AKU
MEMBUTUHKANMU DI SAMPINGKU
“Dia bos kita?”. Tanya lia pada
Michael yang duduk di depanya.
“Bukan dia manajer pemasaran”.
“Aku sering melihatnya di sini aku
kira dia bos kita”.
“Staf dari manajemen pemasaran dan
manajemen promosi memang jadi satu ruangan supaya memudahkan kita semua untuk
berkomunikasi. Kamu tahu sendiri kan kita juga harus banyak rapat dan berbagi
strategi dengan staf pemasaran”.
“Pantas saja aku sering melihatnya masuk
sini”. Lia manggut-manggut tanda mengerti.
“Kau menyukainya?”. Bisik Michael
pelan.
“Apa ada wanita yang tidak
menyukainya dia tampan dan muda selain itu bisa di bilang dia sudah memiliki
karir yang bagus”.
“Hati-hati di ruangan ini semua
mengincarnya”.
“Kau yang mengerjakna laporan ini?”.
Orang yang di bicarakan mereka menghampiri meja lia.
“Iya pak”. Jawab Lia tanpa ragu.
“Kau bilang ini laporan? Aku tidak
tahu bagaimana kau bisa di terima kerja disini. Perbaiki lagi dan serahkan
padakan padaku. Aku tunggu sampai jam setengah enam. Gara-gara kamu aku tidak
bisa pulang tepat waktu sekarang”. Setelah berkata begitu manajer tersebut
pergi ke ruanganya. Semua mata memandang lina yang masih berdiri menahan malu.
“Sabar ya dia memang biasa seperti itu
apalagi pada karyawan baru”. Michael menyemangati.
“Tapi aku kan masih banyak yang
belum mengerti harusnya di kasih tahu baik-baik bukan seperti itu caranya. Aku
tidak mengerti apa yang di lihat para wanita disini dari dirinya”. Gerutu Lia
tidak terima.
“justru itu yang daya tariknya. Dia
terlihat cool seolah sulit untuk di raih”. Michael tersenyum seperti layaknya
seseorang yang tengah jatuh cinta.
“bagiku dia tidak layak untuk di
jadikan pria idaman”.
“lina malam ini kita mau karaoke
bareng besok kan kita libur mau gabung?”. Tanya Tia yang duduk di sebelah lia.
“Boleh aku juga lagi butuh
refreshing”.
“Cepat selesaikan laporanya supaya
kita bisa cepat berangkat. Kita tunggu kamu di sevel depan kantor ya”. Setelah
berkata begitu Tia dan lainya meninggalkan ruangan karena jam memang sudah
menunjukan pukul lima.
“Baiklah aku akan menyelesaikanya
secepat yang aku bisa”. Kata Lia yakin. Lia kembali menyusun laporanya dengan
cermat supaya tidak terjadi keslahan lagi. Meskipun dia sudah bekerja keras
tidak mudah menyelesaikan laporan yang sesuai dengan kemauan manajer dengan
waktu yang terbatas. Sudah lebih dari setengah jam dia memelototi computer
namun laporanya belum juga selesai karena memang banyak yang harus di revisi.
“Tia aku belum selesai ini masih banyak yang harus aku selesaikan kalian duluan
saja nanti aku akan menyusul”. Lia menelepon Tia.
“Oke nanti kalau sudah selesai
segera hubungi aku ya sekarang kita akan langsung menuju Sency”.
“Siip akan aku usahakan supaya cepat
selesai”. Lia menutup teleponya dan kembali memfokuskan mata dan juga pikiranya
pada monitor computer yang ada di depanya.
“Kamu masih di sini?”. Manajer Dion
berjalan pulang.
“Iya Pak saya masih mengerjakan laporan
yang tadi bapak kembalikan”.
“Kamu masih punya waktu besok pagi
aku memerukanya jam sepuluh yang lain sudah pada pulang kau juga cepat
pulanglah”.
“Baik pak sebentar lagi selesai”.
Lia menjawabnya dengan ramah meskipun sebenarnya hatinya berteriak memakinya.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau membutuhkanya besok kenapa kau
bilang harus menyerahkanya hari ini
juga”. Protes Lia kesal setelah manajer Dion sudah berada di luar
ruangan.
