan orang hebat kok. Habis ini kalian mau
kemana?”.
“Kita mau pulang”.
Jawab Angel cepat. Dia ingin segera menjauh dari Radit karena malu tidak tahu
siapa Radit sebenarnya. “Silahkan lanjutkan jalan-jalanya kami pergi dulu”.
Angela tersenyum ramah dan menyeret Diana menjauh dengan paksa.
“Tunggu!”. Panggil Radit. “Aku juga mau pulang kau mau bareng denganku? Lagipula kita tetangga”.
“Tidak usah terima
kasih Diana sudah janji mau mengantarkanku pulang”.
“Kapan aku bilang
begitu”. Sela Diana tidak bisa di ajak kerjasama. Angela mencubit lenganya pelan
namun Diana tidak juga mengerti. “Radit
bilang kalian tetangga kenapa kau tidak bareng saja denganya maaf aku tidak
bisa mengantarmu pulang rumah kita berlawanan. Radit aku titip temanku ya
kalau dia menyulitkanmu turunkan saja di jalan”. Diana mengucapkan salam
peprpisahan pada merekq kemudian melenggang pergi meninggalkan Angela bersama Radit.
“Tega sekali kau
awas saja aku pasti akan membalasmu”. Batin Angela mengutuk Diana.
“Sebaiknya kita juga
pulang sekarang”. Ajak Radit. Angela hanya tersenyum kecut berjalan di sebelah Radit.
“Maaf aku tidak tahu
kalau kau seorang bintang film”. Angela membuka suara setelah berada di dalam mobil Radit.
“Tidak perlu kau
pikirkan lagipula aku juga bukan bintang film besar”.
“Tapi tetap saja aku
sama sekali tidak mengenalmu aku bahkan tidak tahu siapa namamu”.
“Itu karena aku tidak
memperkenalkan diriku lebih awal jangan dipikirkan sekarang kau sudah tahu
siapa namaku dan kita bisa jadi teman”.
“Karena aku tahu
siapa kamu dan namamu membuatku jadi canggung”.
“Ha…ha…ha…” Radit
tiba-tiba tertawa meihat wajah Angela. “Sudah aku duga kau orang yang
menyenangkan kalau kau canggung lupakan
aku yang kau tahu sekarang dan anggap aku hanya sebagai pemilik Vodka anjing lucu yang kau sukai”.
“Baiklah akan aku
lakukan”. Angela mengangkat kepalanya tegak. Mereka ngobrol banyak hal hingga
sampai di depan rumah Angela.
“Terima kasih
tumpanganya”. Angela melepas sabuk pengamanya dan turun. “selamat malam”.
“Sama-sama Angela
selamat malam”. Radit melambaikan tanganya lalu pergi meninggalkan Angela yang
masih berdiri di depan pagar menunggu Radit menghilang dari pandangaya. Radit
meliriknya melalui kaca spion dan tersenyum tipis.
“Hallo Vodka apa
kabar?”. Angela menyapa Vodka yang di ikat di pagar depan rumah Radit. Sudah
lama kita tidak bertemu kau tahu aku sangat merindukanmu”. Angela mengacak-acak
bulu Vodka gemas seperti biasanya.
“Kapan kau akan
merindukan pemiliknya?”. Radit muncul dengan segelas kopi di tanganya.
“Pagi Radit”. Sapa Angela canggung. Tidak seperti biasanya dia merasa sangat senang melihat Radit
berdiri di depanya.
“Kau kemana saja
beberapa hari tidak melihatmu Vodka sangat gelisah sepertinya dia merindukanmu
aku juga merindukanmu”. Radit tersenyum tipis memandang Angela yang masih
menunduk di dekat Vodka. Dia sengaja menghindari tatapan mata Radit.
“Tolong jangan
berkata seperti itu kalau tidak aku tidak bisa menahan perasaanku lagi”. batin Angela. “Aku tugas siang”. Jawab angela setelah berhasil mengendalikan pikiranya.
“pantas saja aku
tidak pernah melihatmu aku lewat depan rumahmu tiap pagi berharap bisa bertemu
denganmu”.
