Part
2
“Terima kasih ya sudah mau
aku ajak nonton, aku seneng banget bisa jalan sama kamu hari ini”. Kata Adam sambil
menggenggam tangan kiri ku erat namun lembut.
“Oke, tidak masalah”. Aku mempercepat langkahku. Aku
sedang berjalan bersama Adam namun pikiranku tetap tidak bisa di alihkan dari
Altan. Bukanya aku menghianati Altan ataupun mempermainkan Adam tetapi sikap
Altanlah yang membuatku menjadi seperti ini. Aku tidak ingin terus tenggelam
oleh kesedihan karena sikapnya, karena itulah saat ada pria yang mengajakku
nonton aku langsung mengiyakanya tanpa berfikir lagi.
“Film apa yang ingin kau tonton?”. Tanya Adam seraya
memperhatikan layar yang terpasang di belakang kasir pembelian tiket.
“Allegiant”. Jawabku singkat mengikuti arah pandangan
Adam. Dia memesan dua tiket Aligiant dan membayarnya. Sebelum berangkat aku
sudah mencari informasi mengenai jadwalnya sehingga kita bisa langsung masuk.
“Kamu tidak dingin?”. Adam menoleh padaku yang duduk
dalam diam.
“Tidak”. Jawabku singkat. “Alta maafkan aku tapi kamulah
yang membuatku jadi seperti ini”. Pikiran itu terus memenuhi isi kepalaku
mengabaikan keberadaan Adam yang duduk di sebelahku. Bahkan film yang sudah
mulaipun tidak bisa mengalihkan pikiranku. Sampai fil selesai di putar aku
tidak bisa fokus.
“Kamu mau makan apa?”. Tanya Adam setelah kita keluar
dari bioskop.
“Sorry aku tidak ingin makan, kita langsung pulang saja
tapi kalau kamu mau makan tidak apa-apa aku kana pulang duluan”. Moodku
benar-benar sudah berubah seratus delapan puluh derajat tanpa alasan yang
jelas. Yang aku inginkan adalah pulang dan masuk kamar.
“Kamu yakin tidak amkana dulu? Kita makan sebentar yasetelah
itu kita langsung pulang”. Adam masih berusaha membujukku dengan sabar.
“Kamu makan saja aku akan pulang duluan”. Aku berjalan
menjauh dari”.
“Aku akan mengantarmu pulang”. Adam meraih tanganku
supaya aku memelankan langkahku. Dia langsung mengantarku pulang.
“Kamu kenapa? Sedang ada masalah?”. Tanya Adam di tengah
perjalanan melihatku yang terus bungkam. Mungkin dia mulai penasaran.
“Tidak, aku hanya lagi bad mood aja”. Jawabku agak ketus.
Sebenarya aku tidak bermaksud bersikap seperti itu padanya. Tetapi aku juga
tidak bisa mengontrol diriku. Adam memilih diam endengar sikapku yang
menandakan sedang tidak ingin di ganggu. Sisa perjalanan kita lewatkan dengan
kebisuan sampai tiba di depan pagar rumahku.
“Makasih ya udah mau aku ajak jalan”. Kata Adam sekali
lagi. “Lain kali mau kan kan kalau aku ajak jalan lagi? Besok boleh gak aku
main ke sini?”.
“Sorry Dam besok aku sudah ada rencana sama keluarga,
biasa family time. Lain kali kalau aku ada awaktu kita masih bisa jalan kok”.
“Oke, makasih ya sekali lagi”. Adam melemparkan senyum
tulusnya sebelum pergi. Aku masuk rumah dengan wajah yang masih tampak seperti
kain yang belum di setrika.
Sampai di kamar aku kembali membuka laptopku dengan
harapan Altan mengirimiku pesan lewat skype dan bilang i miss you padaku. Tapi
yang dapatkan justru pesan dari Jazz yang menanyakan keberadaanku.
“Aku baru sampai di rumah Jaz”. Balasku pada Jaz. Tidak
sampai setengah menit Jaz langsung memanggilku lewat video call.
“Hello baby, how your day?”. Tanya Jaz ceria.
“Not Good jaz”.