@#%@#$%@#$%
“Lia apa oendapatmu tentang gay?”.
Tanya Michael mereka sedang makan siang di
kafe dekat kantor.
“Gay? Kenapa tiba-tiba kau
menanyakan itu?”.
“Tidak apa-apa jawab saja aku hanya
ingin dengar pendapatmu tentang mereka”.
“Ehm menurutku tidak ada yang salah
dengan mereka. Itu hak mereka untuk memilih siapa yang mereka cintai karena
menurutku ketika cinta dating pada seseorang orang tersebut tidak akan dapat
menolaknya bagaimanapun caranya. Aku
juga berpikir seorang gay jauh lebih baik di banding seorang playboy”.
“Jadi kau tidak membenci ataupun
menyalahkan mereka?”.
“Tidak, kenapa aku harus membencinya
kta hidup di jaman demokrasi”.
“Kau adalah orang pertama yang
berpendapat seperti itu. Seandainya semua orang bisa berpikir sepertimu”.
“Semua orang akan menjadi gay”. Jawab Lia
enteng.
“Waktu kita tinggal sepuluh menit
lagi cepatlah kalau tidak mau kena omel bos” Michael mengingatkan. Mereka
segera melahap makanan yang ada di depanya dengan cepat dan kembali ke kantor.
“Kalian pacaran? Aku lihat kalian
selalu pergi berdua akhir-akhir ini”. selidik salah satu rekan kerja lia begitu
mereka sampai di kantor.
“Tidak kami hanya berteman jawan lia
dan Michael bersamaan.
“Padahal kalau kau pacaran denganya
saingan untuk mendekati manajer Dion berkurang satu”. Sahut yang lainya.
“Lupakan saja keberadaanku aku tidak
tertarik denganya”.
“Benarkah? Kalau begitu pria seperti
apa yang kau suka?”.
“Pria yang memiliki hati lembut dan
romantic seperti Michael”. Lia menunjuk Michael yang tengah asyik merenung di
depan komputernya.
“Kalau begitu kenapa kau tidak
pacaran saja denganya?”.
“Dia tidak tertarik denganku.
Benarkan Michael?”.
“Satu jam lagi kita kan rapat
bersama divisi marketing kalian siapkan berkas-berkasnya dan juga laporan
kalian”. Kata Dion
“Baik pak jawab seluruh staff
bersamaan.
“Kira –kira apakah manajer mendengar
pembicaraan kita?”. Tanya Lia pada Michael pelan.
“Aku tidak tahu kalaupun dia dengar
apa untungnya bagi dia”.
“Kau benar”. Jawab Lia, mereka sibuk
menyiapkan berkas-berkas yang di perlukan dan juga mengecek ulang laporan yang
sudah di persiapkan. Mereka ingin memberikan laporan terbaik di depan manajer Dion.
Tidak hanya laporan yang di periksa namun juga dandanan mereka. Ada yang sedang
mematut dirinya di depan cermin adapula yang sedang mempertebal bibirnya dengan
lipstick warna merah menyala.
“Lia kamu mau pulang?”. Sebuah mobil
berhenti di depannya.
“Iya pak”.
“Dimana kamu tinggal?”.
“Di daerah Ciputat”.
“Kita searah naiklah”. Perintah
manajer Dion.
“Tidak pak terima kasih saya menunggu
bis saja”. Tolak Lia halus.
“Kau tidak mau karena menyimpan
dendam padaku sudah aku suruh-suruh meskipun aku bukan atasanmu?”.
“Tidak pak bukan begitu”. Jawab Lia
cepat.
“Kalau begitu naiklah”. Perintahnya
sekali lagi. “dengan berat hati dia masuk mobil manajer Dion karena tidak ingin
mendapat kesan buruk darinya.
“Bagaimana kesanya kamu bekerja
bersama kami?”.
“Menyenangkan meskipun terkadang
melelahkan”. Jawab Lia jujur.