“Aku mohon jangan di
teruskan lagi”. pikir Angela. “Aku harus pergi sekarang sampai jumpa”. Pamit Angela gugup lalu mempercepat langkahnya menjauhi Radit. “Kenapa perasaanku jadi
aneh? Ada apa denganku?”. Angela mengacak-acak rambutnya frustasi. Beberapa hari
kemudian Angela sering berhenti di depan rumah Radit setiap mau berangkat kerja
untuk menyapa Vodka meskipun itu hanya untuk alasan dirinya supaya bisa bertemu Radit.
“Raditnya sedang
pergi bi…?”. Tanya Angela pada bibi yang sedang menyiram bunga.
“Mas Raditnya ada
tapi sekarang lagi ada tamu”.
“Siapa bi?”.
“Saya tidak tahu tapi
sepertinya pacarnya soalnya akhir-akhir ini dia sering ke sini”.
“Oh….! Hanya
kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Angela. Entah kenapa dada Angela
terasa sangat sakit mendengar Radit memiliki seorang kekasih.
“Ya sudah bi saya
pergi dulu ya terima kasih bi selamat tinggal”. Angela tersenyum pada bibi.
Setelah berpamitan pada Vodka Angela buru-buru pergi meninggalkan rumah Radit
dengan perasaan yang tidak karuan.
“Ya ampun Angela kamu
kenapa kok wajah kamu terlihat kusut?”. Tanya Diana begitu Angela tiba di rumah
sakit.
“Tidak apa-apa”.
Jawabnya malas.
“Tidak mungkin tidak
biasanya kau seperti ini apa terjadi sesuatu?”. Desak Diana.
“Ternyata Radit sudah
punya pacar”. Jawab Angela sedih.
“Ha..ha..ha….jadi kau
sedang patah hati sekarang? Sama Radit? Kau jatuh cinta padanya?”.
“Teruslah tertawa
sampai kau merasa puas”. Angela kesal. “Apa kau temanku?”.
“Oke, oke aku minta
maaf aku hanya tidak menyangka kau akhirnya akan jatuh cinta.
“Sekarang apa yang
harus aku lakukan?”.
“Lupakan saja Radit
yang sudah punya pacar malam ini kita bersenang-senang”. Ajak Diana semangat.
“Kau harus membayar
semua yang aku makan karena sudah mentertawakanku”. Pinta Angela. Selesai kerja
mereka langsung menuju Citos dan bersenang-senang. Mereka sengaja memilih Citos dupaya tidak bertemu dengan Radit.
“Bagaimana kau mau
dapat pacar kalau makanmu sebanyak ini”. Diana geleng-geleng kepala melihat Angela makan.
“Aku tidak peduli
jangan protes kalau ingin melihatku senang”.
“Selamat malam kita
bertemu lagi”. orang yang paling di hindari Angela sudah berdiri tepat di
depanya. Hampir membuatnya tersedak.
“Malam”. Jawab Angela
dengan mulut yang masih penuh.
“Kenapa kau tidak
pernah mampir lagi sekarang? Vodka mencarimu”.
“Aku sibuk dan
sepertinya aku juga tidak akan pernah melihat Vodka lagi”. jawab Angela sedih.
“Boleh aku duduk di
sini?”. Radit menunjuk kursi kosong yang ada di sebelah Angela.
“Silahkan”. Jawan
Diana. Angela meneruskan makanya tanpa mempedulikan kehadiran Radit lagi.
“Diana filmnya sudah
mulai sebaiknya kita segera kesana”. Angela menghentikan makanya dan berdiri.
“Film?”. Tanya Diana
tidak mengerti.
“Iya film”. Angela
memelototi Diana. “Radit maaf kami harus pergi”. Angela menyeret Diana
meninggalkan Radit.
“Memangnya kita
nonton film?”. Tanya Diana masih tidak mengerti.
“Kenapa aku punya
temen lemot sepertimu?”. Angela menghela nafas panjang. “Itu hanya alasan
supaya aku bisa pergi dari Radit secepatnya kenapa aku tidak paham juga?”.
“Sorry,sorry”. Diana
tersenyum meminta maaf.
“Ayo kita pulang saja
tujuanku ke sini kan supaya tidak bertemu denganya tapi malah ada dia”.
“Tapi aku ada janji
sama pacarku di sini sebentar lagi dia datang tunggu sebentar ya”. Diana
memohon”.