“Why? what happen baby?. By the way i miss your smile,
smile for me please”. Lagi-lagi Jaz merengek seperti anak kecil minta di
buatkan susu.
“Aku sedang tidak ingin becanda Jaz. Dan memintaku untuk
tersenyum di saat seperti ini adalah permintaan yang mustahil”.
“Altan lagi? Apa yang sudah dia lakukan padamu? Kenapa
kau tidak meninggalkanya saja?”. Jaz berubah kesal.
“Tidak semudah itu Jaz, aku sudah melakukan itu
sebelumnya tapi aku hanya bisa bertahan dua minggu”.
“Baby aku akan menjemputmu. Aku akan membuatmu
melupakanya, akan aku ajak keliling Singapore juga belanja”.
“Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku tidak bisa
meninggalkanya, aku masih dalam masa percobaan”.
“Altan?”. Tanya Jaz melihatku meraih Hanphone di sampingku
dan membacanya dengan serius.
“Bukan tapi Adam”. Kataku tanpa mengalihkan tatapanku
dari handphone.
“Siapa Adam? Apa yang dia katakan?”. Nampaknya rasa
penasaran Jaz tidak bisa di bendung lagi.
“Adam adalah pria yang aku katakan padamu kemarin. tiga
tahun lebih muda dariku dan juga yang barusan nonton denganku. Dia bilang dia
suka padaku”. Jawabku enteng namun detail.
“Kenapa diabilang suka padamu?”.
“Oh my God jaz. Haruskah kau tanyakan hal itu padaku? Mana
aku tahu kenapa dia menyukaiku? Kenapa kau tidak tanyakan langsung saja
padanya?”. Aku mulai kesal dengan sikap Jaz yang selalu ingin tahu.
“Oke Baby jangan marah. I am sorry, oke”. Jaz mengatupkan
kedua tanganya meminta maaf seperti anak kecil yang mau di hukum ibunya karena
membuat kesalahan tak termaafkan.
“Its oke”.
“Bgaimana dengan Althan? Apa dia sudah memperlakukanmu
dengan baik?”. Jaz mengalihkna pembicaraan melihat wajahku yang masih terlihat
kesal.
“Masih sama, dia masih cuek dan tidam mengirimiku pesan
apapun. Memang sih aku yang memintanya untuk membiarkan aku sendiri dulu tapi
setidaknya tidak bisakah dia bilang i miss you padaku?”. Aku semakin kesal tapi
kali ini pada Jaz melainkan pada Althan.
“Baby kalau kau memintanya tidak menghubungimu bagaimana
dia menghubungimu?”.
“Aku memang berkata seperti itu, tapi tidak bisakah dia
peka sedikit saja. Saat aku berkata jangan bukan berarti hatiku menyuruhnya
untuk menajauh, saat aku bilang baik-baik saja, hatiku sangat sakit”.
“Baby katakan apa yang ingin kau katakan, beritahu dia
apa yang kau inginkan. Bagaimana dia tahu kalau kau tidak memberitahunya apa
yang kau rasakan. Laki-laki bukan peramal yang bisa membaca hati dan pikiran
orang . dia adalah manusia biasa seperti pada umumnya”. Jaz tidak mengerti
dengan sikapku.
“Apa aku salah kalau menginginkan dia dan terlalu
berharap padanya? Aku selalu bilang kalau mecintainya dan menginginkanya. Apa itu
kurang?. Aku juga selalu bilang kalau aku selalu merindukanya setiap waktu. Apa
itu tidak ckup untuk membuatnya peka meskipun cuma sedikit. Aku sudah melakukan
yang terbaik yang aku bisa Jaz. Kenapa kau sekaran juga mengatakan hal yang
sama seperti dirinya?”. Aku merasa sudah putus asa. Tidak terasa air mataku
jatuh di pipi.
“Baby, I am sorry. Don’t cry oke. This is my fault”. Jaz terlihat
panik. Ia memegang kepalanya dan menarik rambutnya frustasi.
“Its oke, leave me alone now”. Kataku masih dengan air
mata mengalir. Jaz minta maaf sekali lagi sebelum mengakhiri obrolan kami. Wajahnya
nampak tidak rela untuk meninggalkanku yangmasih menangis.