“Kau jujur sekali”. Manajer Dion
tersenyum. Berbeda dengan manajer di kantor yang lia lihat selama ini. Manajer
Dion yang Lia tahu adalah orang yang tidak pernah tersenyum dan terkesan
menekan. Begitu dia muncul atmosfir di ruangan berubah jadi kaku dan dingin.
“Bapak bisa tersenyum?”. Kata-kata
meluncur dari mulut Lia begitu saja membuatnya mengutuk dirinya sendiri supaya
mulutnya tidak bisa bicara lagi.
“Kamu pikir aku ini bukan manusia?”.
“Bukan begitu pak maaf karena bapak
selalu terlihat serius dan tegang di kantor”. Jawab Lia takut-takut. Manajer Dion
tersenyum lagi mendengar pengakuan Lia.
“Kau
ini terlalu jujur, berani apa polos?”.
“Maksud bapak?”. Tanya Lia tidak
mengerti.
“Tidak apa-apa”. Jawab manajer Dion
sambil fokus menatap jalan raya yang ada didepanya.
“Lia nanti temenin aku cari kado
buat adiku ya!”. Pinta Michael ketika keluar ruangan selesai meeting dengan
team Promosi dan team Pemasaran.
“asal kau antarkan aku pulang”.
Jawab Lia ringan.
“Lia aku ada perlu denganmu jadi
sepulang kantor nanti aku minta kau tetap disini”. Pinta Manajer Dion tidak
terduga membuat Lia khawatir kesalahan apa yang sudah di buatnya.
“baik pak”. Jawab Lia sedikit
gemetar.
“Kenapa dia memintamu untuk tinggal?
Kau membuat kesalahan?”. Tanya Michael khawatir”.
“aku juga tidak tahu. Mungkin dia
punya pekerjaan untuk ku”. Jawab Lia mencoba untuk positive thinking. Dia tidak
menyadari kalau ada beberapa pasang mata sedang menatapnya tajam dari jauh.
“Lia ayo ikut aku”. Manajer Dion
menghampiri Lia yang tengah menatap komputernya sendirin. Karyawan lain sudah
pulang karena jam sudah meunjukan pukul setengah enam.
“Baik pak”. Lia berdiri dengan cepat
mengikuti langkah Manajer dion.
“kita mau kemana pak?”. Tanya Lia
tidak kuat lagi menahan rasa penasaranya.
“kita sudah sampai”. Manajer Dion
menghentikan mobilnya tepat di depan
sebuah Café bergaya klasik. Dia mengajak Lia masuk dan duduk di sebuah meja
dekat jendela yang mengarah ke jalan raya. Seorang weitres menghampiri mereka
dan menyerahkan buku menu di hadapan mereka. “kita makan dulu setelah itu ada
yang mau aku bicarakan denganmu”. Manajer Dion menatap Lia serius membuatnya
semakin gugup.
“baiklah”. Lia mengangguk sambil
tersenyum tipis. Setelah acara makan malam selesai Manajer Dion membuka suara.
“Lia ada yang amu aku tanyakan padamu”. Katanya serius.
“silahkan pak”.
“Apa yang kau pikirkan tentang
aku?”.
“Maksud bapak?”. Tanya Lia bingung.
“Kau menilai diriku seperti apa?”.
“Bapak orangnya baik dan juga pekerja keras selain itu bapak juga
keren karena semua karyawan wanita di kantor kita menyukai bapak. Mereka
berlomba untuk mendapatkan perhatian bapak”. Jawab Lia jujur.
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau
juga menyukaiku?”.
“Aku rasa tidak ada wanita yang
tidak menyukai bapak”.
“Kalau begitu maukah kau menjadi
pacarku”. Tanya manajer Dion membuat Lia bagai mendapat madu dan juga racun
dalam waktu bersamaan. Dia tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang
tiba-tiba seperti itu. “Bagaimana?”. Manajer Dion masih menunggu reaksi Lia
yang dari tadi mematung menyatu dengan kursi yang di dudukinya.
“Saya belum siap untuk menjawabnya
sekarang”.
“Kau tidak perlu menjawabnya kita
coba dulu aja kalau kau merasa tidak nyaman denganku aku tidak akan memaksamu”.
“Apa yang bapak suka dariku?”.
“Kau pekerja keras dan juga ulet.