“Kenapa kau tidak
bilang dari tadi?”.
“Maaf kamu naik taxi
ya biar aku yang bayar deh”.
“Kau ini tega
sekali”.
“Makanya cepat cari
pacar biar ada yang di andalkan”.
“Antarkan aku ke
depan dan kau tidak boleh masuk sebelum aku naik taxi”. Rengek Angela.
“Iya baiklah”. Mereka
berjalan keluar mencari taxi. Setelah Angela benar-benar sudah pergi Diana masuk
kembali menunggu pacarnya datang.
@#$%@#$%@#$%
“Selamat pagi kau
masuk pagi hari ini?”. Sapa Radit sambil memegang tali najingnya seperti biasa.
“Pagi”. Jawab Angela
ramah.
“Akhirnya aku bisa
bertemu denganmu akhir-akhir ini kau susah sekali di temui ”.
“Maaf aku sudah
terlambat aku harus pergi sekarang”. Angelina membuat alasan supaya bisa segera
menjauh dari Radit.
“Tunggu!”. Radit
menahan lengan Angela. “kenapa akhir-akhir ini kau menghindariku? Apa aku
berbuat salah padamu? Katakana padaku supaya aku mnegerti aku tidak ingin kau
terus menghindariku”.
“Jangan salah paham
kau tidak berbuat salah apapun dan aku juga tidak menghindarimu. Maaf aku
benar-benar harus pergi”. Angela menatap tanganya yang masih di pegang Radit.
“Aku merasa sikapmu
berubah padaku kau jadi dingin dan kau
juga tidak pernah mengunjungi Vodka lagi”. Teriak Radit frustasi Angela terhenti
tidak mampu bergerak lagi. “Katakan padaku apa yang salah denganku?”. Lanjut Radit.
“Kau tidak salah
apapun aku yang salah karena aku menyukaimu meskipun aku tahu kau sudah
memiliki seorang kekasih karena itu aku mohon kita jangan bertemu lagi sampai
aku bisa menghapus perasaanku padamu dan menerimamu sebagai temanku lagi. Biarkan aku sendiri setelah itu aku janji_”. Belum selesai Angela meneruskna
kata-katanya Radit sudah menghampirinya dan memeluk Angela tanpa mempedulikan tatapan orang di
sekitarnya.
“Kau tidak perlu
melakukan itu”. Kata Radit pelan. “Kau tahu beberapa hari ini aku hampir gila
karena kau selalu menghindariku bahkan saat ketemupun kau langsung kabur
dariku”. Lanjut Radit dia memeluk Angela semakin erat.
“Lalu bagaimana
dengan wanita itu? Aku tidak mau di bilang sebagai perusak hubungan orang lain”.
“Wanita siapa?”.
“Waktu itu aku
melihat kalian berpelukan di rumahmu kata bibi dia pacarmu”.
“Jadi karena itu kau
menghindariku dan selalu melarikan diri dariku? Harusnya kau tanyakan dulu
padaku”. Radit melepaskan pelukanya. “Dia adalah sepupuku dan kebetulan kita di
kontrak untuk main iklan bareng”. Lanjut Radit.
“Jadi selama ini aku
patah hati tanpa alasan”.
“Aku senang kau salah
paham jadi aku bisa tahu perasaanmu yang sebenarnya”.
“Oh astaga aku sudah
terlambat”. Angela melihat jam tanganya.
“Kau sudah membuatku terlambat aku harus pergi sekarang”. Kata Angela
panik.
“Tunggu disini”. Kata Radit kemudian berlari dengan cepat menuju rumahnya. Tidak lama kemudia dia
sudah berada di tempat Angela berdiri.
“Naiklah aku akan
mengantarmu”.
“Kau yakin kau bisa
bawa motor?”. Tanya Angela tidak yakin.
“Percayalah padaku
aku pasti tidak akan membuatmu terluka”. Radit menyakinkan Angela. Meskipun
sedikit ragu Angela naik di belakang radit. Radit meraih kedua tangan angela dan
melingkarkanya di perutnya. “jangan kau lepaskan”. Setelah berkata begitu radit
memacu motornya dengan cepat menyusuri jalan raya menembus kemacetan kota
Jakarta.
No comments:
Post a Comment