Kau berbeda dengan karyawan lain yang selama ini aku lihat. Kau apa adanya. Aku
sering memperhatikanmu tapi kau tidak menyadarinya. Kau selalu sibuk dengan
karyawan yang bernama Michael itu”.
“Seperti yang bapak tahu begitu
banyak perempuan di kantor yang menyukai bapak. Aku tidak tahu kalau sampai
mereka aku pacaran dengan bapak”.
“Tidak usah khawatir aku tidak akan
membiarkan mereka menyakitimu”. Jawaban manajer Dion cukup membuat hati Lia
tenang. “Dan satu lagi jangan memanggilku pak kita sekarang kita sepasang
kekasih kau cukup memanggil namaku saja”.
“Dan aku juga tidak akan bersikap formal
lagi padamu”. Lia tersenyum canggung memikirkan mereka sekarang lebih dari
sekedar manajer dan staf.
“Nanti tunggu aku ya kita mampir ke
suatu tempat dulu”. Pesan Dion saat melewati meja Lia. Lia menganggukan
kepalanya sambil tersenyum.
“Kalian pacaran?”. Tanya Sifa rekan
Kerja Lia yang duduk di di sebelah kananya.
“Apa hubungan kalian sebenarnya
kenapa kalian sekarang sering bersama?”. Yang lain ikut menimpali dengan
tatapan tidak senang. Lia hanya menanggapinya dengan diam karena tidak tahu
harus menjawab apa supaya mereka puas dengan jawaban yang di berikanya.
“Lia ikut aku”. Michael menarik Lia
ke Pentry.
“Terima kasih telah
menyelamatkanku”. Lia bernafas lega.
“Apa sebenarnya hubungan kalian?”.
Michael menatap Lia serius tidak seperti dirinya yang biasanya.
“kami pacaran”. Jawab Lia polos.
“what…?!
Kamu serius? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?”. Michael merasa di
hianati.
“Maaf kami baru beberapa hari
memutuskan untuk pacaran?”.
“Kau yakin tidak menyesalinya? Aku
sudah bekerja cukup lama di sini jadi aku sedikit lebih tahu dia daripada kamu.
Menurutku kau jangan terlalu menyukainya”.
“Kenapa begitu?”. Tanya Lia
mengerutkan keningnya.
“Karena kau orang terbaik yang aku kenal
selama ini aku hanya tidak ingin kau sakit hati”.
“Aku tidak akan pernah merasa sakit
hati jangan khawatir”.
“Aku harap juga begitu”. Mereka
keluar pantry bersama untuk kembali ke tempat duduk masing-masing.
“Lia maaf hari ini kita tidak bisa
pulang bareng aku harus lembur”. Dion mengirim pesan pada Lia.
“Lagi-lagi kau melanggar janjimu
siapa sebenarya yang kau cintai? Aku apa pekerjaanmu?”. Gumam Lia pelan.
“Michael mau jalan denganku?”. Tanya
Lia antusias setelah membaca pesan dari Dion.
“Ayo sudah lama kita tidak jalan
bersama”.
“Apa kau merasa tidak terlalu
serakah?”. Tanya rekan kerja Lia sinis. “Kau sudah bosan dengan manajer Dion
dan sekarang kau bermain dengan pria lain?”. Lanjutnya.
“Kita sahabat”. Hanya kata-kata itu
yang mampu keluar dari mulut Lia”.
“Jangan pikirkan kata-kata mereka.
Mereka hanya iri padamu kau juga tahu kan mereka sudah lama mengincar manajer
Dion”. Hibur Michael. Mereka berjalan menuju parkiran dimana motor Michael di
parkir.
“Aku tidak memikirkanya aku hanya
merasa tertekan setiap hari di jauhi dan di sindir”. Kata Lia sedih.
“Mari kita bersenang-senang aku akan
memacu andrenalimu bersiaplah”. Michael tersenyum licik. Dia segera menjalankan
motornya dengan Lia duduk di belakangnya. “Pegangan yang erat kalau kau tidak
ingin jatuh”. Michael memacu motornya semakin cepat Menebus jalan raya.
“kau memang satu-satunya orang yang
paling mengerti perasaanku. Kenapa bukan kau saja yang jadi pacarku”. Lia
menerawang menembus udara yang tidak kasat mata. Michael menghentikan motornya
di taman BSD yang tidak terlalu ramai.
“bukankah manajer Dion adalah pacar
idaman setiap wanita?”.
“Awalnya aku juga merasa beruntung
bisa memilikinya tapi tidak semua yang terlihat indah selalu indah”. Lagi-lagi
Lia menerawang dengan sorot mata sedih. Setelah malam semakin larut Michael
mengantar Lia ke rumah mengingat besok mereka masih harus di sibukan dengan
pekerjaan yang menantinya.
“Lia kamu aku panggil ke sini karena
ada yang mau aku tanyakan padamu”. Manajer Lia memanggilnay ke ruanganya. “Aku minta
kau menjawabnya dengan jujur. Apa benar kau pacaran dengan manajer Dion?”,
“Benar Pak”. Jawab Lia.
“Kau tahu kan peraturanya kalau
dalam satu perusahaan tidak boleh ada hubungan asmara?”.
“Iya Pak saya tahu”. Lia tidak
berani mengangkat kepalanya.
“kalau begitu langsung saja. Kau pilih di pindah ke cabang lain atau
mengakhiri hubunganmu denganya? Kalau aku memecatmu aku tidak rela karena kau
karyawan yang pekerja keras dan juga ulet”,
“Boleh saya minta waktu untuk
memikirkanya pak?”.
“Baiklah kalau kau sudah menemukan
jawabanya segera hubungi aku sekarang kau boleh keluar”.
“Terima
kasih pak”. Lia berjalan dengan langkah gontai menuju mejanya.
“Apa
akhirnya dia di pecat? Itu akibatnya kalau karyawan baru sudah berani macam-macam
biar tahu rasa dia”. Terdengar para rekan kerjanya membicarakanya atau lebih
tepatnya mengutuknya membuat kepala Lia terasa mau meledak. Dia merasa waktu
berjalan sangat lambat. Yang ada di pikiranya hanyalah bisa segera keluar dari
kantor secepatnya.
“Michael
beri tahu aku apa yang harus aku lakukan?”. Lia tertunduk lesu berdiri di depan
rumahnya. Michael mengantarnya pulang.
“Kau
sudah bicara dengan Dion?”.
“Akhir-akhir
ini dia sangat sibuk bahkan kita jarang bertemu. Setiap aku telpon katanya ada
kerjaan. Aku sangat membutuhkanya tapi dia sedang asyik dengan dunianya sendiri”.
Lia mulai menangis sesenggukan.
“Karena
itulah dari awal aku memintamu untuk tidak terlalu mencintainya”. Michael
memeluk Lia lembut.
“Tapi
sekarang sudah terlambat aku terlanjur mencintainya aku tidak ingin dia
terpengaruh dengan semua ini. Aku sangat ingin dia ada untukku sekarang tapi
aku tidak ingin dia tahu apa yang terjadi denganku di kantor”.
“kau
memang bodoh”. Michael mengusap kepala Lia lembut berharap bisa sedikit
menengkan hatinya.
“Lia
apa yang kalian lakukan?”. Dion keluar dari mobilnya dengan raut muka yang
sulit untuk di baca.
“Dion!”.
Lia sedikit menjauh dari Michael.
“Apa
yang kalian lakukan di belakangku? Lia kau menghianatiku?!”. Dion menatap Lia
tajam.
“Ini
tidak seperti yang kau kira aku akan menjelaskanya padamu”. Lia berjalan
menghamipiri Dion dan meraih tanganya. Dion mengibaskanya keras.
“Kau
tidak perlu menjelaskan apapun karena semua sudah sangat jelas bagiku. Jangan
pernah lagi bicara denganku”. Kata Dion marah. Dia pergi meninggalkan Lia yang
masih menatapnya dengan perasaan sedih. Hatinya terasa seakan berlubang. Dia tidak
kuat lagi menahan semuanya dan mengangis sejadi-jadinya di pelukan Michael
sahabat setianya.
“Keluarkan
semuanya jangan di tahan lagi aku di sini”. Kata Michael pelan. Hatinya terasa
hancur melihat Lia menangis seperti ini. Setelah Lia sudah mulai tenang Michael
melepaskan pelukanya. “Jangan khawatir aku akan menberi pelajaran laki-laki
tidak tahu diri itu. Dia sudah membuatmu seperti ini aku tidak akan melepasknya”.
Kata Michael garang lalu meinggalkan Lia memacu motornya dengan cepat.
“Michael
apa yang akan kau lakukan jangan bodoh”. Teriak Lia keras namun yang di ajak bicara sudah menghilang
bersama udara malam. “Michael bisa kau kembali sekarang aku lebih membutuhkanmu
di sini sekarang kalau kau masih sahabatku kembalilah”. Lia menelepon Michael.
“Lia
aku akan segera kembali kau jangan khawatir”. Michael menutup teleponya. Tidak lama
kemudian terdengar seseorang mengetuk pintunya.
“Michael?”.
Lia menarik daun pintu memastikan bahwa Michael benar-benar mendengarkanya.
“Sayang
sekali aku bukan dia”.
“Dion
apa yang kau lakukan disini?”. Lia tidak menyangka dion yang berdiri di depan
pintunya bukan Michael. Bukankah kau bilang
untuk tidak berbicara denganmu lagi?”.
“Aku
minta maaf aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padamu”. Dion terdengar
sangat sedih. Dia tidak berani menatap mata Lia.
“tTidak
apa-apa kau tidak perlu minta maaf padaku. Kalau sudah tidak ada yang kau
bicarakan pulanglah aku ingin sendiri”. Lia menutup pintunya kembali. Melihat Dion
berdiri di depanya entah kenapa membuatnya hatinya semakin sakit.
“Lia
tunggu”. Dion menahan daun pintu dan menrik Lia kembali keluar. “Michael sudah
menceritakan semuanya. Aku minta maaf karena tidak ada di sampingmu disaat kau
sangat membutuhkan aku. Aku tahu aku bodoh dan tidak peka”.
“sudah
aku bilang kau tidak perlu minta maaf seperti yang kau katakan kita tidak perlu bicara lagi.
sekarang pulanglah”. Lia memaksakan untuk tersenyum dan berbalik hendak masuk
rumah.
“Apa
yang harus aku lakukan?”. Dion memeluk Lia dari belakang dengan erat. “Katakan padaku
apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkanku”. Dion membenankan wajahnya
di pundak Lia.
“Dion
kau menangis?”. Lia merasa pundaknya mulai basah.
“Kau
tidak salah tidak ada yang perlu aku maafkan”. Lia memutar tubuhnya menghadap
Dion. Lia mengangkat wajah Dion dan memeluknya erat. Mereka berpelukan cukup
lama.
“Mulai
sekarang aku akan lebih memperhatikanmu daripada pekerjaanku”. Dion melepaskan
pelukanya.
“Kau
yakin bisa melakukanya?”.
“Aku
akan melakukanya dan tidak akan membiarkan pria itu lebih sering berada di
dekatmu di bandingkan aku”. Dion memasang muka cemberut. “Meskipun dia seorang
gay tapi bisa saja dia merubah seleranya dan mencurimu dariku”. Lanjutnya.
“Bagaimana
kau tahu Michael seorang gay?”. Tanya Lia tidak percaya dengan apa yang di
dengarnya.
“Sudah
aku bilang dia sudah menceritakan semuanya padaku tanpa tertinggal sedikitpun”.
“Sebaiknya
kau benar-benar melakukanya”. Lia memancarkan senyum cerianya kembali. Dia merasa
sedikit bebanya sudah terangkat meskipun besok masih harus menghadapi bos dan
rekan-rekan kerjanya.
“Malam
ini aku akan membuatmu jadi wanita paling bahagia di seluruh dunia. Lupakan semua
yang terjadi juga mengenai masalah kantor aku akan mengurus semuanya”. Dion
mengecup kening Lia kemudian membawanya maniki mobilnya untuk membuat Lia
menjadi wanita yang benar-benar paling bahagia malam ini.
No comments:
Post a Comment